Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Tewasnya Sey


__ADS_3

"Karena kau sudah tahu rahasiaku, maka sebaiknya kau mati sekarang juga!!!!" seru wanita itu.


Kabut-kabut hitam tersebut mulai mencekik leher Sey dengan semakin kencang.


“Ahhh!!” teriaknya hingga ia tidak bisa berbicara sama sekali. Kedua matanya hanya bisa melotot menatap wanita itu.


Jantungnya mulai berdetak pelan hingga cadangan udara di dalam paru-parunya habis karena berusaha untuk bernafas, sementara kabut-kabut hitam itu mencekik lehernya dengan sangat kuat. Setelah beberapa saat, Sey akhirnya tewas, dan kabut-kabut hitam tadi langsung menghilang.


Wanita itu kemudian menurunkan tangannya, namun dari kejauhan, ia melihat seseorang sedang melesat ke arahnya. Ia lalu memicingkan kedua matanya, dan langsung bisa merasakan bahwa bahaya sedang mendekatinya.


"Sialan," serunya, lantas ia mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil yang langsung melesat dengan cepat di ruang hampa udara, menjauhi tubuh Sey yang kini sudah kaku.


yang kini, dan hanya melayang-layang di ruang hampa udara.


“Hei! Wanita itu!” seru pria yang sedang melesat ke arah Sey.


Ia mulai memperlambat lajunya, lalu berhenti tepat di depan sang Jenderal Senio dari Palladina itu dengan wajah yang sangat terkejut. Ia langsung meraih tubuh Sey dan mencengkram kedua bahunya.


"Sey! Hei, Sey! Xyon memintaku untuk mencarimu! Mengapa kau tertidur di sini, bodoh?!" tanya pria itu, yang rupanya adalah Weim, sambil mengguncang-guncangkan tubuh kaku Sey.


Karena Sey sama sekali tidak membalasnya, Weim kemudian menghentikan guncangannya. Ia lalu umemperhatikan tubuh kaku sahabatnya itu, lalu setelah beberapa saat, ia baru menyadari bahwa Sey sudah tewas.


“Sey? Sey!!” serunya dengan kedua bola mata yang kini terlihat berkaca-kaca.


Mendadak, tubuh kaku salah satu Jenderal Senior dari Palladina itu kemudian berubah menjadi debu-debu halus yang langsung menghilang begitu saja di ruang hampa udara. Weim sangat terkejut, ia bahkan mulai mengeluarkan air mata sambil melotot tajam ke depan.


“Tidak mungkin! Apa yang sudah terjadi pada Sey?! Mengapa ia tewas begitu saja di sini? Wanita itu! Iya, pasti wanita itu! Xyon! Aku harus melaporkan hal ini pada Xyon! Sey pasti sudah dibunuh oleh wanita tadi! Sialan!!” teriak Weim sambil mengepalkan kedua telapak tangannya dan menggeram.

__ADS_1


Ia lalu mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil, yang langsung melesat kembali menuju ke Planet Halida, dengan emosi yang berapi-api karena kematian dari salah satu sahabat dekatnya.


Di dalam Planet Halida, pesta pertunangan itu rupanya masih berlanjut. Xyon terlihat sedang berjalan menghampiri Keira yang duduk di atas sebuah bangku taman bersama dengan Higarashi di halaman belakang istana sambil menikmati langit sore men jelang malam yang indah.


Xyon lalu berdiri di samping Keira hingga mereka menoleh kepadanya.


“Arex dan Nordian sudah kembali terlebih dahulu karena mereka harus kembali berpatroli. Kau juga harus ikut denganku setelah pesta ini selesai, sampai hari pernikahanmu tiba,” ucapnya.


“Uh, Paman,” balas Keira dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.


“Maafkan aku, Yang Mulia Pangeran Mahkota. Aku harus membawa Keira kembali menuju ke Planet Palladina, untuk melatihnya menjadi seorang … Crossbreed yang sejati, tentu saja,” ujar Xyon kepada Higarashi.


Sang Pangeran Mahkota dari Halida itu kemudian berdiri, diikuti oleh Keira.


