Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Desa Manusia


__ADS_3

Sementara Xyon, Weim, dan Sey langsung mengambil posisi mereka masing-masing dengan berdiri di samping kiri dan kanan kereta antar planet tersebut. Mereka kemudian secara bersama-sama dengan alat transportasi itu, berubah menjadi bintang-bintang kecil yang dengan cepat, melesat ke luar angkasa.


Mereka kemudian masuk ke dalam lubang cacing yang terbuka setelah mereka persis berada di depannya. Lubang cacing itu juga langsung kembali menutup dengan cepatn setelah mereka sudah menembusnya.


Tidak butuh waktu lama, mereka lalu melesat melewati banyak planet dan bintang, kemudian tiba di atas Planet Bumi dan langsung menembus atmosfer planet biru itu namun dengan hati-hati, karena mereka harus menjauh dari satelit-satelit buatan manusia.


Setelah melesat dengan begitu cepat hingga melampaui batasnya, kereta antar planet milik kerajaan Palladina itu akhirnya tiba di dalam Planet Bumi, dan mendarat di tengah hutan yang sama seperti enam tahun lalu. Hutan yang sangat sepi karena begitu lebat dengan pepohonan, dan hampir tidak ada manusia yang berani masuk ke dalamnya.


Mereka kemudian mengubah fisiknya masing-masing, kembali seperti semula. Anexta lalu keluar dari kereta antar planet itu sendirian, tanpa ditemani oleh pelayan-pelayan pribadinya, dan langsung memperhatikan sekeliling hutan tersebut dengan sangat fokus. Seluruh prajurit dan pelayan juga keluar dari dalam alat transportasi itu setelah sang ratu.


Ketiga jenderal yang ikut dalam perjalanan tadi, kemudian berjalan dengan cepat mendekati sang ratu. Mereka lalu menundukkan kepala mereka di hadapan ratu dari Palladina itu, dengan wajah yang serius.


“Tidak perlu mendirikan kemah di sini. Aku hanya ingin langsung bertemu dengan Flerix, dan menghabisinya dengan cepat, lalu membawa anak itu kembali bersama kita,” ucap Anexta dengan nada tegas.


“Yang Mulia, aku akan segera mencari keberadaan mereka. Anda sebaiknya menunggu terlebih dahulu di sini,” balas Xyon dengan wajah  yang terlihat serius, namun sebenarnya, ia sedang merasa khawatir.


Anexta menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum kepada Xyon dan berkata, “Akan lebih cepat jika kita berpencar saja, Jenderal Senior Xyon. Kau tidak perlu meragukan kemampuan bertarungku. Mereka mengincar Planet Bumi dengan terlebih dahulu mendarat di dalam hutan lebat  ini, karena energi panas yang sangat terasa di sekitarnya.  Energi panas dari dalam perut Bumi dengan sumber daya yang amat banyak di dalam planet ini, tidak mungkin Flerix akan melepaskannya.


Xyon tidak membalas ucapan tersebut. Ia hanya menghela nafas pendek, sambil berusaha untuk tetap tenang walaupun rasa khawatir yang dirasakannya justru semakin besar.


“Mari kita berpencar. Jenderal Senior Xyon, bawalah Jenderal Sey dan beberapa prajurit bersamamu. Jenderal Weim dan prajurit-prajurit lainnya akan ikut bersama denganku,” ucap Anexta dengan nada yang sedikit tinggi.


“Baik, Yang Mulia,” balas Xyon, Weim, dan Sey bersama-sama.

__ADS_1


Mereka kemudian berlari ke arah yang berbeda. Kereta antar planet yang baru saja membawa mereka tadi, tiba-tiba berubah menjadi sebuah bintang kecil dan langsung melesat kembali ke luar angkasa. Hutan yang lebat, penuh dengan pepohonan bukanlah sebuah masalah bagi mereka. Sambil berusaha untuk tidak bertemu dengan manusia, mereka berlari tanpa rasa takut akan hewan buas ataupun duri-duri yang menusuk kaki mereka.


Namun, setelah sekian lama berlari ke sana dan ke sini, Xyon beserta Sey sama sekali tidak menemukan jejak-jejak para Silverian itu. Mereka memutuskan untuk berhenti berlari, di dekat sebuah sungai yang airnya terlihat jernih.


