Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XVIII


__ADS_3

Xyon sepertinya sudah tahu bahwa ia akan segera dimarahi oleh ayahnya.


Begitu mereka tiba di sana, Derix dengan kasar membuka pintunya dan membawa Xyon masuk ke dalam bersama dirinya, lalu setelah itu, ia melepaskan tangan pria muda tersebut sambil menatapnya dengan wajah yang serius.


"Apa saja yang telah kau lakukan di Planet Bumi, Xyon?!" tanya Derix kesal.


"Tentu saja aku menjaga Yang Mulia, Ayah," jawab Xyon sambil menunjukkan wajah datarnya


"Lantas ke mana cincin yang kami berikan kepadamu?" tanya Derix lagi, kali ini dengan nada tinggi.


"Aku tidak sengaja menjatuhkannya ketika bertarung melawan preman-preman yang hampir saja melukaiku hanya karena sebuah kantong yang berisi koin-koin perak," balas pria muda itu.


Derix menghela nafas panjang, lalu berkata, "Xyon, berhentilah berbohong kepada ayahmu.”


"Aku sedang tidak berbohong, Ayah," jawab anak laki-lakinya tersebut.


"Xyon, kau adalah prajurit yang handal. Kau bahkan sudah bisa mengayunkan pedang milikmu sendiri dengan baik sejak berusia empat tahun, dan tidak mungkin kau akan menghilangkan cincin itu dengan sangat ceroboh!" seru Derix sambil menahan emosinya.


"Preman-preman itu menyerangku secara brutal, Ayah. Aku tidak sengaja menghilangkan cincin itu," balas Xyon dengan tegas.


Derix sepertinya mulai menyerah. Ia menghela nafas panjang lagi, lalu menatap Xyon dengan wajah yang benar-benar serius.


"Xyon, aku akan mengadakan ujian resmi untuk memilih jenderal yang akan bertugas di bawahku. Beberapa jenderal sudah meminta kepadaku untuk pensiun dengan alasan masing-masing, jadi aku harus mengadakan ujian ini. Aku akan memasukkanmu ke dalam daftar peserta, sekarang juga," ucap Jenderal Senior itu pelan.

__ADS_1


Tiba-tiba wajah Xyon berubah, yang tadinya datar, kini menjadi sangat kesal. Ia bahkan berani mengernyitkan dahi dalam-dalam sambil menatap ayahnya itu dengan tatapan tajam.


"Ayah! Aku adalah pengawal pribadi Yang Mulia Pangeran Mahkota! Untuk apa aku harus mengikuti ujian itu? Yang Mulia bisa saja segera menaikkan pangkatku menjadi jenderal, kapan pun yang ia mau!" seru Xyon dengan nada tinggi.


"Kau!! Kau sudah bermain-main dengan manusia di Planet Bumi, bukan?! Katakan pada Ayah, Apakah dia seorang gadis, atau wanita dewasa?!" tanya Derix, juga dengan nada tinggi.


"Ayah! Aku benar-benar menghilangkan cincin itu tanpa disengaja!" seru Xyon kesal.


“Aku akan diam agar kau tidak dihukum oleh Pengadilan Tinggi Semesta yang mungkin akan melakukan Energy Revocation dan Cosmic Vacuum atas tindakanmu itu!” balas ayahnya tersebut sambil melotot tajam.


Xyon menghela nafas panjang. Ia masih juga tidak menjawab yang sejujurnya.


"Memang benar, kau adalah pengawal pribadi Yang Mulia Pangeran Mahkota, namun kau hampir tidak pernah menunjukkan keahlian bertarung yang sudah kau kuasai selama ini. Ada baiknya kau ikut saja ujian itu, agar kau tidak diremehkan oleh jenderal-jenderal lainnya!" seru Derix, kemudian ia berjalan keluar dengan membanting keras pintunya.


"Hyerin, maafkan aku. Hyerin!" gumamnya pelan, dengan wajah yang penuh rasa penyesalan.


Derix rupanya berdiri di depan pintu, dan mendengar apa yang barusan dikatakan oleh anak laki-lakinya itu dari dalam. Wajahnya mulai menunjukkan rasa kekecewaan yang besar kepada Xyon.


"Maafkan ayahmu yang tidak pernah mengajarimu apapun tentang alam semesta ini dan hukum alam yang ada di dalamnya, selain caranya bertarung dan menjadi seorang prajurit. Ayah berharap kau bisa melupakan siapa pun gadis itu, Xyon," gumam Derix dalam pikirannya sendiri sambil menahan kesedihan.


