
"Terima kasih sudah memperhatikan kami, Jenderal," ucap Nordian, sambil menahan tangis.
"Kami sangat berterima kasih kepada Anda," balas Weim dengan wajah bahagia.
"Terima kasih, Jenderal!" seru Arex dan Sey juga, bersamaan.
Mereka kemudian berdiri, lalu dengan senyum kecil, Arex lantas berkata kepada Xyon, "Jenderal, kami tinggal di dalam sebuah gedung penampungan anak sudah sejak lama, yang letaknya tidak jauh dari istana. Kami adalah anak-anak yang tidak diharapkan, dan tidak diinginkan oleh orang tua kami karena alasan tertentu.”
“Aku bahkan mendengar dari pengurus gedung itu, jika kami adalah anak-anak yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua kami, karena Wormbye yang digunakan ternyata bermasalah, ataupun dokter yang tidak memiliki keahlian yang baik,” ucap Nordian.
"Kami sebenarnya sudah cukup usia untuk meninggalkan tempat tersebut, namun, karena tidak ada yang mau mengeluarkan kami dari sana, kami berpikir untuk mengikuti kelas gratis yang diadakan oleh Jenderal Senior Derix, di luar istana," balas Weim.
"Kami mulai mengikuti kelas itu dan berpikir untuk masuk ke dalam istana, menjadi prajurit penjaga galaksi. Pada akhirnya, kami keluar sana, dan di sini kami sekarang, Jenderal," ujar Sey dengan wajah yang sendu, "Kami bahkan sangat menyukai Anda, Jenderal Xyon, yang berhasil menjadi seorang jenderal dengan nilai tertinggi dan termuda di antara peserta-peserta ujian kerajaan kemarin.”
Xyon menghela nafas panjang setelah mendengarkan cerita yang sedih itu, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Baiklah, aku akan berusaha adil kepada prajurit-prajurit lainnya, namun, jika kalian membutuhkanku, jangan ragu untuk bertanya. Lagi pula usia kita tidak terlalu jauh, dan aku tidak begitu menyukai panggilan formal. Panggil saja aku dengan namaku sendiri. Latihan kalian akan dimulai besok, kembalilah sekarang," ucap Xyon dengan wajah tegas kali ini.
"Baik, Jenderal!" seru keempatnya secara bersama-sama, lalu mereka menundukkan kepala, dan pergi meninggalkan Xyon sendiri di sana.
__ADS_1
Jenderal muda itu lantas menatap punggung mereka dengan wajah yang kesal.
"Tidak kusangka bahwa ada juga makhluk immortal yang berperilaku layaknya manusia mortal. Anak-anak yang tidak bersalah akan selalu menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya. Namun, para prajurit dan jenderal yang tinggal di dalam istana kerajaan Palladina, bukanlah orang-orang yang bertugas untuk menghukum orang tua seperti itu. Para pejabat yang adalah penegak hukum di Pengadilan Tertinggi yang seharusnya bertindak. Ayah dan Ibu sepertinya benar, pengetahuanku tentang alam semesta ini masih sangat terbatas," gumamnya pelan.
Ia kemudian berjalan masuk ke dalam istana. Langit biru Planet Palladina yang disinari cahaya dari bintang induknya, Goldinian, rupanya menyembunyikan banyak kisah dan cerita yang tidak disangka-sangka. Tentu tidak ada yang mengira bahwa Nordian, Arex, Sey, dan Weim adalah anak yang dibuang oleh orang tua mereka.
Enam tahun dengan cepat berlalu, meninggalkan banyak kenangan dan kerinduan yang sampai saat ini belum bisa tersampaikan. Karena kesedihan yang mendalam akibat tidak bisa bertemu dengan Hyerin, Xyon akan selalu mencari kesibukannya sendiri.
Ia bahkan berhasil lulus dalam ujian sekolah kerajaan dengan nilainya tertinggi, namun ia sama sekali tidak bahagia dengan hasil tersebut. Hyerin terus menerus memenuhi pikirannya, hingga Xyon tidak bisa tidur pulas setiap malam.
