Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Naluri Anexta


__ADS_3

Wanita itu kemudian kembali tersenyum dan menatap Xyon, lalu berkata lagi, “Tidak apa-apa, Tuan. Astaga, maafkan aku, seharusnya aku melayanimu. Baiklah, apa yang sedang kau inginkan hari ini, Tuan? Minuman dingin atau jus buah?"


Xyon masih terdiam, tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Kali ini, ia sudah mengerti mengapa wanita itu menangis. Ia bisa merasakan aura kesedihan yang sangat kuat pada wanita itu.


"Aku rasa mereka berdua adalah kandidat yang baik. Aku akan menyerahkan bayi ini kepada mereka," gumamnya pelan.


“Apakah anda sudah memutuskan, Tuan?” tanya wanita itu lagi.


Xyon langsung tersadar bahwa ia belum menjawab pertanyaan tersebut.


“Ah, oh, iya. Aku ingin jus saja. Dua botol jus! Iya, dua!” serunya dengan wajah yang sedikit terlihat panik.


Wanita itu tersenyum, lalu membalas, “Baiklah. Anda bisa menunggu di sini terlebih dahulu.”


Xyon mengangguk. Wanita tersebut kemudian berjalan masuk ke dalam toko minuman, meninggalkannya sendiri di sana. Kedua mata Xyon langsung melihat ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekelilingnya dengan sangat fokus.


“Baiklah, maafkan aku, nak, tapi kau harus berada di sini untuk sementara waktu. Kami akan menjagamu dari kejauhan. Tumbuhlah menjadi anak yang sehat dan kuat, lalu kembalilah kepada kami nanti,” bisiknya kepada bayi perempuan itu.


Ia lalu meletakkan bayi perempuan itu di atas tanah dengan hati-hati, kemudian berlari menuju ke bagian belakang sebuah toko yang belum buka, beberapa blok dari toko minuman tadi. Xyon lantas memperhatikan toko minuman itu dari sana, dengan sembunyi-sembunyi.


Bayi perempuan tersebut mulai menangis keras, dan kebetulan, wanita tadi keluar sambil membawa dua botol jus jeruk di kedua tangannya.


Wanita itu lalu melihat sekelilingnya dan tidak menemukan Xyon di sana.


“Astaga, ke mana pria itu?!” tanyanya dengan wajah yang terlihat kebingungan.


Ia lalu menundukkan kepalanya dan melihat bayi perempuan yang tergeletak di atas tanah sambil menangis keras.


“Pria itu! Astaga, mengapa ia meninggalkan bayinya di sini?!” serunya.


Wanita tersebut kemudian berjalan ke arah bayi perempuan itu, lalu berlutut dan menggendongnya. Ia berusaha untuk menenangkannya, dengan kembali berjalan masuk ke toko minuman yang juga adalah rumahnya sendiri.


“Sayang, sayang!” serunya kepada sang suami yang masih berada di depan kulkas sambil menghitung jumlah kaleng-kaleng minuman di sana.

__ADS_1


Pria tersebut langsung menoleh ke arahnya dan bertanya, “Ada apa, istriku?”


Wanita itu langsung memperlihatkan bayi perempuan tersebut kepada suaminya, lalu berseru, “Pria yang tadi itu menghilang, lalu meninggalkan bayi perempuan ini sendiri, tergeletak di atas tanah!”


Pria tersebut langsung terlihat gusar, “Mencurigakan sekali! Berhati-hatilah, sebaiknya kita tunggu terlebih dahulu pria tadi untuk kembali,” ucapnya.


Wajah wanita itu langsung menjadi sendu. Ia mengangguk. Mereka akhirnya menunggu Xyon untuk kembali ke sana sampai sore hari, dan sudah beberapa kali ia menenangkan bayi perempuan tersebut hingga sore hari di dalam toko minumannya.


“Tampaknya pria itu sama sekali tidak datang,” ucap wanita itu.


Suaminya menghela nafas panjang, lalu membalas, “Sungguh tega sekali pria itu meninggalkan bayi perempuan ini sendirian di sini. Jika memang ia tidak ingin memiliki seorang anak, lantas mengapa harus melakukan hal ini?!”


Mereka berdua terdiam, dan tangisan bayi perempuan itu kembali pecah. Wanita tersebut mulai terlihat gusar.


“Sayang, tampaknya bayi ini kelaparan,” ucapnya.


