
Keira kemudian menatap Klafina dengan wajah yang serius.
"Tidak, Yang Mulia. Aku memang adalah seorang Halida karena pernikahan, namun, aku berasal dari Palladina. Status kami adalah penjaga galaksi, sementara status anda adalah sekutu kami. Dengan begitu, ini adalah kewajibanku sebagai seorang penjaga galaksi, karena yang seharusnya kulindungi adalah Anda, Yang Mulia," ucapnya.
Klafina tidak berkata apapun, namun, wajahnya kini terlihat sendu.
“Ahhh! Tolong!” teriak seseorang dari kejauhan, di luar ruang makan.
“Maafkan aku, Yang Mulia,” ujar Keira.
Ia kemudian berlari dengan cepat ke arah teriakan itu, meninggalkan Klafina sendiri di sana. Sang Permaisuri dari Halida itu hendak melangkah, namun, dari belakangnya, tiba-tiba seorang pria bertopeng dengan rambut berwarna abu-abu dan bola mata emas kemudian memeluknya, sambil mengarahkan pedang kosmik di bawah lehernya. Klafina langsung menghentikan langkahnya begitu ia sadar bahwa kini ia sudah tidak bisa lagi berlari ke mana pun.
"Siapa dirimu?" tanya Klafina.
"Aku? Ah, wajar saja kau tidak tahu. Kau bahkan tidak mengundang kami pada pesta pernikahan kemarin," jawab pria misterius itu.
"Tidak akan ada yang mau mengundang Silverian," balas Klafina dengan wajah yang terlihat kesal.
Sementara itu di dalam Planet Bumi, Higarashi terlihat sedang menunggu seseorang di depan gerbang sekolah sambil berdiri sendirian. Ia memperhatikan sekelilingnya sudah sejak dua jam lalu, namun, sama sekali tidak ada yang datang untuk menemuinya.
"Ah, mungkin ini hanya permainan, sialan. Aku sebaiknya kembali," gumamnya pelan.
Ia hendak berjalan dari sana, namun tiba-tiba, seorang perempuan yang ia kenal, berdiri di hadapannya dengan wajah yang serius. Higarashi kemudian menatap perempuan itu dengan wajah yang dipenuhi oleh kebingungan.
"Demira?" tanya Higarashi.
"Higarashi," balas perempuan itu, yang ternyata adalah Demira.
__ADS_1
Mereka kini berdiri saling berhadapan, dengan wajah-wajah yang serius.
"Apakah kau yang mengirimkan surat itu?" tanya Higarashi lagi.
"Tentu saja. Pemimpin kami benar-benar kurang ajar. Ia sudah merusak diriku, namun, masih mengejar cinta dari gadis lain. Sebaiknya aku memberontak, benar, bukan?" tanya Demira dengan senyum sinis.
Higarashi langsung berjalan mundur satu langkah dan memberikan jarak di antara dirinya dan Demira.
"Jadi, kau adalah seorang Silverian? Lalu mengapa kau bersekolah di sini?" tanyanya.
"Apa lagi jika bukan untuk memata-matai dirimu dan gadis Crossbreed sialan itu?" jawab Demira dengan wajah yang kesal.
Higarashi langsung mendekati Demira dan mencengkram kedua bahunya dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Apa maksudmu?!" tanyanya, namun Demira hanya tersenyum sinis.
"Kau seharusnya tidak menikahkan mereka berdua, dasar bodoh," ucap pria misterius itu.
"Mengapa tidak? Jika kekuatan dari gadis Crossbreed itu sangat luar biasa, bukankah ia akan melindungi kami, para Halida, dan Higarashi, dari ancaman kalian, Silverian? Lantas mengapa aku harus membuang kesempatan emas itu?" balas Klafina dengan wajah yang kesal.
Pria misterius itu tertawa kecil sebentar, lalu membalas, "Ah, ternyata kau licik juga, Yang Mulia. Padahal aku juga mengincar gadis Crossbreed itu, dasar bodoh!!"
Ia kemudian menusuk jantung Klafina dengan pedang kosmiknya hingga darah mulai mengalir dari dalam luka tusuk Permaisuri dari Halida itu. Klafina langsung terjatuh di atas lantai dan darah mulai membanjiri tubuhnya, namun, ia justru melotot tajam ke arah pria misterius tersebut.
