
“Apakah kau tidak lihat barusan? Prajurit-prajuritku saja tidak memiliki energi yang cukup besar untuk membalas serangan dari pasukan-pasukan milikmu, bahkan mereka terluka parah! Serangan-serangan yang dibuat oleh kelima jenderalmu itu, tentu saja lebih kuat daripada seluruh seranganku, ataupun seluruh serangan dari prajurit-prajuritku!” seru Flerix.
Anexta hanya terdiam, dengan wajah yang masih terlihat kesal.
“Lantas, apakah kau akan membunuhku di sini sekarang juga hanya karena keinginan kami untuk bertahan hidup? Hei, Ratu, bisakah kau berlaku adil kepada kami dan memperlakukan kami layaknya penduduk dari planet yang sedang terancam di bawah ujung pedang kosmik milikmu ini?" tanya Flerix dengan nada tinggi.
Anexta terlihat semakin geram setelah mendengar pertanyaan dari Flerix barusan. Ia bahkan semakin mendekatkan ujung pedang kosmik miliknya hingga hampir menyentuh hidung sang raja dari Planet Silverian itu.
"Aku tidak peduli akan kesengsaraan yang sedang kau rasakan, karena caramu yang kotor ini, justru sangat jelas menunjukkan kepadaku bahwa yang kau inginkan sebenarnya bukanlah rasa lapar, ataupun sumber daya dan energi bagi planetmu. Mundur, dan kembalilah ke Planet Silverian. Jangan lagi membuat keributan di dalam planet lain, dengan tujuan kotormu itu!” seru Anexta dengan berapi-api.
Flerix langsung tertawa kecil setelah mendengarkan hal itu, namun, ia sama sekali tidak membalas ucapan Anexta barusan.
“Kalian sudah mampu untuk mengendalikan energi gelap, bukan? Lantas apalagi yang kau cari, Raja Flerix? Kau bahkan sekarang bisa membuat senjata kosmik dengan menggunakan energi gelap itu. Bukankah itu berarti kau tidak membutuhkan sumber daya untuk bertahan hidup, melainkan … sebuah status?" tanya Anexta dengan wajah yang kesal.
Flerix hanya tersenyum, dan senyuman itu kali ini menantang Anexta. Ia mulai mengangkat pedangnya ke atas, hendak melukai raja dari Silverian itu.
“Aku tidak seperti ayahku, tentu. Maka, aku akan membunuhmu demi kedamaian galaksi ini dan galaksi lainnya. Selamat tinggal,” bisik Anexta.
“Tidak!” seru Ryena dari kejauhan dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Ia langsung berlari dari tempatnya, menuju ke tempat di mana kakaknya dan sang raja dari Planet Silverian itu sedang berada. Begitu tiba di sana, ia lalu berhenti di samping Flerix. Anexta langsung menoleh ke arah adiknya itu, begitu juga semua orang yang berada di sana. Wajah-wajah mereka terlihat sangat terkejut melihat kedatangan sang putri yang tidak diinginkan tersebut.
“Yang Mulia Putri!” teriak Xyon.
“Putri Ryena!” seru Anexta.
Namun, Ryena justru menatap kakaknya itu dengan sorot mata yang tajam.
"Hentikan, kakak!!!" seru Ryena, sambil mengangkat kedua tangannya dan menghalangi pedang kosmik milik kakaknya yang bersiap untuk melukai Flerix.
Melihat adiknya yang justru menghalangi dirinya, Anexta langsung menurunkan pedangnya sambil melotot kepada Ryena, termasuk Xyon dan keempat bawahannya serta seluruh pasukan dari planet Palladina, yang juga sangat terkejut melihat tuan putri mereka tiba-tiba menghalangi, bahkan terkesan seolah ia sedang melindungi raja dari Planet Silverian tersebut.
