
Sementara itu di dalam Planet Bumi, Higarashi dan Keira terlihat sedang menikmati waktu santai yang gembira dengan berjalan-jalan dan menikmati liburan yang menyenangkan sebelum hari upacara kelulusan tiba. Dengan izin dari Xyon yang sudah didapatnya, Higarashi kini bisa terus menggandeng tangan Keira dan mengajaknya ke seluruh tempat hiburan yang ada di dalam kota besar itu.
Mereka berdua semakin dekat setelah selama empat hari menikmati seluruh hiburan di dalam kota besar tersebut sambil menceritakan hidup masing-masing. Keira bahkan tidak lagi merasa gusar, entah mengapa rasanya ia sama sekali tidak memikirkan lagi konsekuensi akibat perasaannya kepada Higarashi.
Pada suatu hari, mereka terlihat sedang menikmati sebuah pantai yang letaknya agak jauh dari kota besar itu dengan bermain pasir dan air laut, serta berjemur dan bercengkrama. Karena hari semakin malam, pantai tersebut mulai ditinggalkan orang-orang.
Ada sebuah rumah kecil yang memang adalah restoran satu-satunya di pinggir pantai tersebut. Mereka kemudian memutuskan untuk masuk ke dalamnya, untuk menikmati makan malam sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing.
Namun, karena sudah jam sembilan malam, restoran tersebut ternyata sudah tutup. Keira dan Higarashi kini hanya bisa duduk di atas kursi pantai, yang ada di samping restoran itu dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Bagaimana kalau kita pulang saja, lagi pula pantai ini sudah tidak ada orang sama sekali," ucap Keira.
"Ah, baiklah kalau begitu. Tapi aku ingin pergi ke toilet umum di sana terlebih dahulu, ya?" balas Higarashi, sambil menunjuk ke depan, ke arah sebuah bangunan kecil yang memang adalah toilet umum untuk seluruh pengunjung pantai.
"Kalau begitu aku akan menunggu di sini," jawab Keira.
Higarashi kemudian berdiri dan berkata, "Baiklah, tunggu aku."
Lalu dengan cepat, ia berlari menuju ke toilet umum tersebut.
Keira kini hanya sendiri. Ia lalu melihat-lihat pemandangan pantai pada malam hari sambil duduk, namun, sebuah pedang kosmik panjang berwarna hitam, tiba-tiba muncul di bawah dagunya. Seorang pria kini berdiri di belakangnya sambil memegang erat senjata kosmik tersebut.
Keira langsung menoleh ke arah pedang kosmik itu, namun ia tidak menoleh ke belakang untuk melihat siapa pemiliknya. Tanpa rasa takut, ia kemudian menghela nafas panjang.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Keira.
"Hmm, aku hanya ingin kau menjadi pasanganku, bukan pangeran bodoh itu. Kita bisa memiliki Galaksi Metal seluruhnya, kita berdua," jawab seorang pria di belakangnya.
__ADS_1
Keira kali ini menoleh ke belakang, dan melihat seorang pria dengan rambut berwarna abu-abu dan bola mata berwarna emas. Ia mengenakan pakaian hitam dari atas ke bawah, termasuk topeng yang menutupi wajahnya. Namun tampaknya, Keira tidak terlalu memperhatikan wajah pria misterius itu.
"Jika aku tidak mau, bagaimana?" tanya Keira lagi.
"Tentu saja aku dengan senang hati … akan memaksamu!" seru pria itu, kemudian ia mulai mengayunkan pedang kosmiknya, namun Keira berhasil menghindar dengan berlutut dan berguling ke depan.
Mereka berdua kini berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat, sambil menatap satu sama lain.
"Siapakah dirimu? Apakah kau tidak takut sama sekali dengan pantai yang terbuka ini?" tanya Keira.
"Untuk apa kau tahu, dan untuk apa aku takut? Sudah tidak ada orang lagi di sini, bukan? Ah, jika kau mau menjadi istriku, maka kau akan memiliki segalanya, termasuk misteri tentang diriku," jawab pria itu, "namun untuk sekarang, sebaiknya kau ikut denganku terlebih dahulu!"
