Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXII


__ADS_3

"Hanya ada tiga orang dari dua puluh peserta yang lulus pada ujian kerajaan kali ini, dan berhak menjadi jenderal-jenderal selanjutnya. Silakan maju ke depan, bagi nama-nama yang akan kupanggil setelah ini," seru seorang juri sambil mengangkat secarik kertas kosmik dengan kedua tangannya.


"Giora!" ucapnya lagi.


Seorang pria berbadan besar berambut coklat dengan bola mata putih dengan memakai baju besi berwarna emas kemudian berjalan maju ke depan begitu namanya dipanggil, Giora. Ia berdiri di hadapan Derix sambil menatap lurus ke arah sang Jenderal Senior.


"Bryum!" seru salah seorang juri lainnya.


Seorang pria berbadan besar lainnya dengan rambut pirang dan bola mata coklat dan memakai baju besi yang berwarna perak kemudian berjalan maju ke depan, dan berdiri di samping Giora.


"Selanjutnya …," seru seorang juri lainnya, “selanjutnya, ah, nilai tertinggi. Selamat, Xyon. Silakan maju ke depan.”


Xyon lalu berjalan maju ke depan, dan berdiri di sebelah kedua peserta lainnya yang sudah terlebih dahulu dipanggil namanya. Sayang sekali Derix tidak bisa tersenyum karena ia harus netral, walaupun di dalam hatinya, ia sangat bangga pada anak laki-lakinya itu, yang bahkan mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian kerajaan tersebut.


Treya, Arnea, dan Derix kemudian berjalan mendekati tiga pria muda itu, dan langsung saja, ketiganya berlutut.


Sang Raja dari Palladina tersebut lantas tersenyum lebar, lalu berseru, "Giora, Bryum, dan Xyon. Dengan ini, aku menobatkan kalian sebagai jenderal baru bagi kerajaan dan Planet Palladina ini. Jadilah jenderal yang adil dan bijak, dan jagalah kedamaian galaksi ini selamanya. Jadilah seorang penjaga galaksi yang rajin dan berwibawa. Selamat untuk ketiganya! Bagi yang belum lolos, tentu kalian bisa ikut kembali dalam ujian kerajaan selanjutnya. Jangan patah semangat, dan teruslah belajar.”


“Kami bersumpah akan menjadi penjaga galaksi yang bijak. Terima kasih, Yang Mulia!” balas ketiga pria muda itu bersamaan.


"Kalian adalah Jenderal dari Palladina sekarang. Hanya selangkah lagi untuk menjadi penerus Jenderal Senior Derix. Aku harap kalian bisa menjadi penjaga galaksi yang bijak. Baiklah, selamat bertugas, Jenderal!" seru Treya lagi.

__ADS_1


Ia kemudian memutar badannya ke belakang, lalu berjalan masuk ke dalam istana, diikuti oleh Derix dan Arnea yang mengikutinya. Seluruh peserta ujian kerajaan yang tidak lolos dan ketiga jenderal baru itu lantas melangkah menuju ke segala arah, karena upacara yang singkat tersebut sudah selesai.


Xyon sendiri terlihat berjalan masuk ke dalam istana, dan Arnea yang rupanya masih berada di pintu masuk, tiba-tiba mendekatinya sambil tersenyum lebar, walaupun sang Jenderal baru tersebut hanya menundukkan kepala sebentar, tanpa menghentikan langkahnya.


Arnea lantas mengikuti Xyon dan berjalan di sampingnya.


"Selamat kepadamu, Jenderal Xyon! Setelah ini, kau pasti akan diperintahkan untuk melatih prajurit-prajurit baru!" seru Pangeran Mahkota itu dengan wajah yang tampak senang.


"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Xyon, masih dengan wajah yang datar.


Arnea kemudian menatap pria muda di sampingnya itu sambil mengernyitkan dahi, lalu bertanya, "Xyon, kau adalah makhluk yang sangat dingin. Wajahmu selalu datar tanpa ekspresi. Aku benar-benar penasaran apakah akan ada gadis yang mau menikah denganmu, atau tidak?”


"Aku … sedang tidak ingin memikirkan hal itu, Yang Mulia," jawab Xyon tanpa ekspresi, lalu ia melanjutkan, "Tugas utamaku adalah untuk melindungi Anda."


