
Setelah berganti bus untuk beberapa kali, mereka akhirnya tiba di sebuah halte yang dekat dengan pantai. Begitu bus terakhir yang mereka tumpangi berhenti di sana, keduanya langsung keluar dan dengan penuh semangat, berlari menuju ke pantai.
“Hari yang cerah!” seru Keira dengan wajah yang gembira.
Mereka terus berlari hingga ke tepi pantai, dan mulai bermain dengan air laut. Tentu saja Higarashi dan Keira tidak perlu repot membawa barang pribadi, karena … Star Baton adalah tempat penyimpanan yang mudah diakses di mana pun mereka berada.
Setelah beberapa waktu, mereka lalu berjalan hingga ke pinggir pantai dan bermain dengan pasir. Liburan yang sangat menyenangkan, karena mereka hanya berdua dan seluruh masalah yang ada di dalam kepala, sementara bisa menghilang begitu saja.
Namun, dari kejauhan, Higarashi tidak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan kosong, yang terletak di sebelah restoran satu-satunya di pantai itu. Ia tiba-tiba saja berhenti bermain pasir, lalu menatap Keira dengan wajah yang gusar.
“Huh, ada apa, Higarashi?” tanya Keira sambil membalas tatapan mata suaminya itu dengan wajah yang kebingungan.
“Aku akan pergi sebentar, ke sana. Tunggulah aku di sini, jangan pergi ke mana pun,” jawab Higarashi sambil menunjuk ke arah bangunan kecil yang sebenarnya adalah ruang istirahat bagi para penjaga pantai.
“Ah, baiklah, aku akan berada di sini,” jawab Keira, walaupun ia sendiri sebenarnya curiga dengan permintaan suaminya itu.
Higarashi lalu mengangguk, kemudian berdiri, dan dengan cepat, ia berlari menuju ke arah bangunan kecil itu, meninggalkan Keira sendirian.
“Ada apa di sana, sebenarnya? Apakah para Silverian itu sedang berada di sini?” gumam perempuan berambut biru tua itu pelan.
Keira memutuskan untuk terus bermain dengan pasir, namun tiba-tiba, seseorang berdiri di sampingnya. Ia kemudian menoleh ke samping, lalu berdiri, dan tersenyum kepada orang itu, seorang pria dengan rambut berwarna abu-abu dan bola mata emas.
“Ah, kau adalah penjaga pantai yang menyelamatkanku waktu itu!” seru Keira.
“Ah, rupanya Anda masih ingat. Nona, perkenalkan sekali lagi, namaku Aerim,” balas pria itu, yang rupanya adalah Aerim, sambil memberikan tangan kanannya kepada Keira.
“Aerim? Aku Keira, istri dari Higarashi, salam kenal juga!” balas Keira sambil meraih tangan Aerim, kemudian menjabatnya.
“Ah, Nyonya Higarashi rupanya,” ujar Aerim, lalu setelah itu, ia melepaskan tangan Keira dan bertanya, “namun, aku adalah teman Higarashi di kelas yang sama, mengapa ia tidak mengundangku ketika ia menikah?”
Namun tiba-tiba saja, Keira teringat akan sesuatu ketika ia memperhatikan kedua bola mata Aerim agak lama.
__ADS_1
“Pria ini pernah … mencium … bibirku, selain Higarashi!” seru Keira di dalam hatinya.
Wajahnya mendadak berubah menjadi merah dan kedua matanya melotot saat itu juga, sehingga Aerim menjadi kebingungan dibuatnya.
“Uh, Nyonya?” ucap Aerim, kemudian ia mendekatkan wajahnya kepada Keira dan bertanya, “Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku?”
Namun tampaknya Keira masih terdiam sambil menatapnya, sehingga ia memutuskan untuk mengayunkan tangan kanannya di hadapan perempuan berambut biru tua itu.
“Nyonya?! Nyonya?!” seru Aerim.
Sementara itu, Higarashi yang kini sudah berada di dekat bangunan kecil tersebut, kemudian berusaha untuk mengintip ke dalam, dari balik jendela yang terletak di sebelah pintu.
