
Ia kemudian membantu Keira untuk duduk di atas sebuah kursi, lalu ia menarik sebuah kursi lainnya dan duduk di atasnya, di samping gadis kecil tersebut.
"Keira, bagaimana jika kau tinggal bersamaku di kota besar?" tanyanya.
Keira yang masih menangis dengan pelan setelah mendengar pertanyaan itu lalu menatap Trea dengan bola mata yang berkaca-kaca kemudian bertanya, "Bukankah Bibi sibuk bekerja? Lalu bagaimana jika aku merepotkan Bibi?”
"Ah, Keira. Usiamu sudah enam tahun, dan kau seharusnya sudah sekolah, namun, di kota kecil ini tidak ada sekolah formal sama sekali. Sekolah seperti itu hanya ada di kota-kota besar. Nah, bagaimana jika kau sekolah pada pagi hari, lalu pada siang hari ketika aku sudah pulang bekerja, aku akan menjemputmu?" tanya Trea dengan senyum di wajahnya.
Keira terdiam untuk beberapa saat. Karena gadis kecil itu tampak masih ragu, Trea kemudian membelai lagi rambutnya perlahan.
"Keira, kedua orang tua angkatmu sudah menabung banyak untuk keperluan hidupmu, jadi, uang bukanlah masalah. Aku juga akan menjual toko minuman ini karena tidak mungkin ada yang bisa meneruskannya, sementara kau masih sangat kecil. Ikutlah bersama Bibi, ya, Keira? Lagi pula, kau harus tersenyum dan melanjutkan hidup," ucap Trea sambil berusaha untuk membujuk Keira.
Gadis kecil itu terdiam lagi untuk beberapa saat sambil menatap ke segala arah. Trea tahu bahwa anak itu sedang mengingat-ingat lagi kenangan bersama dengan orang tua angkatnya, dan jika Keira terus menerus berada di sana, ia bisa jadi tidak akan bisa melanjutkan hidupnya karena sedih yang berlarut-larut.
“Keira, kau harus menemaniku sekarang, ya? Aku dan dirimu, kita sama-sama hanya memiliki diri kita sendiri,” ujar Trea lagi.
Keira akhirnya setuju, ia mengangguk. Trea sangat senang tawaran itu akhirnya diterima oleh Keira. Mereka kemudian makan terlebih dahulu, kemudian membereskan toko minuman tersebut. Trea juga membantu Keira untuk membawa beberapa barang-barang pribadinya, karena gadis kecil itu akan tinggal bersama dengannya.
Ia juga akan segera menjual toko minuman tersebut dan akan langsung membawa Keira untuk tinggal bersamanya, di rumahnya sendiri yang berada di kota besar. Setelah selesai membereskan barang-barang milik Keira, Trea kemudian meminta gadis kecil itu untuk beristirahat terlebih dahulu karena ia hendak pergi menuju ke kantor walikota yang letaknya tidak jauh dari toko minuman tersebut.
__ADS_1
Ketika Keira sudah tertidur pulas, Trea lantas berjalan keluar sambil membawa sebuah dokumen, dan mengunci pintunya dengan tergesa-gesa, lalu begitu ia tiba di kantor walikota dan bertemu dengan seorang wanita pegawai yang bekerja di sana, ia langsung menjelaskan perihal keinginannya menjual toko minuman milik mendiang kakaknya tersebut.
Wanita pegawai itu agak sedikit terkejut dengan rencana Trea.
“Toko minuman itu sangat ramai dan hanya satu-satunya di kota kecil ini. Bukankah kau bisa meneruskannya?” tanya wanita tersebut.
Trea menggelengkan kepalanya sekali dan tersenyum, lalu menjawab, “Tidak bisa. Aku masih ada pekerjaan yang harus kulakukan di kota besar, dan kedua kakakku meninggalkan seorang anak perempuan bersama denganku.”
Wanita pegawai itu langsung mengangguk, kemudian berkata, “Aku sebenarnya sudah berkali-kali berkata kepada Eleina bahwa aku ingin membeli toko minuman milik mereka karena tertarik dengan keramaiannya, namun, Dairu tetap menolaknya. Ini adalah kesempatan yang baik, dan aku sangat tertarik untuk membelinya.”