"Yang Mulia, Anda bisa memanggilku dengan nama tanpa gelar, seperti biasa. Aku akan sangat senang jika Anda melakukannya," balas Xyon, sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ah, kau akan sangat senang? Aku bahkan jarang sekali bisa melihatmu tersenyum! Hahaha! Baiklah, sebaiknya aku menemanimu berjalan menuju ke ruang kelas," balas Arnea.


Mereka kemudian berjalan terus, dari gedung satu ke gedung istana lainnya, dan sang Jenderal baru itu langsung masuk ke dalam ruang kelas begitu ia sudah tiba di sana. Hari itu, sepertinya suasana hati Xyon sangat kacau. Ia benar-benar sudah tidak sabar menantikan kesempatan untuk bisa kembali ke Planet Bumi.


Hari demi hari mulai berlalu, yang pada akhirnya tiga bulan sudah lewat dengan cepat. Pagi itu di dalam Planet Bumi, tepatnya di dalam kamarnya sendiri, Hyerin terlihat sudah berkali-kali keluar masuk kamar mandi, hanya untuk muntah. Ia merasakan mual yang sangat tidak biasa, hingga sama sekali tidak ingin sarapan pagi itu.

__ADS_1


Sambil duduk di atas ranjangnya, Hyerin mulai bergumam, "Xyon, apakah kau benar-benar tidak akan kembali? Aku sedang mengandung secara mortal, dan anak ini adalah anak kita. Apakah kau benar-benar tidak akan kembali?"


Wajahnya mulai terlihat sendu dan sedih.


Sambil melipat kedua lutut dan memeluknya, ia mulai berucap lagi, "Haruskan aku pergi ke sana? Haruskan aku menemuimu di sana? Karena rindu ini terlalu besar dan tidak bisa kutahan lagi. Mereka akan membunuhku begitu tahu siapa diriku yang sebenarnya. Mereka mungkin tidak menganggap planetku sebagai ancaman, namun ….”


Hyerin tiba-tiba menangis. Setelah beberapa saat, ia mulai menyeka air mata dari wajahnya, lalu berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamarnya. Ia menahan rasa mual yang mulai menyiksa, dan terus berjalan menuju ke restoran tempatnya bekerja.


Begitu ia tiba di sana dan masuk ke dalam dapur, Hyerin mendadak sangat mual hingga ia berlari menuju ke kemar mandi yang berada di pojok. Wanita pemilik restoran yang tiba-tiba berdiri di belakangnya entah sejak kapan, sepertinya sudah mengetahui sesuatu.


"Hyerin, jika kau merasa mual sekali, kau bisa mengambil libur terlebih dahulu. Jangan memaksakan dirimu sendiri," ucap sang Nyonya dengan senyum kecil di wajahnya.


Hyerin langsung menoleh ke belakang dan membalas, "Nyonya ….”


Ia lalu berjalan mendekati wanita pemilik restoran tersebut dan berdiri di hadapannya dengan wajah yang sedih, sambil menundukkan kepala.


"Maafkan aku, Nyonya. Sepertinya aku baru saja berada di awal-awal kehamilan," ucap Hyerin pelan.


"Ah. Sayang sekali suamimu sudah kembali bertugas. Namun ia sudah menitipkan dirimu kepada kami, jadi kau tenang saja. Rawatlah baik-baik anak yang ada di dalam kandunganmu, dan tentu saja, kau akan tetap mendapatkan gaji. Katakan saja jika memang kau membutuhkan sesuatu atau ingin mengambil liburan," balas sang Nyonya.


"Nyonya! Terima kasih sekali atas kebaikanmu!" seru Hyerin sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Astaga, Hyerin. Berdirilah, dan banyak-banyaklah duduk jika kau memiliki kesempatan," ucap wanita pemilik restoran itu lagi sambil menepuk bahu Hyerin perlahan.


Hyerin langsung berdiri tegak kembali, lalu menatap wanita tersebut dengan wajah yang tampak senang, sambil mengelus-elus perutnya yang masih terlihat kecil, sambil berharap Xyon akan kembali secepatnya. Ia bekerja dengan sangat santai pada hari itu, bahkan bisa duduk dan makan siang sebanyak mungkin dari balik dapur restoran.


__ADS_2