Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kembang Api yang Indah


__ADS_3

Chexy langsung menoleh ke belakang, begitu juga Keira yang menatap ke arah pria tersebut.


Mereka terkejut ketika ia melihat Higarashi yang wajahnya terlihat penuh dengan amarah. Chexy kemudian melepaskan cengkramannya dari rambut Keira, dan karena ketakutan, ia juga menjatuhkan gunting yang hendak digunakannya tadi untuk memotong rambut gadis berambut biru tua itu tadi.


“Higarashi? Bukankah kau sudah tidak masuk sekolah belakangan ini? Ke mana saja dirimu?” tanya Chexy dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya.


Higarashi langsung melepaskan genggamannya dari tangan Chexy dengan kasar, dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Siapakah dirimu? Kedua orang tuaku belum pernah berkata soal perjodohan, mengapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu? Ah, iya, aku tidak ingin berjodoh dengan seseorang yang hanya bisa merundung orang lain karena iri dengan kecantikannya. Lagi pula, Keira sudah terlebih dahulu tinggal di dalam hatiku sudah sejak lama, jadi aku rasa, tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan dirinya!" seru Higarashi dengan nada tinggi.


Chexy justru tertawa kecil sebentar, lalu membalas, “Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh cinta kepadamu, namun, kau hanya melihat Keira, dan aku … aku sangat … iri kepadanya! Orang tua kita sudah menjodohkan kau dan aku, lalu mengapa kau masih harus jauth cinta kepada gadis bodoh ini?”


Higarashi kemudian berjalan mendekati Keira dan memegang tangan gadis itu. Ia lalu menatap Chexy lagi dengan wajah yang serius.


"Biarkan aku berkata sekali lagi. Aku tidak ingin menikah dengan wanita lain selain gadis ini. Jika kau merundungnya lagi, padahal hari kelulusan hanya tinggal beberapa hari, maka aku tidak akan segan untuk mengadukanmu kepada kepala sekolah!" serunya.


"Tapi Keira tidak pernah menyukaimu, bukan?! Ia hanya menganggapmu sebagai teman saja, bukan?! Lalu untuk apa memperjuangkan perempuan seperti itu? Seharusnya kau memperhatikan perempuan lain yang benar-benar mencintaimu! Tidak perlu Keira yang berbicara, namun setiap kali kau berjalan di sampingnya, ia akan sedikit menjauh darimu, apakah kau sadar akan hal itu? Mengapa kau memaksanya untuk menyukaimu?!" seru Chexy, kali ini dengan air mata yang mulai mengalir.


Higarashi menghela nafas panjang, kemudian ia berkata, "Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku akan terus menunggunya. Lagi pula aku di sini … ingin menikmati waktu bersamanya sebelum aku kembali ke tempat asalku."


Higarashi lalu menggandeng tangan Keira dan mengajak gadis itu pergi dari sana, meninggalkan Chexy sendirian.

__ADS_1


“Higarashi!!” seru gadis berambut pirang itu.


Dengan wajah kesal dan air mata yang semakin deras, Chexy menatap punggung mereka berdua sambil mengepalkan telapak tangan kirinya.


"Kau pikir kau bisa lolos dari perjodohan itu? Lihat saja, lagi pula kau pasti akan menjadi milikku suatu saat nanti!" gumamnya, “Kau kira apakah kau bisa lolos dari perjodohan itu?”


Higarashi kini berlari bersama dengan Keira sambil menggandeng tangan gadis berambut biru tua tersebut.


"Higarashi, kita hendak kemana?" tanya Keira, namun Higarashi tidak menjawabnya.


Mereka berdua terus berlari hingga akhirnya tiba di sebuah pasar yang penuh dengan keramaian di pinggir kota besar itu. Sedang ada festival musim panas di sana. Mereka kemudian menghentikan langkahnya begitu tiba di depan pintu masuk pasar tersebut.


"Higarashi …," bisik Keira pelan.


"Tapi hari kelulusan masih satu minggu lagi," ucap Keira.