Ia kemudian masuk ke dalam kamar, diikuti oleh suaminya, dan membuka baju bagian atasnya, lalu mulai menyusui bayi perempuan itu.


“Walaupun sudah tujuh hari, namun, aku masih bisa menyusui anak ini,” ucap wanita tersebut sambil mulai berurai air mata.


“Pria sialan itu sudah membuangnya, Eleina. Aku … sama sekali tidak keberatan jika kita harus merawatnya,” ucap Dairu, suami dari wanita itu, Eleina.


Mereka berdua kemudian berpelukan. Eleina kemudian membuka selimut yang menutupi tubuh bayi perempuan itu setelah ia selesai menyusu. Sebuah kertas kosmik terlihat muncul dari balik selimut tersebut dan Eleina langsung meraihnya. Dairu juga memperhatikan benda asing tersebut dengan wajah yang terlihat kebingungan.


“Apa ini?” tanya Eleina.


Kertas kosmik tersebut kemudian menyala, dan menampilkan sebuah kata.


“KEIRA.”


Mereka berdua langsung mengerti setelah membaca tulisan tersebut.


“Anak ini bernama Keira,” ucap Dairu.

__ADS_1


Eleina mengangguk, lalu ia meletakkan kertas kosmik tersebut di sampingnya dan kembali menimang-nimang bayi perempuan itu sambil menatapnya dengan wajah yang ceria.


“Keira. Ya, anak ini adalah anak kita sekarang. Keira, itulah dia,” balasnya dengan air mata yang masih mengalir sedikit membasahi wajahnya.


Xyon yang masih berada di balik sebuah toko yang rupanya sudah tidak dihuni oleh siapa pun itu, mulai bernafas lega.


“Aku harus kembali dan melaporkan hal ini. Mereka tampaknya tidak bermasalah dengan anak itu. Namun, aku akan kembali lagi ke sini dan memeriksanya, besok,” gumamnya pelan.


Ia kemudian mengubah dirinya menjadi bintang kecil, kemudian melesat dengan cepat keluar dari Planet Bumi, untuk kembali menuju ke Planet Palladina.


Setelah beberapa saat di luar angkasa, Xyon akhirnya tiba di dalam Planet Palladina dan mendarat di halaman belakang istana, kemudian mengubah kembali fisiknya seperti semula. Ia berlari dengan tergesa-gesa ke dalam istana menuju ke ruang pribadi sang ratu, karena hari sudah mulai malam, sebelum orang lain mencurigainya.


Sesampainya ia di depan ruangan tersebut dan mengetuk pintunya, seseorang kemudian berseru dari dalam, “Masuklah!”


Xyon lalu membuka pintu dan masuk ke dalam dengan terburu-buru, dan tidak lupa untuk kembali menutup pintunya. Ia kemudian membungkukkan badannya sebentar di hadapan seorang wanita yang terlihat masih duduk di atas sofa tepat di sebelah kiri ruangan tersebut.


“Yang Mulia,” ucap Xyon pelan.


“Jenderal Senior Xyon, kau sudah kembali,” balas wanita itu, Anexta.


Xyon kemudian kembali berdiri tegak dan menatap sang ratu sambil berkata, “Anak itu sudah berada di tangan yang tepat. Kedua orang manusia tersebut tampaknya tidak memiliki masalah ketika aku meninggalkan Yang Mulia Putri Keira di sana bersama dengan mereka,” ucap Xyon.


Anexta menghela nafas panjang, lalu bertanya, “Apakah kau sudah mengingat-ingat di mana Keira berada, Jenderal Senior Xyon?”


“Tentu saja, Yang Mulia. Ia sudah bersama dengan sepasang suami istri yang memiliki sebuah toko minuman di sebuah kota kecil yang terletak agak jauh dari hutan lebat itu. Aku akan memastikan lagi kondisi mereka, pada esok hari,” jawab Xyon.


Anexta kembali menghela nafas panjang.


“Baiklah. Aku akan ikut denganmu,” ucapnya.


Xyon langsung tersentak setelah mendengarkan hal itu.


“Yang Mulia! Akan terlalu berbahaya jika anda ikut bersama denganku esok hari, hanya untuk melihat anak itu di sana!” serunya.

__ADS_1


“Keira adalah anakku, Jenderal Senior Xyon! Maka dari itu, aku harus mengetahui di mana ia berada, agar suatu saat nanti aku bisa mengambilnya kembali dari tangan kedua manusia itu!” seru Anexta dengan wajah yang terlihat kesal.


__ADS_2