Trea sangat senang karena ia langsung mendapatkan seorang pembeli. Setelah berdiskusi untuk beberapa saat, wanita itu akhirnya setuju dengan tawaran yang disampaikan oleh Trea. Ia bahkan setuju untuk memberikan langsung sejumlah uang kepada Trea dengan mengambilnya terlebih dahulu di loker uang miliknya, lalu menyerahkannya kepada bibi dari Keira tersebut.
“Baiklah, kalau begitu, terima kasih atas bisnis ini. Aku sangat senang akhirnya bisa membeli toko minuman itu, dengan uang yang sudah kukumpulkan sejak sekian lama,” ucap wanita tersebut.
“Terima kasih banyak, Nyonya. Semoga harimu menyenangkan. Aku akan segera keluar dari toko minuman itu hari ini juga,” balas Trea.
Bukan tanpa sebab sebenarnya. Trea harus segera kembali ke rumahnya yang berada di kota besar, karena ia hanya mendapatkan izin untuk berlibur selama empat hari. Setelah selesai melakukan transaksi jual beli toko minuman dengan wanita pegawai tersebut, ia kemudian keluar dari kantor walikota dan berlari untuk menjemput Keira.
Ia langsung membangunkan gadis kecil itu dan mengajak Keira untuk meninggalkan kota kecil tersebut untuk hidup bersamanya di kota besar.
__ADS_1
Mereka kemudian pergi meninggalkan toko minuman dengan membawa beberapa barang milik Keira, dan berjalan kaki hingga akhirnya menemukan sebuah halte bus yang memang hanya satu-satunya ada di pinggir kota kecil itu. Setelah menunggu beberapa saat, sebuah bus datang dan berhenti di depan halte, kemudian mereka masuk ke dalamnya dan duduk bersebelahan.
“Apakah kau sudah siap, Keira?” tanya Trea.
“Hmm, Bibi!” balas Keira, walaupun wajahnya masih terlihat sendu.
Mereka akhirnya meninggalkan kota kecil yang penuh dengan kenangan dan hutan yang indah, menuju ke kota besar yang gaya hidupnya jauh berbeda dari kota kecil tersebut. Beberapa kali mereka harus berganti bus agar tiba di tempat tujuan.
Setelah melakukan perjalanan selama seharian penuh, akhirnya mereka tiba di depan halte bus terdekat dengan rumah milik Trea yang terletak di kota besar tersebut. Begitu keluar dari dalam bus terakhir, Trea kemudian menggandeng Keira sambil berjalan dan membawa barang-barang milik gadis kecil itu, menuju ke rumahnya. Ia tinggal sendiri dan sangat senang ketika Keira mau ikut tinggal bersama dengannya.
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang tidak terlalu luas, namun memiliki dua tingkat. Keira langsung menghentikan langkahnya dan terkagum-kagum begitu ia melihat rumah tersebut.
“Bibi, ini adalah rumah dua tingkat yang besar!” serunya dengan senyum kecil di wajahnya.
“Pekerjaanku sebagai seorang kepala gudang sebuah pabrik makanan, sudah memberikanku gaji yang cukup hingga aku bisa menabung dan membeli rumah ini. Bukankah terlihat indah dari luar?” tanya Trea.
Keira mengangguk. Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan langsung membereskan barang-barang bawaan tadi. Keira akan tidur di lantai dua bersama dengan Trea, dan gadis kecil itu mendadak bersemangat setelah melihat kamar milik bibi angkatnya itu, yang menarik perhatiannya.
Setelah selesai mandi, mereka kemudian turun menuju ke lantai satu. Trea lalu memasak makan malam untuk mereka berdua, sementara Keira duduk di atas sebuah kursi sambil memperhatikan bibi angkatnya yang sedang memasak.
__ADS_1
Ini adalah malam pertama bagi Keira untuk tinggal di rumah bibi angkatnya dan hidup bersamanya. Trea berusaha untuk berbicara banyak tentang apapun kepada Keira, hanya agar gadis kecil itu tidak lagi mengingat-ingat tewasnya Eleina dan Dairu.