
Keesokan harinya, Trea berusaha untuk mencarikan sekolah yang bagus dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, untuk Keira, dengan meminta izin libur satu hari kepada atasannya. Setelah mendatangi beberapa sekolah, akhirnya Trea memutuskan untuk menyekolahkan Keira di sebuah sekolah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya dan uang masuk yang tidak begitu mahal, serta memiliki guru-guru yang handal.
Setelah mendaftarkan Keira di sana, Trea memang harus menunggu tahun ajaran berikutnya agar gadis kecil itu bisa masuk sekolah. Selama menunggu sampai tiba waktunya Keira masuk sekolah, Trea selalu mengajarinya untuk membaca dan menulis, jika ia memiliki waktu luang setelah bekerja.
Keira kini tidak lagi merasa sedih setelah kehilangan kedua orang tua angkatnya karena kini ia disibukkan dengan kegiatan belajar seperti membaca, menulis dan menggambar, yang semua diajarkan langsung oleh bibi angkatnya.
Waktu terus berjalan hingga Keira akhirnya masuk sekolah di tahun ajaran yang baru. Trea bahkan menyempatkan diri untuk mengantarkan gadis kecil itu di hari pertamanya masuk sekolah. Untuk beberapa waktu, Trea memang mengantarkannya menuju ke sekolah pada pagi hari setelah mereka selesai menyantap sarapan, lalu menjemputnya pada siang hari setelah ia selesai bekerja.
Namun, seiring waktu dan Keira semakin bertambah usianya, kini ia akan pergi sendiri tanpa diantar, menuju ke sekolah, ataupun dijemput oleh Trea untuk pulang, kembali ke rumah. Keira semakin mandiri. Ia bahkan sudah bisa memasak beberapa masakan untuk dirinya sendiri jika bibi angkatnya terlambat pulang bekerja pada hari itu.
Begitu seterusnya hingga tanpa disadari, dua belas tahun sudah mereka lewati bersama. Trea masih menyayangi Keira yang kini sudah berubah menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun. Gadis itu bahkan sekarang sudah berada di tingkatan terakhir sekolahnya.
Sayangnya, walaupun Keira sering bercerita apapun kepada Trea, ada satu hal yang tidak ia bicarakan, yakni perundungan yang ia dapatkan dari teman-temannya di sekolah, selama bertahun-tahun lamanya.
Walaupun di dalam rumah, Keira terlihat sangat ceria, namun, begitu ia tiba di sekolah, wajah ceria itu berubah menjadi wajah yang sedih, datar, dan tatapan mata yang kosong, serta mulut yang selalu terkunci jika tidak ada hal penting yang harus dibicarakannya.
Pada suatu hari, di siang hari yang terik ketika orang-orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan anak-anak belum terlihat pulang dari sekolah, Trea tampak sedang berlari menuju ke rumahnya dengan wajah yang panik dan tergesa-gesa.
"Astaga dokumen itu tertinggal lagi! Sore ini pasti manajer akan mempertanyakannya! Astaga!" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Begitu tiba di depan pintu, ia dengan tergesa-gesa meraih kunci yang ada di dalam saku celananya dan membuka pintunya, lalu masuk ke dalam dan mulai berjalan menuju ke ruang tamu, mencari-cari sebuah dokumen yang ia sendiri lupa di mana letaknya, mulai dari sofa, lemari kecil, hingga di bawah meja, namun ia sama sekali tidak menemukannya.
Karena kelelahan, ia hanya bisa berdiri di depan sofa dan mulai bergumam lagi, "Astaga kemana dokumen itu? Apakah Keira yang meletakkannya di sembarang tempat?”
"Di sini," ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul dan berdiri di belakangnya dengan jarak yang dekat.
Trea langsung menoleh ke belakang, dan sangat terkejut begitu ia melihat seorang pria berambut abu-abu dengan bola mata emas, sedang berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat sedang memegang dokumen yang sedang dicarinya sejak tadi di tangan kirinya, dan sebuah pedang kosmik panjang berwarna hitam di tangan kanannya. Pria itu juga mengenakan topeng berwarna hitam sehingga yang terlihat hanyalah kedua matanya saja.
