
Keira langsung menggelengkan kepalanya sekali, kemudian membalas, “Ah, maafkan aku, Paman.”
"Baiklah, jika tinggal di sana bisa membuatmu nyaman. Jadi, apa yang bisa kubantu?" tanya Perdana Menteri dari Palladina itu.
"Paman, aku tidak ingin membawa perawat dari planet mana pun. Aku hanya ingin merawat kedua anakku sendiri. Aku memberitahukan hal ini kepadamu saja, agar kau tidak mempertanyakan keberadaanku lagi, karena esok pagi, aku akan segera pergi dari Planet Halida," jawab Keira.
"Apakah … kalian sudah memutuskan untuk bercerai?" tanya Xyon lagi sambil mengernyitkan dahinya.
Keira tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, dan senyumannya itu membuat Xyon kebingungan.
“Keira, apakah Higarashi berkata sesuatu tentang Viora? Aku berharap kalian jangan seperti ini, walaupun aku memang pernah meminta kalian untuk bercerai,” ujar Xyon dengan wajah yang sendu.
"Aku tidak takut kepada wanita bernama Meteorix itu. Entah apakah ia adalah Viora, Meteorix, seorang Ruthenia atau Blackerian, tetap saja kekuatannya tidak akan bisa mengalahkanku. Materi gelap itu tidak sebanding dengan antimateri, bukan? Aku yakin kau akan membantuku untuk mencari banyak informasi tentang mereka. Aku sangat berharap banyak darimu, Paman,” balas Permaisuri dari Halida tersebut dengan nada serius, “kalau begitu, aku akan kembali terlebih dahulu.”
Keira hendak melangkah keluar dari ruangan itu, namun langkahnya terhenti begitu Xyon membalas ucapannya, "Kau sedang merencanakan sesuatu. Aku tidak akan bertanya rencana apa yang ada di dalam pikiranmu, namun, aku akan memercayaimu."
"Terima kasih, Paman," balas Keira tanpa menoleh, kemudian ia berjalan keluar, meninggalkan Xyon sendiri di sana.
"Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan?" gumam Xyon pelan sambil menatap punggung Keira yang kini sudah jauh darinya.
Keesokan harinya, beberapa pelayan perempuan dari istana kerajaan Halida, terlihat sibuk memasukkan banyak barang ke dalam sebuah kereta antar planet. Setelah selesai dengan barang-barang itu, kini giliran Keira dan kedua bayi laki-lakinya yang sedang tertidur nyenyank di dalam kereta bayi, untuk masuk ke sana.
Higarashi tampak mengantarkan anak-anak dan istrinya itu, dan dengan wajah yang sedih, ia tiba-tiba meraih lengan Keira hingga perempuan berambut biru tua tersebut menghentikan langkahnya. Mereka kini saling menatap satu sama lain, namun wajah Keira justru terlihat datar.
“Keira, apakah kau serius dengan hal ini?” tanya Raja dari Halida itu pelan.
Keira lalu menatap suaminya itu dengan wajah yang tegas dan menjawab, “Aku benar-benar serius, Higarashi.”
__ADS_1
Higarashi langsung mencengkram erat lengan Keira, lalu berbisik, “Kau bisa melakukan Memovilate kepadaku jika kau …,” namun Keira memotongnya dengan berkata, “Bertahanlah sedikit lagi. Aku berjanji semua ini akan berakhir secepatnya.”
“Keira, apa maksudmu?!” tanya suaminya itu sambil mengernyitkan dahi.
Keira tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu kembali melangkah masuk ke dalam kereta antar planet tanpa Higarashi. Begitu semuanya sudah siap, alat transportasi itu kemudian melesat ke atas langit dengan sangat cepat.
“Mengapa senyuman darinya kini terasa dingin?” gumam Higarashi sambil menunjukkan kekecewaan di wajahnya.
Sementara itu di dalam istana kerajaan Palladina, Xyon, Arex, Weim, dan Nordian terlihat berada di halaman belakang istana bersama dengan Aerim yang baru saja mengunjungi anaknya, Reix. Wajah mereka terlihat sangat serius, bahkan Weim serta Arex tampak menyilangkan kedua lengan mereka, dan Xyon yang berdiri sambil menatap Aerim dengan sorot mata tajam.
“Apakah kau yakin dengan apa yang kau dengar, Aerim?” tanya Arex.
“Hei, aku masih muda, tidak seperti dirimu, dasar jenderal tua! Keira dan Higarashi tidak sedang baik-baik saja. Aku bahkan bisa mendengar suara logam dari sebuah pedang kosmik!” jawab Aerim tegas.
