Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Dendam Lama


__ADS_3

"Uh, mereka sedang dalam masa berkabung semesta selama empat puluh hari, bukan?" tanya Nordian.


"Lalu apakah kau tahu gelarmu di sana, setelah masa berkabung semesta selama empat puluh hari itu?" tanya Weim.


Keira langsung terdiam. Jantungnya mendadak berdetak dengan cepat hingga seluruh tubuhnya terasa kaku.


"Weim! Sudahlah! Kau ini, semakin mirip dengan Xyon saja. Lagi pula Keira adalah Yang Mulia Putri Mahkota dari Halida, jadi, terserah Higarashi apakah ia akan memberikannya gelar sebagai permaisuri atau mempertahankan gelarnya yang sekarang, bukan?" balas Nordian dengan wajah yang kesal.


"Ah, maafkan aku, Keira," balas Weim sambil menatap Keira dengan wajah yang gusar.


Keira kemudian tersenyum dan membalas, "Baiklah Paman-Paman! Sampai jumpa!”


Ia lalu mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil, dan melesat dengan cepat ke luar angkasa.


Setelah Keira sudah pergi, Arex lalu menoleh ke arah Weim, dan dengan wajah yang kesal, ia berkata, "Weim, beban Keira sudah cukup berat. Bahkan kelahirannya bukanlah sebuah kebahagiaan bagi mendiang Yang Mulia Ratu. Sekaran, dengan gelar sebagai putri mahkota, ia justru harus menanggung lebih banyak beban karena para Silverian itu mulai menargetkan Planet Halida."


Nordian juga menatap Weim dengan wajah yang serius dan berucap, "Jika ia menjadi permaisuri, kau tentu bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh para Silverian itu kepadanya."


Weim hanya bisa menghela nafas pendek dan tidak membalas apapun untuk beberapa saat.


“Sudahlah, mari kita lanjutkan patrolinya,” ujar Arex.


Mereka kemudian berubah menjadi tiga buah bintang kecil, lalu melesat ke luar angkasa dengan kecepatan tinggi.


Di dalam istana kerajaan Halida, Higarashi terlihat sedang berada di dalam ruang kerja ayahnya yang sekarang ia jadikan sebagai ruang kerja pribadinya sendiri. Tidak ada yang dilakukannya selain duduk di atas sofa yang selalu dijadikan tempat bagi ibunya untuk bersandar sementara ayahnya bekerja, dengan wajah yang sendu.


"Ayah dan Ibunda adalah pemimpin yang bijak. Bagaimana aku bisa menjadi pengganti mereka ke depannya? Apakah aku siap untuk ini semua? Apakah rakyat akan menerimaku? Ayah, Ibunda, mengapa kalian meninggalkanku dengan cepat seperti ini?!" gumamnya pelan.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu hingga membuatnya sedikit terkejut.


Ia lalu menoleh ke arah pintu dan berseru, “Siapa itu?”


"Uh, Higarashi, ayah dan ibumu adalah pemimpin yang bijak. Aku … masih merasa sangat kehilangan walaupun waktu kami bertemu hanya sebentar," ujar Keira yang ternyata barusan mengetuk pintu ruangan tersebut.


“Ah, Keira, cepat masuklah,” balas Higarashi.


Ia langsung berdiri begitu Keira membuka pintu dan masuk ke dalam. Mereka kemudian saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sendu. Pintu tersebut menutup dengan sendirinya, membiarkan keduanya di dalam ruangan yang sama.


"Maafkan aku, Higarashi … memang, berada di sampingmu saja sudah cukup membuatku bahagia, namun, kutukan yang ditujukan kepadaku tidak akan berhenti sampai di sini. Alam semesta akan memberikan kejutan lain, pasti," ucap Keira.


"Tidak, Keira. Bukan kutukan Mereka, para Silverian itu, memang sebenarnya sudah mengincar planet-planet lain yang ada di dalam Galaksi Metal sejak lama. Mereka membutuhkan energi kosmik dan sumber daya dari planet lain. Aku tidak begitu terkejut ketika mendengar bahwa mereka mengincar planet ini," balas Higarashi.


"Higarashi, apa sebaiknya kita … bercerai saja?” ujar Keira dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.