Ia memang sangat rajin dan tekun dalam setiap tugas yang diberikan kepadanya, tanpa ada hari untuk beristirahat, ia akan selalu mengajar prajurit-prajurit baru dari pagi sampai sore hari. Pada malam harinya, ia akan secara khusus mengajar Nordian, Weim, Arex, dan Sey, hanya karena kesepian. Mereka akhirnya menjadi sangat dekat satu sama lain.
“Percuma saja Ayah memberikanku begitu banyak tugas dan patroli galaksi, karena … Hyerin tidak bisa hilang dari ingatanku,” gumam Xyon di dalam pikirannya ketika ia sedang duduk di halaman belakang istana dengan langit malam yang penuh bintang, sendirian.
Pada suatu hari, Xyon sedang terlihat berada di halaman belakang istana sendirian, sambil beristirahat di bawah pohon besar yang sejuk.
Seorang pria tampak sedang berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya. Pria itu kemudian duduk di sebelah Xyon hingga Jenderal muda itu menundukkan kepala untuk memberikan hormat kepadanya.
"Yang Mulia,” ucap Xyon pelan.
"Xyon," balas pria itu, Arnea, sambil mengambil nafas dalam-dalam karena kelelahan setelah berlari ke sana dan kemari.
“Apakah ada yang bisa kubantu, Yang Mulia?” tanya Jenderal muda itu.
"Ayah dan Ibu sangat khawatir memikirkanku," jawab Arnea dengan wajah gusar.
Xyon kemudian menatap Arnea dengan wajah yang serius dan bertanya lagi, "Apa yang dicemaskan oleh Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri terhadap Anda?"
__ADS_1
"Ah, begini, aku dan Klara sudah menikah selama enam tahun namun belum juga diberikan keturunan. Itulah yang mereka cemaskan," balas Arnea sambil mengelus wajahnya sekali.
"Lalu, Yang Mulia?" tanya Xyon lagi.
"Lagi pula, Ayah sendiri yang memberikanku tugas sebanyak itu hingga larut malam!" seru Arnea dengan wajah yang kesal.
"Karena Anda adalah penerus satu-satunya kerajaan ini, bukan?" balas Xyon dengan wajah datar.
Arnea langsung menghela nafas panjang, lalu berkata, "Ah, Xyon, bagaimana jika kau menemani kami ke Planet Bumi? Aku sudah meminta izin kepada Ibu untuk setidaknya diperbolehkan berlibur, hanya tiga hari saja. Jadi aku bisa berdua dengan istriku.”
“Mengapa Anda tidak menggunakan Wormbye?” balas Jenderal muda itu.
“Wormbye? Aku belum siap, Xyon. Aku hanya ingin bersenang-senang terlebih dahulu. Memiliki anak adalah hal berat, bukan?” tanya Arnea sambil mengernyitkan dahinya.
"Jenderal Senior Derix tidak akan memperbolehkanku untuk kembali ke sana," ucap Xyon tanpa ekspresi di wajahnya.
"Tidak mungkin! Apakah ia sudah berani melawan perintahku?! Atau apakah ia mau menjagaku dan istriku di sana, menggantikan posisimu sebagai pengawal pribadiku?!" seru Arnea tiba-tiba dengan nada tinggi.
Xyon kini menghela nafas pendek, kemudian menggelengkan kepala sekali dan membalas, "Lagi pula, Anda hanya akan berdua saja, Yang Mulia.”
"Xyon, tidak. Aku harus membawamu, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu kepadaku atau istriku," balas Arnea dengan bola mata berkaca-kaca.
"Namun, Yang Mulia, galaksi ini sangat damai. Hanya sedikit alien dari alam semesta lain yang terkadang membuat kekacauan di ujung galaksi, bukan?" ucap pengawal pribadinya tersebut.
Arnea langsung menjadi kesal karena ucapan tersebut.
"Kau tidak akan pernah mengetahui betapa kesepiannya diriku. Klara sebelumnya adalah Yang Mulia Putri Osmia, sebelum menjadi istriku. Ia lebih suka pergi ke planet asalnya, dan aku di sini sibuk melatih beberapa prajurit muda, sepertimu. Jenderal Xyon, kau adalah temanku satu-satunya, jadi aku sangat berharap kau bisa ikut bersamaku, agar aku memiliki alasan kuat untuk keluar dari sini sebentar," seru sang Pangeran Mahkota dengan ekspresi wajah yang mulai sendu.
__ADS_1