“Huh? Tidak ada siapa pun di sini!” serunya, “Namun, aku yakin sekali bahwa aku sudah melihat seorang wanita berjalan ke arah bangunan ini, dan ia tampak seperti … Demira!”
Ia lalu menghela nafas panjang, kemudian kembali mengintip ke dalam. Sayangnya, benar-benar tidak ada orang sama sekali yang berada di sana. Higarashi lalu mengernyitkan dahinya.
“Apa … jangan-jangan, aku sudah terlalu lelah bermain di pantai?” gumamnya.
“Keira?” gumamnya lagi, “Siapa pria itu? Apakah Aerim?”
Higarashi lalu berlari ke arah istrinya dengan wajah yang terlihat penuh kecurigaan dan kecemburuan. Aerim sendiri terlihat masih berusaha untuk menyadarkan Keira dari khayalannya.
“Nyonya?! Apakah anda baik-baik saja?” tanya Aerim dengan wajah yang terlihat panik.
Setelah beberapa saat, akhirnya Keira tersadar, lalu ia menatap Aerim dengan bola mata yang berkaca-kaca.
“Tuan … Aerim?” ucap Keira pelan.
Wajah Aerim memerah begitu ia mendengar namanya disebut oleh perempuan yang dicintainya itu.
“Oh, tidak,” ujar Keira lagi sambil menggelengkan kepalanya dua kali, lalu melanjutkan, “maafkan aku, astaga, aku terlalu banyak berkhayal sejak tadi!”
__ADS_1
Higarashi yang sudah sejak tadi berlari, kini sudah berdiri di samping Keira sambil menatap ke arah Aerim dengan sorot mata yang tajam. Tentu saja kedatangan Higarashi membuat Keira dan Aerim terkejut. Mereka bahkan menatap sang Raja dari Halida itu dengan wajah yang terlihat panik.
“Aerim?” seru Higarashi.
“Higarashi? Astaga, apakah kalian berdua sedang berlibur?!” tanya Aerim berpura-pura untuk tidak mengetahui apapun, namun ia melanjutkan, “Ah, selamat atas pernikahanmu! Istrimu baru saja memberitahukannya kepadaku. Namun, mengapa kau tidak mengundangku? Padahal, aku ingin sekali melihatmu dalam pakaian formal!”
“Terima kasih atas ucapannya,” jawab Higarashi sambil masih menatap tajam Aerim, namun, ia lalu memperhatikan lengan kiri pria itu.
Luka sayatan tersebut masih membekas di lengan kiri Aerim dan entah mengapa, Higarashi sangat mencurigainya.
“Tidak ada orang lain yang bisa melakukan Healing Renovatio selain para wanita dari Palladina,” gumamnya di dalam hati.
“Ah, kalau begitu, aku akan kembali menuju ke tempatku. Nikmatilah liburan kalian di pantai ini! Mohon maaf sudah mengganggu istrimu, Higarashi. Sampai berjumpa kembali!” seru Aerim, kemudian ia berjalan meninggalkan mereka, menuju ke pos penjaga pantai.
Higarashi terus menatap Aerim dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang curiga, sehingga Keira harus menepuk bahunya untuk menyadarkan sang suami.
“Higarashi?” ucap Keira.
Sang Raja dari Halida itu langsung menoleh ke arah istrinya dan bertanya, “Oh, iya, ada apa, sayang?”
“Kau tidak sedang cemburu, bukan? Mengapa kau menatapnya seperti itu? Maafkan aku, tapi … aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi,” ucap Keira.
“Cemburu?!” seru Higarashi dengan wajah yang memerah, kemudian ia melanjutkan, “Ah, tidak, Keira, tidak. Aku hanya memperhatikan bahwa menjadi seorang penjaga pantai seperti Aerim pasti sangat susah sehingga lengan kirinya terluka.”
“Ah,” gumam Keira, lalu ia mengangguk.
Higarashi kemudian menghela nafas panjang, lalu bertanya, “Bagaimana jika kita pergi untuk makan siang?”
“Baiklah!” seru istrinya itu dengan senyum.
Higarashi kemudian menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya berlari menuju ke sebuah restoran yang memang hanya ada satu-satunya di pantai itu. Kebetulan saja restoran tersebut sedang sepi setelah jam makan siang berakhir.
__ADS_1