“Higarashi sudah keterlaluan!” seru Weim dengan wajah yang kesal.
“Apa yang sudah Higarashi lakukan untuk Keira selama ini selain menggodanya? Astaga! Keira bahkan mengorbankan dirinya sendiri untuk membuat Azure Shield bagi Planet Halida!” ujar Nordian dengan nada tinggi.
“Aku akui bahwa aku adalah orang yang membunuh ibu kandung Higarashi ketika kami menyerang Planet Halida, dan yang mengejutkanku adalah, mendiang Yang Mulia Permaisuri itu dengan jelas berkata bahwa ia menikahkan Higarashi dengan Keira, hanya karena ia adalah seorang Crossbreed. Aku rasa kalian sudah mengerti maksudnya!” seru Aerim dengan wajah yang tampak kesal.
“Jadi, apakah mereka merestui Higarashi dan Keira menikah demi keuntungan diri mereka sendiri?” tanya Weim.
“Ah, rupanya begitu. Mereka pikir Keira akan melindungi Planet Halida dan Higarashi dengan kekuatan kosmik yang dimilikinya. Ya, aku rasa mereka juga merasa ketakutan akan serangan dari kalian, para Silverian, pada waktu itu,” balas Nordian.
“Sialan, pantas saja Higarashi mati-matian mempertahankan Keira agar bisa menikah dengannya!” ucap Aerim sambil menepuk kedua tangannya.
__ADS_1
Xyon langsung tersenyum sinis setelah mendengar semua itu. Ia lalu menatap Aerim dengan wajah yang datar sambil menghela nafas pendek.
“Kalian semua memiliki pemikiran yang menarik. Namun bukan itu masalahnya di sini. Sekarang yang pasti adalah kita tidak tahu mengapa Blackerian bernama Meteorix itu mengganggu kehidupan mereka, dan Keira akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Higarashi, walaupun mereka tidak bercerai secara resmi,” balas Perdana Menteri dari Palladina tersebut.
Mereka semua terdiam. Lalu tiba-tiba, seorang pelayan pria terlihat berlari dengan tergesa-gesa hingga mereka menoleh ke arahnya.
“Astaga, mengapa semua orang yang ada di sini selalu berlari dengan terburu-buru?!” gumam Xyon dengan wajah yang tampak kesal.
Pelayan itu kemudian berhenti dan berdiri di hadapan Xyon, lalu membungkukkan badannya untuk beberapa saat, dan kembali berdiri tegak sambil berkata, “Perdana Menteri! Yang Mulia Raja dari Halida sedang berada di dalam ruang utama!”
“Untuk apa pria itu berada di sini?” tanya Weim dengan nada tinggi.
“Kalian semua tidak perlu mengikutiku. Aku akan segera menemuinya,” balas Xyon.
Ia lantas berjalan menuju ke ruang utama bersama dengan pelayan pria tadi. Aerim, Weim, Arex, dan Nordian hanya bisa terdiam karena ia tidak mengizinkan mereka untuk mengikutinya. Xyon akhirnya tiba di dalam ruang utama. Ia langsung menoleh ke arah Higarashi yang rupanya sedang berdiri di tengah-tengah ruangan tersebut.
“Pergilah,” bisik Xyon, dan pelayan pria itu langsung berbalik arah, berjalan keluar dari ruang utama.
Xyon kemudian mendekati Higarashi yang kini menatapnya dengan tatapan tajam, lalu berdiri di hadapannya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
"Perdana Menteri Xyon," ucap Higarashi yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Higarashi. Aku sudah mendengar semuanya dari Aerim," balas Xyon.
"Ah, pria itu, selalu saja berbicara ke sana dan ke sini. Baiklah, aku akui bahwa aku memiliki sedikit perasaan kepada wanita yang bernama Viora itu," ujar Higarashi.
"Namun ia bukan Viora, Higarashi. Nama aslinya adalah Meteorix, dan ia adalah seorang Blackerian," ucap Xyon dengan nada yang sedikit tinggi.
__ADS_1
Higarashi mengangguk, kemudian ia berkata, “Baiklah, terserah.”
Ia lalu merogoh saku celana kanan, mengambil sebuah buku kecil dari dalamnya. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Xyon. Perdana Menteri dari Palladina itu langsung menatap benda tersebut dan mengambilnya dari tangan Higarashi. Xyon lantas memperhatikan buku dengan sampul yang berwarna hitam itu dengan tatapan tajam.