
"Ah, maaf kalau begitu, oh iya, namaku Higarashi, salam kenal!" serunya.
"Kau hanyalah salah satu pembawa bencana di sekolah ini," balas murid pria itu.
"Apa maksudmu?" tanya Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
Murid pria itu kemudian melotot ke arah gadis-gadis yang dari tadi rupanya tersenyum sambil menatap Higarashi.
"Aku tidak menyukai murid pria yang tampan sepertimu, karena sekolah ini memiliki lebih banyak murid perempuan dibanding murid pria. Sejak kau masuk ke dalam kelas ini saja, kau sudah membuat kehebohan. Sebaiknya menjauh dariku, karena gadis-gadis bodoh itu sekarang mulai memperhatikan dirimu," ujarnya.
Higarashi langsung menoleh ke depan, dan baru saja menyadari hal itu. Ia menatap para gadis itu dan mulai tidak nyaman dengan sorot-sorot mata dari para gadis yang berada di depannya. Ia hanya bisa terdiam sambil terus memperhatikan pelajaran, sambil mengacuhkan tatapan-tatapan tersebut.
Setelah jam pelajaran selesai untuk sesi pertama, lonceng sekolah kembali berbunyi. Waktu istirahat telah tiba. Demira dengan wajah yang penuh semangat, langsung berjalan mendekati Higarashi, lalu berdiri di hadapannya, namun, murid pria yang duduk di samping Higarashi justru menatapnya dengan wajah yang datar. Ia langsung membalas tatapan tersebut, dengan wajah yang kesal.
"Ada apa, Aerim? Mengapa menatapku seperti itu? Apa aku tidak boleh berdekatan dengan pria tampan seperti Higarashi?" tanya Demira dengan nada tinggi.
“Ah, rupanya seorang Demira bisa jatuh hati dengan wajah yang tampan,” balas murid pria yang berwajah dingin itu, Aerim.
Demira menghela nafas pendek, lalu berkata, “Aerim, kau sangat populer di kalangan murid-murid perempuan karena ketampananmu, namun, sikap dinginmu membuat gadis-gadis itu penasaran, dan kejamnya, kau tidak pernah sama sekali membalas perasaan mereka. Jadi, tidak ada salahnya aku melirik Higarashi, bukan?”
Tiba-tiba saja ada keributan dari luar ruang kelas yang terdengar begitu keras. Hingga mereka bertiga menoleh ke arah pintu.
“Hei! Dasar alien!” teriak seorang murid perempuan dari luar.
Demira mendadak berseru, “Astaga! Mereka lagi!”
__ADS_1
Ia langsung berlari keluar dari ruang kelas, dan Higarashi hendak mengikutinya karena rasa penasaran. Namun, Aerim tiba-tiba menarik lengan pria itu, hingga membuat Higarashi kembali duduk di atas kursinya.
Higarashi langsung menatap Aerim dengan wajah yang serius.
"Kau tidak perlu ikut campur. Gadis-gadis itu memiliki caranya sendiri-sendiri. Kemungkinan ada perkelahian, seperti biasa, di ruang kelas tiga-empat, di sebelah. Lagi pula, gadis-gadis yang bertengkar biasanya lebih kasar," ujarnya.
“Ah, begitu rupanya …,” balas Higarashi dengan wajah yang masih terllihat penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi di luar ruang kelas itu.
Ia kemudian memutuskan untuk membaca buku saja, daripada terus menerus merasa penasaran hingga lonceng berbunyi kembali, pertanda waktu istirahat sudah selesai. Murid-murid kembali ke ruang kelasnya masing-masing, dan seorang guru wanita kemudian masuk ke dalam kelas. Proses belajar mengajar kembali berjalan dengan suasana yang tenang.
Higarashi hanya bisa menghela nafas panjang sambil memperhatikan ke depan dan berpikir di dalam hatinya, “Apakah aku mampu menemukan gadis berambut biru tua itu, yang masih kuingat jelas namanya, Keira?”
Di sepanjang pelajaran, Aerim sebenarnya memperhatikan Higarashi beberapa kali, namun, pria itu sama sekali tidak menyadarinya. Sorot mata Aerim sangat tajam ketika ia melihat gerak-gerik Higarashi.
“Dasar pangeran bodoh,” gumamnya di dalam hati.