“Tuan, siapakah anda? Sejak kapan anda sudah berada di sini?” tanya Trea dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan.
Pria itu lalu tersenyum sinis kepada Trea, kemudian berbisik, “Seharusnya kau tidak membawa pergi gadis itu dari sana. Mengapa kau membuatku kesulitan untuk mencarinya?”
Dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya, Trea lalu bertanya, “Apa maksudmu, Tuan?”
Ia lalu mengayunkan pedang kosmiknya ke arah Trea, dan ujung pedang kosmik itu langsung merobek dada wanita tersebut.
“Ahhh!” seru Trea sambil menahan rasa sakitnya.
Ia kemudian tersungkur di atas lantai tanpa bisa berkata apapun lagi, namun, kedua matanya melotot tajam ke arah pria itu.
"Tatapan apa itu?! Berani sekali dirimu!" seru pria tersebut, lalu dengan cepat, ia menusuk dada Trea dengan pedang kosmiknya dan setelah beberapa detik, ia mencabut pedang kosmik itu, hingga wanita tersebut akhirnya tewas seketika.
__ADS_1
Tubuh Trea kini tergeletak di atas lantai dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi. Dengan senyum sinis yang lebar, pria misterius itu kemudian menghela nafas pendek.
“Nikmatilah kesendirianmu, Keira. Dengan begitu, kau mau tidak mau harus ikut bersama denganku. Jadilah milikku dan kita akan bersama-sama menjadi penguasa galaksi … tidak, hanya aku. Ya, hanya aku. Kau akan menjadi mesin pembunuh yang handal, agar aku bisa membalaskan semua dendamku kepada para Palladina bodoh itu,” gumamnya pelan.
Kabut-kabut hitam kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya, dan ia tiba-tiba menghilang begitu saja entah ke mana.
Beberapa jam kemudian, Keira terlihat sudah tiba di depan rumah setelah kembali dari sekolah. Ia kemudian melihat sepatu milik bibi angkatnya, yang tergeletak begitu saja di depan pintu rumah. Bahkan, pintunya sendiri terbuka sedikit, tidak dalam keadaan terkunci.
"Ah, apakah bibi baru saja pulang?" gumamnya pelan.
Begitu ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah dan meletakkan tas di atas sofa kecil yang terletak di samping pintu masuk, ia lantas tersenyum sambil berteriak, "Bibi!"
Namun, ia langsung melihat tubuh Trea yang sudah berlumuran darah dan terbujur kaku di atas lantai. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi kepanikan, dan matanya melotot tajam.
"Bibi!!!" teriaknya, kemudian ia berlutut sambil menangis dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Apa yang sudah terjadi? Bibi? Bibi?” gumamnya dengan tubuh yang gemetar.
Tiba-tiba saja dua orang pria datang dan berdiri di belakangnya, kemudian melihat tubuh Trea yang sudah terbujur kaku di atas lantai dengan penuh darah serta luka sayatan dan luka tusuk pada bagian dadanya. Mereka berdua melotot dan terkejut setelah melihat hal itu.
"Sialan," seru salah satu dari pria itu, "Kita terlambat satu langkah, Xyon!"
__ADS_1
“Rupanya pria Silverian itu lebih cepat daripada yang kita duga, Arex. Lingkungan di sekitar sini sangat sepi pada siang hari, jadi ia bisa dengan mudah menghabisi nyawa wanita itu, benar-benar sialan!" balas pria yang satunya lagi, Xyon, yang datang bersama dengan Arex.
Keira langsung menoleh ke belakang dan menatap mereka berdua dengan mata yang memerah. Mendadak, ia justru berdiri dan dengan cepat mengambil sebuah payung yang ada di samping pintu, dan mengarahkan ujung payung tersebut ke arah mereka.