
Arnea sedikit terkejut atas permintaan itu, namun ia berusaha tetap tenang dan bertanya, "Katakan padaku, apa itu?"
"Aku berharap Anda bisa memberikanku waktu untuk … berduka," jawab Xyon.
"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu satu minggu. Bagaimana?" tanya Arnea lagi.
"Sudah cukup bagiku. Terima kasih, Yang Mulia," balas Jenderal muda itu sambil kembali menundukkan kepalanya.
Kereta antar planet itu akhirnya masuk ke dalam atmosfer Planet Palladina dan mendarat tepat di halaman depan istana yang sangat luas. Para pelayan langsung menyambut kedatangan mereka, serta tidak lupa untuk membawakan tas punggung milik Arnea dan Klara. ketiganya kemudian berjalan menuju ke ruang utama, namun tidak tampak Treya, Veina, ataupun Derix di sana begitu mereka tiba.
"Yang Mulia, aku akan kembali terlebih dahulu," ucap Xyon, kemudian ia membungkuk sebentar sebelum kembali berdiri tegak.
"Baiklah, mungkin Ayah dan Ibu sedang sibuk," balas Arnea dengan wajah datar.
Xyon kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Ia terus melangkah hingga tiba di sebuah lorong istana, dengan wajah yang sendu sambil berusaha untuk menahan tangis. Namun air matanya tidak bisa ditahan lagi dan menetes dari mata Jenderal muda tersebut, dan mulai mengalir membasahi wajahnya.
Kepalanya tertunduk lesu, hanya lantai yang bisa ia lihat dengan tatapan kosong. Dadanya terasa sesak, jantungnya terasa sakit. Ia bahkan sesekali menepuk-nepuk dadanya hanya untuk menghilangkan rasa sakit itu, namun duka yang amat dalam, mulai menyelimuti dirinya.
"Hyerin, aku benar-benar pria yang lemah, tidak bisa melindungimu, tidak bisa juga melindungi anak kita. Maafkan aku yang sudah membuat hidupmu penuh dengan penderitaan. Tidak seharusnya kita bertemu, apalagi sampai jatuh cinta …. Perasaan mortal ini, sialan!” seru Xyon sambil mengepalkan kedua tangan hingga memerah.
"Ya, kau memang tidak seharusnya jatuh cinta kepada seorang manusia, dasar pria bodoh," balas seorang pria berbadan besar yang tiba-tiba muncul di hadapan Xyon.
Jenderal muda tersebut langsung menghentikan langkahnya, kemudian berdiri tegak dengan kepala yang lurus menatap seorang pria berambut hitam dengan pakaian yang berwarna sama, yang sedang berdiri di depannya.
Ia langsung melotot tajam sambil mulai merasa waspada, lalu berkata, "Siapa dirimu?!”
“Aku? Ah, aku adalah Darkerio, pengendali alam semesta ini!” jawab pria berbadan besar itu sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
“Kau bukan seorang Palladina! Apa yang sedang kau lakukan di sini?!” tanya Xyon dengan nada tinggi.
Ia kemudian mengangkat tangan kanannya dan dengan cepat, sebuah pedang kosmik berwarna putih muncul di dalam genggamannya. Darkerio langsung tertawa untuk beberapa saat, lalu menatap pria muda tersebut dengan wajah yang serius.
“Kau sudah membuat alam semesta ini tidak seimbang, Pria Muda!” serunya sambil melotot tajam.
“Pengendali alam semesta?! Apakah kau adalah seorang Crossbreed?! Tidak mungkin. Crossbreed hanyalah sebuah dongeng!” balas Xyon sambil mengarahkan pedang kosmiknya ke depan.
Darkerio tersenyum sinis begitu ia melihat sang Jenderal muda kini mengancam dirinya dengan sebuah senjata kosmik.
“Kau, berani-beraninya tidur dengan seorang gadis mortal, bahkan hingga memiliki anak dengannya. Kau benar-benar pria muda yang tidak sadar bahwa kau adalah penjaga galaksi!” seru Darkerio dengan nada tinggi, padahal semua yang dikatakannya hanyalah kebohongan.
Ia lantas mengangkat tangan kanannya, lalu berteriak, “Kau harus membayar semua ini, Xyon!!”