"Ah, baiklah, Perdana Menteri Xyon. Namun, apakah aku diperbolehkan untuk mengunjunginya di sana?" tanya Higarashi.


Keira kemudian menoleh ke arah Higarashi dan berkata, "Maafkan aku, Higarashi. Aku … akan menantikanmu di dalam Planet Palladina.”


“Ah, tentu saja. Aku akan sering berkunjung ke sana hanya untuk melihatmu belajar, sayang,” balas Higarashi.


Namun tiba-tiba, seorang pria terlihat sedang berlari ke arah mereka, dengan wajah yang panik dan air mata yang mengalir dari kedua matanya.


“Xyon!” teriak pria itu.


Xyon, Keira, dan Higarashi langsung menoleh ke arahnya, lalu terkejut begitu melihat wajah pria itu.


“Weim!” seru Xyon sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Pria itu, Weim, kemudian menghentikan langkahnya dan berdiri depan mereka, sambil berusaha untuk mengatur nafas yang berat dan menyeka air matanya.


“Xyon!” serunya dengan nafas yang berat, “Sey…! Sey….”


Wajah Xyon, Keira, dan Higarashi langsung berubah menjadi kepanikan karena Weim justru tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena kesedihan yang mendalam, dan wajahnya sangat jelas menunjukkan hal itu.


Sang Perdana Menteri dari Palladina tersebut tiba-tiba mencengkram kedua bahu Weim, lalu berkata sambil melotot, “Aku memintamu untuk mengejar Sey dan membawanya kembali ke Planet Palladina, lantas mengapa kau hanya kembali sendirian?! Ada apa dengan Sey?!”


Weim langsung menatap lurus Xyon dan menjawab, "Sey sudah tewas, Xyon!!"


Keira langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, demikian juga Higarashi yang juga ikut melotot tajam ke arah Weim karena terkejut dengan kabar buruk itu.


"Jenderal Senior Sey, tewas? Tidak mungkin. Apa maksudmu, Jenderal Senior Weim?!" tanya Higarashi dengan wajah yang mulai panik.


“Apakah Paman Sey dibunuh oleh salah satu dari para Silverian? Apakah wanita tadi adalah seorang Silverian?” tanya Keira sambil perlahan menurunkan kedua tangannya, namun, badannya mulai terlihat gemetar.


“Weim, kau pasti salah orang!” seru Xyon dengan kedua mata yang memerah kali ini, sambil mencengkram kedua bahu bawahannya itu dengan semakin erat.


Karena kesal, Weim kemudian menggenggam kedua lengan Xyon dan berseru, "Sey … sudah tewas! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, ia sudah tewas ketika aku tiba di sana, di ruang hampa udara, di luar angkasa, dan tubuhnya sudah terurai menjadi debu, sementara wanita itu melarikan diri!”


Seruan itu membuat Xyon, Keira, dan Higarashi menjadi lemas. Sang Perdana Menteri dari Palladina tersebut bahkan melepas cengkramannya dari kedua bahu Weim, sambil masih melotot ke depan.


“Apakah … kutukan itu benar-benar nyata dan sedang terjadi, Paman Xyon?” tanya Keira yang kini memeluk dirinya sendiri karena ketakutan.


"Tidak mungkin …," ucap Xyon sambil menatap lagi ke arah Weim, lalu ia bertanya, "siapa yang sudah membunuh Sey?! Tidak mungkin! Aku … mengira ia hanya sedang pergi ke toilet ketika ia tiba-tiba berlari keluar!”


Weim langsung mencengkram kedua bahu Xyon dengan erat kali ini, lalu berkata pelan, "Xyon, aku sudah mencari-cari Sey di sekitar istana ini, dan tidak menemukannya! Lalu, aku berpikir mungkin ia mungkin kembali ke Planet Palladina sehingga aku memutuskan untuk keluar dari planet ini, kemudian dari kejauhan, aku melihat seorang wanita sedang bersama dengan Sey di luar angkasa! Namun, begitu aku tiba di sana, ia sudah … sudah …."

__ADS_1


__ADS_2