Ia lalu dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari istana untuk menemui pejabat tinggi terkait ujian kerajaan itu. Tidak butuh waktu lama, ia langsung mendaftarkan Xyon untuk mengikutinya, setelah menemui salah seorang pria pejabat tinggi di sebuah ruangan, yang memang adalah juri untuk ujian tersebut.


Sementara itu, di dalam kamarnya sendiri, Hyerin kini mulai merasa kesepian. Ia memang sudah menyerahkan kunci kamar yang ditempati oleh Xyon kepada wanita pemilik penginapan tersebut. Namun, setelah suaminya itu pergi, ia hanya bisa duduk terdiam di atas ranjang.

__ADS_1


"Xyon, bisakah kau kembali sekarang juga?" gumam Hyerin dengan wajah sendu, sambil melipat dan memeluk kedua lututnya erat-erat.


Tiba-tiba muncul kabut-kabut hitam yang melingkar-lingkar di samping Hyerin, yang langsung membuatnya terkejut dan melotot. Setelah kabut tadi menghilang, muncul seorang wanita yang memiliki rambut panjang berwarna hitam dan bola mata emas, serta memakai baju terusan berwarna hitam.


Wanita itu kemudian berjalan mendekati Hyerin, duduk di hadapannya, sambil berkata, "Hyerin, katakan pada ibumu ini, apa yang sudah kau lakukan bersama dengan pria dari Palladina itu?!"


"Ibu," jawab Hyerin, "bukankah aku sudah menjalankan tugas dari Ayah? Bukankah Ayah yang memintaku untuk mendekatinya? Aku sudah selesai dengan itu, jadi tolong, tidak perlu bertanya lagi."


Wanita tersebut rupanya adalah ibu kandung Hyerin, yang bernama Sira. Ia tiba-tiba mencengkram kedua bahu anak perempuannya itu dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Hyerin! Apa yang sudah kau lakukan bersama dengan pria itu?! Jika ayahmu sampai tahu hal ini, ia tidak akan pernah memaafkan dirimu! Kau jangan melakukan hal-hal bodoh!" serunya.


"Ibu! Bukankah semua itu adalah kemauan Ayah?! Ayah yang sudah melakukan Mentocive dan mencuci otak orang-orang yang berada di sini, memanipulasi mereka, seolah-olah aku adalah anak yatim piatu, memintaku untuk menarik hati Xyon, agar ia bisa mendapatkan informasi-informasi tentang Planet Palladina, bukan?" balas Hyerin dengan wajah yang kesal.


"Namun yang kau lakukan bukan hanya menarik hatinya, Hyerin! Kau malah serius jatuh cinta kepadanya! Ibu melihatmu dari jauh, Nak! Ibu sudah melihat semuanya!” ucap Sira sambil menunjukkan kekecewaan.


Tanpa sengaja, ia memperhatikan jari manis tangan kiri Hyerin, dan langsung melihat cincin yang terbuat dari logam paladium putih, terukir sebuah nama di sana, XYON, dengan sangat jelas. Ia langsung menunjuk ke arah cincin itu dengan ekspresi terkejut.


"Hyerin! Cincin itu! Katakan padaku! Apa yang sudah kau lakukan bersama dengannya?! Ayahmu akan sangat marah, dan kau bisa saja kehilangan nyawa, Hyerin!" seru Sira lagi sambil melotot tajam.


"Ibu! Aku mencintainya! Ia adalah pria yang baik, bahkan rela terluka demi diriku, sementara preman-preman yang Ayah kirimkan ke sini, mereka semua melecehkanku! Ibu pikir, aku akan baik-baik saja setelah mereka melakukan hal seperti itu kepadaku?! Ayah bahkan tidak mau tahu tentang mereka!" balas Hyerin dengan nada tinggi.


"Hyerin!" seru Sira, namun Hyerin langsung memotongnya, "Aku mencintainya! Ia adalah pria yang bertanggung jawab, ibu! Kami bahkan sudah menikah sebelum ia kembali ke Planet Palladina!! Ia juga memberikanku cincin miliknya sebagai bukti bahwa kami sudah menjadi sepasang suami dan istri!"

__ADS_1


Sira langsung berdiri, kemudian menampar dengan keras anak perempuan satu-satunya tersebut sambil menangis. Hyerin terkejut dengan sikap ibunya barusan, bahkan hingga wajahnya menjadi merah akibat tamparan itu. Ia langsung menatap Sira dengan ekspresi yang kecewa, marah, dan air mata yang mulai jatuh membasahi bajunya.


__ADS_2