Pria tersebut hendak menyerang lagi dengan mengangkat pedang kosmiknya, namun tiba-tiba, kedua bola mata Keira berubah warna, dari biru muda, menjadi biru tua.
"Lightning Double Cross!" seru Keira, lalu dua buah pedang kosmik berwarna biru tua tiba-tiba muncul di dalam genggaman tangan kanan dan kirinya.
Ia dengan cepat berjalan ke arah Keira dan mulai menyerang gadis tersebut dengan brutal, namun, gerakan Keira ternyata lebih lincah. Gadis Crossbreed itu bahkan mampu menahan semua ayunan pedang kosmik milik lawannya dengan senjatanya, Lightning Double Cross, berkali-kali, hingga ia berhasil merobek sedikit topeng milik lawannya.
“Sialan!” seru pria tersebut.
Mereka berdua kini berhenti menyerang setelah itu dan berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Pria itu kemudian menatap tajam ke arah Keira sambil menurunkan pedang kosmiknya.
"Kekuatan yang indah. Namun, semakin banyak kau bertarung dan menggunakan Double Cross itu, energi cahaya yang ada dalam dirimu akan semakin terkuras. Lalu bagaimana caramu untuk masuk ke dalam Planet Palladina dan mengisi ulang energi cahaya itu? Ah, aku lupa. Tidak mungkin kau bisa masuk ke dalam istana mereka dengan bebas, karena statusmu … adalah anak haram!" seru pria tersebut.
"Anak haram?" tanya Keira dengan wajah yang serius sambil masih menggenggam erat kedua pedang kosmik miliknya.
"Ya tentu saja, walaupun kau diberikan gelar putri kerajaan oleh ibu kandungmu, kau bukanlah putri mahkota. Lalu apakah kau masih punya keberanian diri untuk menghadapi rakyat-rakyatmu, setelah selama delapan belas tahun ini kau disembunyikan, bahkan Perdana Menteri Xyon sendiri yang membantu persembunyianmu?" tanya pria itu, lalu ia tertawa licik setelahnya.
__ADS_1
Kedua bola mata Keira tiba-tiba berubah lagi menjadi seperti semula, yakni berwarna biru muda. Kedua pedang kosmik miliknya juga menghilang, lalu ia berlutut sambil mulai meneteskan air mata.
"Aku … aku …," ucapnya sambil menahan kesedihan, dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh pria tersebut.
Ia langsung saja mendekati Keira dan mulai mengayunkan pedang kosmiknya, namun mendadak, Higarashi dengan cepat berdiri di depan Keira sambil menahan serangan itu dengan Divine Sword miliknya. Keira langsung menoleh ke arah Higarashi, sementara pria misterius itu justru terkejut dengan kehadiran sang pangeran mahkota dari Halida itu.
"Sialan, satu masalah lagi," ucap pria itu dengan kesal.
Ia tidak ingin bertarung dengan Higarashi, karena tahu ia pasti akan kalah.
"Baiklah," ucap pria tersebut sambil menurunkan senjatanya, "Selamat tinggal, sampai berjumpa lagi, sayang!"
Kabut-kabut hitam dengan cepat menyelimuti tubuh pria itu dan ia langsung menghilang entah kemana.
“Silverian sialan!” seru Higarashi.
Senjata kosmik miliknya lalu menghilang setelah itu, kemudian ia memutar tubuhnya ke belakang, dan berlutut. Ia lantas memeluk Keira dengan erat.
“Silverian?” tanya Keira pelan.
“Pria misterius itu melakukan Televortare, sesuatu yang hanya bisa mereka lakukan,” jawab Higarashi.
Keira masih terkejut. Kedua matanya melotot tajam ke depan.
"Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang," bisiknya, kemudian ia melepaskan pelukannya dan membantu Keira untuk berdiri.
Setelah mereka berdua kembali berdiri tegak, Keira justru masih terlihat kebingungan.
__ADS_1
“Televortare? Para Silverian? Apakah mereka sangat kuat? Aku … aku takut,” gumamnya di dalam hati.