Lonceng kembali berbunyi, pertanda sekolah sudah usai dan murid-murid akhirnya keluar dari ruang kelas mereka, menuju ke tempat tujuan masing-masing. Higarashi yang sedang berjalan keluar dari ruang kelas dengan wajah serius, tiba-tiba saja bahunya ditepuk oleh Demira. Karena terkejut, Higarashi langsung menoleh ke samping, dan menatap gadis itu dengan tatapan kosong.
Mereka berdua kini berjalan berdampingan, menuju ke halaman depan sekolah.
"Ada apa, Higarashi? Wajahmu sejak tadi sangat serius, apakah pelajaran di hari pertama ini terlalu berat? Aku bisa mengajarimu!" seru Demira.
Higarashi menghela nafas panjang, lalu menjawab, "Aku hanya merasa kesepian di sini."
Dengan senyum yang lebar, Demira membalas, "Kalau begitu, jadilah kekasihku, maka kau tidak akan pernah sendirian lagi di sini! Aku … akan menemanimu!”
__ADS_1
Higarashi menghentikan langkahnya, begitu juga Demira. Mereka berdua saling bertatapan dan berdiri di sebuah lorong. Kedua bola mata Demira berkaca-kaca, penuh harapan.
"Maafkan aku, Demira. Ada seorang gadis yang sudah lama mengisi hatiku," jawab Higarashi.
Wajah Demira sama sekali tidak menunjukkan rasa kecewa. Ia bahkan langsung memeluk lengan Higarashi, walaupun pria itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan apapun kepadanya, bahkan Higarashi dengan cepat melepaskan pelukan tersebut.
"Jika gadis itu memang sudah mengisi hatimu lantas mengapa kau merasa sepi? Aku … Aku menyukaimu pada pandangan pertama. Kau sangat tampan, melebihi Aerim. Aku takut gadis lain akan mengincarmu, jadi aku sebaiknya bergerak cepat," bisik Demira.
Namun, sayangnya, semua murid yang berada di sana ternyata menatap dirinya dan Demira.
Seluruh tatapn itu membuat Higarashi tidak nyaman, hingga ia dengan sengaja berseru, "Sebentar, sebentar! Kau salah paham, maafkan aku, Demira. Aku sudah lama menyukai gadis lain, dan aku di sini karena ingin mencari keberadaannya yang sudah lama pindah dari kota kecil di sana. Kau jangan salah paham, aku sama sekali tidak menyukaimu, lagi pula kita baru saja bertemu beberapa jam lalu! Nah, sebaiknya aku cepat kembali ke rumah, sampai jumpa!"
Higarashi kemudian berlari dengan cepat meninggalkan Demira. Gadis itu hanya tersenyum sinis ketika ia melihat punggung pria tersebut, yang sedang berlari menjauhinya. Higarashi terus berlari hingga ia keluar dari sekolah, menuju ke sebuah halte bus yang letaknya tidak jauh dari sana.
Ia berdiri di samping rambu, sambil menunggu bus tiba, dengan wajah yang terlihat kesal.
"Gadis itu sudah gila!" gumamnya dalam hati.
Bus selanjutnya kemudian tiba, dan membawanya hingga menuju ke halte bus yang dekat dengan rumah sementara miliknya. Ia lalu turun dari bus yang kedua, kemudian berlari hingga akhirnya ia tiba di rumahnya. Dengan tergesa-gesa, ia kemudian mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya dan membuka pintunya, lalu masuk ke dalam dan kembali menutup pintu rapat-rapat.
Ia lantas berjalan menuju ke kamarnya, dan membuka pintu dengan kasar, masuk ke dalam dan kali ini, tanpa menutup kembali pintu kamar tersebut. Dengan terburu-buru, ia berlari menuju ranjang dan berbaring di atasnya, sambil menatap keluar jendela yang terletak tepat di samping ranjangnya.
"Ke manakah sebenarnya dirimu pergi dari kota kecil itu, Keira? Mengapa aku tidak bisa melupakanmu sama sekali? Rambut berwarna biru tua yang indah itu dan senyumanmu yang masih merasakan kesedihan, membuatku ingin menjadikan dunia ini dunia yang lebih baik untukmu. Semoga saja aku bisa menemukan dirimu secepatnya sebelum seratus hari berakhir…," gumamnya dengan wajah yang sendu.
Ia lalu tertidur pulas, dan menghabiskan hari itu hanya dengan memakan mi instan sambil menonton televisi, sendirian.
__ADS_1