
Tiba-tiba tubuh Keira bercahaya. Cahaya putih yang menyakitkan mata, dan kabut-kabut yang berwarna sama mulai menyelimuti dirinya. Xyon, Weim, Arex, Nordian, dan Higarashi bahkan sampai harus menghalangi pandangan mereka dengan tangan, karena silaunya cahaya putih tersebut.
“Keira! Kau sudah gila! Hentikan semua ini!!” teriak Xyon, lalu ia berusaha untuk meraih Keira untuk menghentikan aksinya, namun, cahaya putih yang menyelimuti tubuh perempuan berambut biru tua itu tidak bisa ditembus sama sekali.
"Azure Shield!!" teriak Keira, kemudian, kabut-kabut putih yang menyelimuti dirinya tadi, tiba-tiba melebar ke segala arah dan ukurannya semakin membesar hingga menembus keluar atmosfer Planet Halida.
“Keira!” teriak Xyon, namun, tidak ada yang bisa menghentikan perempuan itu.
Kabut-kabut putih tersebut membungkus seluruh bagian dari Planet Halida dan juga membereskan sisa-sisa kekacauan yang ada di dalam istana. Setelah itu, cahaya yang menyakitkan mata mereka tadi mendadak hilang, seolah masuk kembali ke dalam tubuh Keira.
Ia langsung merasa sangat lemas, lalu dengan perlahan, ia menurunkan kedua tangannya dan membiarkan badannya terjatuh di atas tanah dengan keras.
“Keira!” teriak mereka semua dengan wajah yang panik sambil melotot ke arah perempuan berambut biru tua itu.
Higarashi kemudian mengangkat tubuh istrinya tersebut, lalu menyandarkan tubuh Keira di dadanya. Xyon langsung menatap sang Putri Mahkota dari Halida itu dengan wajah yang kesal. Tampaknya Keira masih tersadar, walaupun pandangannya mulai kabur, namun, ia masih bisa membuka kedua matanya dan menoleh ke arah Xyon dengan wajah yang terlihat kelelahan.
"Kau sudah gila, Keira! Azure Shield membutuhkan energi antimateri yang luar biasa besar! Apa yang sudah kau lakukan, Keira? Hey, Keira!?" seru Xyon sambil mengguncang-guncangkan tubuh Keira, ketika ia melihat perempuan berambut biru tua tersebut mulai tidak sadarkan diri.
Kedua bola mata Keira sudah kembali berubah warna menjadi biru muda, namun, ia langsung menutup kedua mata dan kepalanya tiba-tiba terjatuh.
“Keira!” teriak Higarashi dengan wajah yang benar-benar terlihat panik, begitu juga keempat orang dari Palladina itu.
Ia dan Xyon berusaha untuk membangunkan Putri Mahkota dari Halida tersebut namun, Keira sudah tidak lagi menanggapi mereka semua. Xyon kemudian berhenti mengguncangkan tubuh Keira dan menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat penuh dengan kekecewaan dan amarah, hingga Arex, Weim, dan Nordian semakin panik dibuatnya.
“Xyon, apa sebaiknya kita membawa Keira kembali ke Planet Palladina untuk mengisi ulang energi cahayanya?” tanya Weim.
__ADS_1
“Apakah Keira … apakah ia ...?” tanya Arex dengan bibir yang gemetar.
“Tidak! Keira belum tewas! Keira!” seru Higarashi sambil menangis pelan.
Ia kemudian memeluk erat istrinya itu, dengan air mata yang mengalir hingga jatuh di atas tangan Keira. Xyon, Weim, Nordian, dan Arex juga mulai menangisi kepergian perempuan Crossbreed itu.
"Keira! Percuma saja kau membuat Azure Shield jika kau tidak akan pernah lagi kembali padaku! Para Silverian itu memang tidak akan bisa lagi memasuki planet ini, namun, mereka memang tidak akan pernah lagi masuk ke dalam planet ini karena kepergianmu! Aku lebih senang melihatmu menemaniku daripada kau harus membuat Azure Shield untuk planet ini, karena tidak akan ada lagi dirimu di sampingku! Bukankah ini adalah kutukanku, Keira? Dalam satu hari, aku kehilangan tiga orang yang kucintai. Tiga, Keira! Tiga orang!!” seru Higarashi, dan kali ini, ia menangis dengan sangat keras.
Xyon kemudian berdiri, lalu berkata, "Higarashi, sebaiknya kami membawa Keira kembali ke Planet Palladina."