"Ehm, baiklah, kalau begitu jadikan hari ini sebagai hari di mana kau bisa bergembira dan melupakan seluruh masalahmu!" seru Higarashi.


Ia kemudian menarik tangan Keira dan mengajaknya untuk masuk ke dalam pasar tersebut. Banyak permainan yang ada di dalam festival itu, dan mereka mulai memainkan salah satunya. Banyak juga jajanan unik yang dijual di sana. Mereka terlihat menikmati siang itu dengan canda dan tawa, dan tampaknya, Keira kali ini benar-benar bisa melepaskan pikirannya dari seluruh masalah dan kenangan buruk yang menghantuinya.


Pasar itu semakin ramai mendekati malam hari, dan justru semakin meriah. Karena hari semakin gelap dan mereka sudah mulai lelah, Higarashi kemudian mengajak Keira berjalan menuju ke pinggir danau yang terletak tidak begitu jauh dari pasar tersebut. Danau yang indah dan bersih, serta luas, dan kembang api yang dimainkan oleh beberapa orang dari kejauhan, bayangannya terlihat hingga ke dasar danau.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian duduk berdampingan sambil menikmati warna-warni kembang api yang semakin ramai di atas langit. Namun, wajah Keira justru berubah menjadi sedih ketika ia teringat akan kenangan-kenangan masa kecilnya. Melihat kesedihan di wajah Keira, Higarashi kemudian memegang tangan gadis itu sambil tersenyum. Keira lalu menoleh ke arah pria tersebut dengan wajah yang sendu.


"Maafkan aku, sudah tujuh hari ini, aku banyak merenung. Aku banyak berbohong kepadamu, sejak awal," ucap Higarashi dengan raut wajah yang kecewa, lalu ia bertanya, “Keira, aku bisa merasakan aura energi kosmik yang ada di dalam dirimu. Apakah kau adalah seorang … immortal?”


Keira agak terkejut begitu ia mendengarkan pertanyaan tersebut, namun, ia langsung paham, bahwa Higarashi sudah mengetahui jika dirinya bukanlah seorang manusia.


"Paman Xyon mengunjungimu, bukan?" tanya Keira.


Higarashi langsung terkejut mendengar hal itu, ia tidak menyangka Keira sudah mengetahuinya.


"Ah, iya, maaf, Xyon. Baiklah, aku akan mengakuinya. Perdana Menteri Xyon memang mengunjungiku satu minggu yang lalu, dan ia sudah mengatakan semuanya tentang dirimu. Aku diminta untuk menjauh darimu, dan itu membuatku merenungkan semuanya. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu ke sekolah selama satu minggu ini," jawab Higarashi.


Keira sedikit terkejut ketika mendengar Higarashi menyebut Xyon dengan gelarnya yang lengkap, hingga ia bertanya, "Kau … mengapa kau mengenal Paman Xyon sebagai perdana menteri? Apakah kau adalah manusia? Atau, apakah kau juga adalah makhluk dari Galaksi Metal?"


Higarashi kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Keira. Ia lalu mengangkat tangannya ke atas dan Star Baton miliknya langsung muncul di dalam genggaman tangannya. Ia lantas menurunkan kembali tangannya, dan menoleh ke arah Keira.


Gadis itu melotot karena terkejut melihat tongkat bintang berwarna merah tersebut.


“Benda apa itu?” tanya Keira.


Higarashi mulai mengayunkan Star Batonnya dengan pelan, dan titik-titik cahaya kemudian keluar dari ujung benda tersebut, lalu berubah menjadi dua buah kembang api kecil. Higarashi kemudian memberikan satu buah kembang api itu kepada Keira, dan satu buah lagi, ia genggam dengan erat.

__ADS_1


Lalu ia mengayunkan lagi Star Baton itu, dan titik-titik cahaya yang keluar dari benda tersebut mulai menyalakan kembang api milik mereka masing-masing. Keira tampak senang melihat kembang api yang menyala dengan cahaya yang berwarna-warni dalam genggamannya.


Star Baton itu kemudian menghilang, dan mereka kini menatap ke arah kembang api yang cerah di dalam genggaman masing-masing.


__ADS_2