"Tidak! Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Jangan pernah kau ucapkan lagi kata-kata itu! Mereka harus melawanku terlebih dahulu jika mereka ingin memisahkanku denganmu lagi!" seru Higarashi dengan wajah yang terlihat kesal.


Keira kemudian menghela nafas panjang, kemudian menangis dengan air mata yang mengalir deras. Higarashi langsung memeluk istrinya itu, dan Keira membalas pelukan hangat dari sang suami, erat-erat.


“Aku hanya ingin menjadi seorang manusia normal, Higarashi,” bisik Keira.


“Jika kau ingin menjadi seorang manusia dan hidup di dalam Planet Bumi, aku akan ikut denganmu,” balas Higarashi.


“Tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu melepaskan Planet Halida. Kedua orang tuamu sangat bergantung kepada dirimu, juga rakyatmu yang pasti akan menantikan penobatan raja baru mereka setelah ini,” balas istrinya itu.


Higarashi tidak mengucapkan apapun lagi setelah itu. Mereka lantas berpelukan, dan tangis Keira akhirnya mulai mereda setelah beberapa menit berlalu.

__ADS_1


Sementara itu di dalam istana kerajaan Palladina, Xyon terlihat sedang mengawasi latihan beberapa orang prajurit baru yang dipimpin oleh Weim di halaman belakang istana. Sebuah bintang tiba-tiba melesat ke bawah, lalu mendarat di tempat yang sama di mana Xyon sedang berada.


Weim melihat hal itu, lalu ia berseru, “Arex!”


Bintang kecil itu kemudian berubah menjadi sosok seorang pria yang dikenalnya, Arex. Sang Jenderal Senior dari Palladina yang baru saja mendarat tersebut lalu berjalan ke arah Xyon dan berdiri di sampingnya, sambil memperhatikan Weim dan para prajurit baru yang sedang mengikuti pemanasan sebelum latihan sesungguhnya dimulai.


"Xyon, apakah kau yakin bahwa kau tidak sedang menggunakan Keira sebagai alat untuk balas dendam?" tanya Arex.


"Apa maksudmu?" tanya Xyon kembali pada Arex, tanpa menoleh ke arahnya.


"Kau selama ini selalu memerintahkan kami untuk mengawasi Keira dari kejauhan, namun kau sendiri tidak melakukannya. Apakah kau membenci Keira sebesar itu?" tanya Arex lagi, dengan nada tegas.


Xyon menghela nafas panjang, kemudian menjawab, “Aku tidak membencinya, Arex.”


"Namun, kau sama sekali tidak khawatir ketika Keira hampir meninggal kemarin," balas Arex.


"Aku percaya Keira adalah seorang Crossbreed yang kuat, lantas, untuk apa aku mengkhawatirkannya? Ia memiliki seluruh isi galaksi ini sebagai kekuatannya," ujar Xyon.


Wajah dingin Xyon membuat Arex menghentikan pertanyaannya. Ia kemudian menghela nafas panjang, sambil menggelengkan kepalanya sekali.


"Tampaknya akan ada bencana yang lebih besar daripada kemarin, karena Higarashi mungkin akan menjadikannya sebagai Permaisuri dari Halida. Baiklah, Xyon. Aku akan kembali menuju ke kamarku," ucapnya pelan, kemudian ia berjalan meninggalkan Xyon yang terlihat sangat fokus memperhatikan Weim.


Sang Perdana Menteri dari Palladina itu menoleh ke arah Arex dan menatap punggungnya. Ia kemudian kembali melihat lurus ke depan, sambil menghela nafas panjang. Weim sebenarnya memperhatikan mereka sejak tadi, namun, ia sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya.


“Apakah aku membenci Keira? Mungkin saja. Ia anak yang tidak diinginkan oleh siapa pun, bahkan mendiang Yang Mulia Ratu Anexta juga tidak. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak ingin menemuinya. Aku hanya ingin ia menjadi seorang Crossbreed yang kuat agar bisa menghancurkan para Silverian sialan itu, khususnya seseorang yang bernama Dovrix!” seru Xyon di dalam hatinya.


Ia kemudian mengepalkan tangan kanannya, dengan wajah yang terlihat datar, berusaha untuk memendam amarah besar di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2