“Pandangan macam apa itu? Bukankah ini adalah kutukan alam semesta karena kalian berani-beraninya menikahkan seorang Crossbreed dengan Pangeran bodoh itu?” seru pria misterius tersebut sambil mengarahkan ujung pedang kosmiknya di hadapan Klafina.
Permaisuri dari Halida itu kemudian tewas setelah beberapa saat, dan kebetulan, Keira masuk ke dalam ruang makan, hendak mengajak ibu mertuanya untuk melarikan diri. Ia langsung terdiam sambil melotot di depan pintu begitu ia melihat tubuh Klafina yang sudah terbaring kaku di atas lantai dengan darah yang mengalir dari dalam luka tusuk di dadanya.
__ADS_1
Tubuh Klafina kemudian berubah menjadi debu halus yang menghilang begitu saja di udara. Keira lalu menoleh ke arah pria misterius tersebut sementara pria misterius itu menatap tajam ke arah dirinya.
"Kau, seharusnya tidak menikah dengan Pangeran bodoh itu, sayang. Menikahlah denganku," ucap pria misterius itu sambil berjalan mendekati Keira, namun, perempuan berambut biru tua yang masih terkejut itu mendadak memutar badannya dan berlari dengan cepat menuju ke halaman depan istana.
“Hei!!” teriak pria misterius tersebut, yang langsung berlari mengejar Keira sambil menggeram dengan penuh amarah.
Keira berlari melewati beberapa lorong, namun ternyata, pasukan-pasukan Silverian sudah berhasil mengepung istana Planet Halida, dan membuatnya kebingungan.
“Astaga, apakah ada jalan lain untuk menuju ke halaman depan?” gumamnya di dalam hati.
Langkahnyai terhalang oleh beberapa pasukan Silverian yang sudah berada di lorong istana. Mereka mulai berjalan mendekatinya sambil mengarahkan senjata-senjata kosmik di hadapannya.
Kedua bola mata Keira tiba-tiba berubah warna, dari awalnya berwarna biru muda menjadi biru tua, lalu dengan wajah yang penuh amarah, ia berteriak, "Lightning Double Cross!"
Dua buah pedang kosmik berwarna biru tua kini sudah muncul di dalam masing-masing genggaman tangannya, dan langsung saja, ia menyerang pasukan-pasukan Silverian itu dengan cepat, seolah kedua pedang kosmik itu menyatu bersama dengan dirinya.
Ia dengan mudah menjatuhkan lawannya hanya dengan sekali ayunan pedang. Sambil menyerang pasukan-pasukan Silverian, Keira berlari menuju ke halaman depan istana dan menggenggam erat kedua pedang kosmik miliknya.
Begitu ia tiba di halaman depan istana, Keira kemudian menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk, dan melihat Neriya serta beberapa prajurit dari Halida yang sedang menyerang pasukan-pasukan dari Silverian. Ia lalu menoleh ke arah sebuah pesawat luar angkasa yang terparkir di sebelah kiri halaman depan istana.
“Silverian sialan! Paman Xyon pernah memberitahukanku bahwa mereka memiliki sebuah pesawat luar angkasa yang amat besar, dan aku tidak menyangka mereka akan benar-benar mengincar Planet Halida!” seru Keira di dalam hatinya.
Karena para Halida tidak memiliki kemampuan untuk memiliki senjata kosmik, maka senjata yang mereka gunakan hanyalah pedang-pedang dan perisai biasa, tanpa ada sesuatu yang khusus pada senjata mereka. Beberapa pelayan juga terlihat menggunakan Star Baton milik mereka untuk menghalau para Silverian itu, hingga energi bintang yang ada di dalam benda tersebut habis, dan mereka terpaksa melarikan diri atau dibunuh.
"Bunuh semuanya!" teriak Neriya, karena beberapa pasukan Silverian secara brutal menyerang prajurit dari Halida.
Para Halida yang tinggal di dekat istana juga mulai diminta untuk menjauh dari sana, menuju ke tempat yang lebih aman oleh beberapa prajurit, pengawal, dan pelayan kerajaan, atas perintah Neriya.
__ADS_1
“Tidak bisa. Aku harus ikut bertarung!” seru Keira di dalam hatinya.