“Ini pasti jebakan dari pria gila itu lagi, Xyon,” ucap Sey dengan wajah yang kesal.


Xyon hanya menghela nafas panjang.


“Apa perlu kita kembali ke sana, Xyon?” tanya Sey.


Xyon masih terdiam sambil kedua matanya memperhatikan sekeliling hutan yang lebat itu.


“Xyon?” tanya Sey lagi karena ia merasa sang jenderal senior itu terlalu fokus melihat pepohonan di sekitarnya.


Sey langsung menghela nafas panjang sambil mengusap wajah dengan tangan kanannya, lalu menatap sang jenderal senior itu dengan wajah yang terlihat benar-benar kesal.


“Astaga, Xyon! Kita sudah berlari ke sana dan ke sini untuk beberapa jam dan tidak ada tanda-tanda bahwa para Silverian itu berada di sini! Weim pasti sudah salah melihat sebuah asteroid sebagai pesawat luar angkasa!” seru Sey.


“Kita harus terus memeriksa hutan ini, Sey,” balas Xyon dengan wajah yang dingin.


“Xyon!” seru Sey dengan nada tinggi, “Namun pemukiman penduduk sudah dekat! Kau bisa lihat sendiri, pepohonan yang mulai jarang di depan kita, dan jalan setapak yang mulai terlihat dari sini!”


Xyon langsung menunduk dan memperhatikan jalan setapak yang rupanya sudah mereka lewati sejak tadi. Wajahnya langsung terlihat kebingungan, namun, ia kemudian menatap Sey dengan wajah yang dingin.

__ADS_1


“Ini adalah perintah dari Yang Mulia Ratu. Kita akan melanjutkan pencarian ini,” ucapnya.


Sey hanya bisa menghela nafas panjang, “Baiklah, baiklah,” ucapnya.


Mereka lalu kembali berjalan dengan cepat tanpa mengetahui bahwa hutan itu sudah sampai ujungnya.


Setelah berlari untuk beberapa saat, Xyon dan Sey langsung menyadari bahwa mereka sudah sampai di sebuah desa terpencil yang terletak di ujung hutan tersebut, setelah melihat ada beberapa rumah yang terbuat dari kayu serta manusia yang sedang berlalu lalang di sana.


Mereka dengan cepat menghentikan langkah dan meminta para prajurit untuk berhenti. Sey mendadak terpana dengan suasana desa terpencil tersebut. Namun sepertinya ada yang tidak beres di sana.


“Xyon, bukankah mereka semua sudah tewas?” tanya Sey sambil menunjuk ke arah sebuah rumah yang sudah hancur dan beberapa tubuh manusia yang tergeletak di atas tanah.


Asap yang membumbung tinggi dari sejumlah rumah yang terbakar hebat, serta beberapa orang manusia, pria dan wanita, yang sedang membantu satu sama lain untuk berdiri. Ada juga yang sedang menangisi kepergian sanak saudara serta teman dan keluarganya sambil berlutut di atas tanah. Banyak barang yang berserakan dan rumah-rumah yang hancur, membuat kedua mata Xyon melotot tajam begitu ia melihat kondisi desa tersebut.


Tiba-tiba dari balik sebuah rumah yang kondisinya tidak begitu hancur, seorang pria terlihat berlari mendekati Xyon dengan wajah yang panik.


“Xyon! Xyon!” teriak pria itu hingga sang jenderal senior tersebut menoleh kepadanya.


Pria itu lalu berdiri dekat dengan Sey sambil berusaha mengatur nafasnya.


“Weim? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya.


Pria itu rupanya adalah Weim. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya, kemudian menatap Xyon dengan wajah yang serius.

__ADS_1


“Yang Mulia Ratu dan kami semua menembus hutan lebat itu dan tanpa sengaja, kami melihat pesawat luar angkasa yang berwarna hitam terparkir di kejauhan, persis seperti pesawat luar angkasa milik Flerix yang pernah kita lihat pada pertarungan sebelumnya,” ucap Weim.


__ADS_2