Kabut-kabut hitam mendadak keluar dari telapak tangannya dan melayang dengan cepat ke arah pria muda tersebut serta mulai berusaha untuk mencekik lehernya. Namun Xyon langsung menghindar dari serangan bayangan itu.
“Anak itu sudah tewas, bukan?! Istriku juga sudah tewas! Kau tidak diundang di sini, dasar penyusup!!” seru Xyon dengan wajah yang dipenuhi amarah, dan ia mulai berusaha untuk mendekati Darkerio agar bisa melukai pria berbadan besar tersebut.
“Sialan!” seru Darkerio sambil mengangkat tangan kirinya juga, untuk menyerang Xyon dengan kekuatan kosmiknya.
Namun ia justru mulai tampak kewalahan, karena tubuh kecil Jenderal muda tersebut membuat Xyon lebih mudah untuk menghindar dari kabut-kabut hitam yang hendak melukainya. Darkerio kemudian menjauh dari Xyon dengan melayang ke belakang beberapa langkah, lalu berhenti di satu titik di mana pria muda itu dan dirinya sudah sangat berjarak.
Xyon lantas menghentikan serangannya, begitu juga dengan Darkerio, namun keduanya kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang serius serta tatapan tajam.
“Kau sudah sangat tahu dan mengerti, bahwa immortal seperti kita tidak boleh berhubungan dengan makhluk mortal seperti manusia. Anak itu memang pantas dibunuh, termasuk ibunya, yang kau sebut sebagai istrimu," ucap Darkerio, dengan sengaja, agar Xyon semakin dipenuhi amarah.
Xyon langsung melotot dengan mata yang kini tampak merah.
__ADS_1
"Kau! Sebenarnya siapa dirimu?!" tanya Jenderal muda itu dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah Darkerio.
"Aku? Bukankah kau sangat pintar? Silakan kau cari tahu sendiri!" seru Darkerio, kemudian kabut-kabut hitam mulai menyelimuti dirinya dan ia langsung menghilang dalam sekejap mata.
Xyon terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya. Ia baru pertama kali ini menyaksikan makhluk immortal dengan kekuatan kosmik seperti itu, namun tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu.
"Apakah itu Televortare? Sialan! Penyusup!" serunya dengan nada tinggi.
Ia lalu berlari menuju ke ruang kerja pribadi ayahnya, namun di sepanjang perjalanan, ia justru terheran-heran dengan kekosongan di setiap lorong istana yang ia lewati. Pedang kosmiknya baru saja menghilang setelah beberapa saar ia melangkah.
"Ke mana semua orang?!" gumamnya pelan sambil mengernyitkan dahi.
Sejauh apapun ia berlari, istana tersebut terasa seperti labirin yang tidak ada jalan keluarnya. Sungguh tidak biasa, karena Xyon justru adalah orang yang sangat mengingat seluruh lorong di istana tersebut.
“Mengapa aku tidak bisa menemukan jalan menuju ke ruang kerja Ayah?! Ada apa ini?!” serunya dengan wajah kesal.
Sampai pada suatu lorong, ia berhenti melangkah karena kebingungan dengan arah yang hendak ditujunya. Keringat mulai membasahi wajahnya sementara ia kini tampak kebingungan.
"Sialan, apa yang sedang terjadi? Bukankah aku sudah berkali-kali melewati lorong ini?!" ucap Xyon dengan wajah yang sedikit panik.
"Jenderal Xyon dari Palladina!" teriak seorang pria yang suaranya bergema, namun entah dari mana asalnya.
Xyon mulai mencari-cari asal suara teriakan itu, namun tiba-tiba muncul sebuah layar besar di hadapannya. Ia lalu memperhatikan benda tersebut dengan wajah gusar.
Layar besar itu memperlihatkan ruang istana yang seluruhnya diselimuti oleh kabut-kabut hitam, dan seluruh penghuni istana, termasuk Treya, Veina, Arnea, Klara, Derix, Wyona, dan bahkan semua prajurit, pengawal, serta pelayan, terlihat hampir tertidur setelah menghirup udara di sekitarnya.
"Yang Mulia!!!" teriak Xyon sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1