"Siapa bilang pria tidak bisa menangis, Xyon?" seru Arex yang mendadak juga menangis dengan sangat keras.
Higarashi mulai berusaha mengikhlaskan kepergian istri yang baru saja dinikahinya itu, bahkan tidak sampai dua puluh empat jam. Ia kemudian mencium bibir Keira untuk terakhir kalinya untuk sesaat, lalu ia melepaskan ciuman itu dan kembali menatap istrinya. Tiba-tiba, dari atas langit Planet Halida yang cerah, bintang-bintang berbagai ukuran mulai berkumpul tepat di atas kepala mereka.
Xyon, Higarashi, dan ketiga Jenderal Senior dari Palladina itu kemudian menoleh ke atas. Bintang- bintang yang jumlahnya jutaan itu mendadak memenuhi langit Planet Halida hingga sesak, namun, sinarnya tidak sampai membuat mata-mata mereka sakit.
"Astaga, ada apa ini?!" seru Weim dengan wajah yang terlihat ketakutan.
Mata-mata mereka melotot ke arah langit, menatap bintang-bintang dengan wajah yang tampak terkejut. Tubuh Keira kemudian bersinar terang, dan mereka kemudian menoleh ke arahnya. Bintang-bintang yang sudah berkumpul di atas kepala mereka itu lalu mengeluarkan debu-debu halus yang berkelap-kelip.
Setelah beberapa saat, kumpulan debu-debu halus tersebut semakin banyak jumlahnya dan kini mulai meruncing serta melesat dengan cepat ke bawah, lalu masuk ke dalam dada Keira.
"Tidak mungkin! Energi bintang sebanyak itu, apa yang sedang terjadi?!" seru Nordian.
Sinar yang begitu terang mulai menyakitkan mata mereka begitu kumpulan debu-debu halus itu masuk ke dalam dada Keira. Mereka bahkan sampai menghalangi kedua mata dengan tangan masing-masing akibat silaunya sinar tersebut.
“Apa yang sedang terjadi?!” teriak Weim.
__ADS_1
Setelah debu-debu halus itu sudah seluruhnya masuk ke dalam dada Keira, sinar terang yang menyakitkan mata tadi kemudian menghilang. Bintang-bintang yang tadinya berkumpul di atas kepala mereka, lalu berpencar ke segala arah, dan langit kemudian kembali seperti semula.
Mereka lantas membuka mata dan langsung memperhatikan tubuh Keira yang tadi sempat bersinar amat terang.
"Hei, apa itu?!" tanya Arex sambil menunjuk ke arah Keira.
Mereka semua langsung memperhatikan Keira. Sebuah sinar berwarna biru muda yang berbentuk bintang kecil dengan warna biru tua, tiba-tiba muncul dari dalam leher perempuan berambut biru tua itu.
"Apakah itu Starlet?" tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku tidak pernah melihat Starlet yang seperti ini, yang masuk ke dalam tubuh seseorang,” ucap Higarashi dengan wajah yang terlihat kebingungan.
Tiba-tiba, Keira membuka kedua matanya secara perlahan.
"Keira!" seru Higarashi.
Keira mulai merasa pusing, dan penglihatannya agak kabur, namun, setelah beberapa saat, ia kembali bisa melihat jelas keempat orang paman dan suaminya. Mereka semua melotot ke arahnya, hingga ia bingung dengan apa yang sudah terjadi barusan.
"Huh? Apa yang sudah terjadi? Mengapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Keira.
"Keira, kau baik-baik saja! Kau masih hidup! Luka-lukamu … juga sudah hilang semuanya!" seru Weim, sambil menyeka air matanya.
“Apa yang sebenarnya sudah terjadi kepadaku? Mengapa wajah kalian terlihat panik seperti itu?” tanya Keira lagi sambil memperhatikan tubuhnya sendiri.
Higarashi kemudian memeluknya erat, lalu berbisik, "Terima kasih sudah kembali kepadaku, sayang.”
Keira kemudian membalas pelukan itu, namun sepertinya ia tersadar bahwa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dari dalam tubuhnya sendiri. Ia lalu melepaskan pelukan tersebut dan mulai meraba lehernya sendiri.
__ADS_1
"Uh? Apa ini?" tanya Keira dengan wajah yang kebingungan.
Ia bisa merasakan sesuatu dari dalam lehernya, walaupun ia tidak bisa melihatnya dengan jelas, namun ketika ia menundukkan kepala, ia melihat ada sinar yang menembus dari dalam lehernya.