Ryena semakin menatap tajam kedua bola mata milik kakaknya, lalu berseru, "Kau tidak bisa melukai Flerix, atau siapapun dari Planet Silverian! Kau hanya salah paham, kakak! Mereka hanya ingin bertahan hidup, mengapa harus kau melakukan hal ini kepada mereka? Melukai semua orang dengan perang konyol ini?"
Anexta lalu menurunkan lengannya, namun masih menatap Ryena dengan wajah yang serius.
Ryena menggelengkan kepalanya, lalu membalas, "Tidak! Kakak! Aku sudah dewasa! Tentu saja aku tahu mana yang harus kulindungi, dan mana yang tidak! Kau sangat tidak bijak sekali menyerang planet lemah seperti ini! Mereka hanya mencari energi dan sumber daya untuk hidup, mengapa harus sampai melukai mereka? Mengapa kau sungguh tidak bijak, padahal kau telah bersumpah saat kau dinobatkan menjadi ratu untuk melindungi planet-planet seperti mereka ini? Bukankah seharusnya kau sendiri yang melindungi planet kecil dan lemah seperti planet Silverian ini, dan bukankah Para Palladian adalah penjaga Galaksi Metal? Lalu mengapa kau melakukan serangan kepada mereka, bahkan hendak membunuh pemimpinnya?”
Anexta langsung menyingkirkan Ryena dari hadapannya dengan mencengkram erat kedua bahu adiknya itu, dan menatapnya dengan wajah yang sangat serius. Ia langsung menarik Ryena dan membawanya sedikit menjauh dari Flerix.
__ADS_1
Mereka lalu saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang tajam.
"Ryena! Kau tidak tahu apa-apa tentang mereka. Dengarkanlah kakakmu ini, pergilah, sebelum kau sendiri terluka!" seru Anexta dengan nada yang pelan.
Ryena tiba-tiba menjadi geram dengan seruan itu, dan membalas, "Aku akan melindungi Flerix dan para Silverian yang lemah ini, kakak! Aku akan membuktikan bahwa aku mampu, aku kuat, dan kau salah tentang mereka!”
Mendengar pernyataan tersebut, Anexta menjadi sangat terkejut. Ia mendadak langsung menarik kembali lengan Ryena dan berjalan menuju ke belakang barisan para pasukan Planet Palladina.
Semua mata langsung tertuju kepada mereka berdua. Setelah berada di paling belakang barisan para pasukannya sendiri, Anexta lalu memutar tubuhnya ke belakang, hendak berbicara kepada adiknya tersebut.
Namun, Ryena, tiba-tiba dengan kasar, melepaskan cengkraman tangan kakaknya dari lengannya, sambil menatap Anexta dengan tatapan yang penuh dengan amarah.
"Kakak, kau selalu menganggapku tidak mampu! Kau pikir aku sebodoh itu? Kau pikir aku lemah dan tidak mengerti apapun, bukan?" tanya Ryena.
Anexta langsung menatap balik adiknya itu dengan sorot mata yang kembali tajam, sambil berseru pelan, "Kau tidak mengerti betapa mereka berbahaya! Apakah kau sudah gila, Yang Mulia Putri Ryena? Apa yang sudah kau katakan barusan, justru menyakiti hati prajurit-prajurit dari planet kita! Kau sendiri adalah seorang putri dari Planet Palladina, kau harus ingat itu, Ryena! Kau harus jaga ucapanmu sendiri, jika kau tidak mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi!"
Ryena langsung memicingkan kedua matanya sambil tersenyum sinis kepada Anexta.
"Oh, begitukah, Kakak? Bukankah kau selalu mengacuhkanku selama ini? Dimana dirimu ketika aku membutuhkanmu? Kau menganggap dirimu sendiri kuat, bukan? Mengapa? Apakah karena aku hanyalah seorang putri angkat dari mendiang Yang Mulia Raja Arnea dan mendiang Yang Mulia Permaisuri Klara, lantas kalian menganggapku tidak pantas?” tanyanya dengan nada tinggi.
__ADS_1
Anexta menghela nafas panjang setelah mendengar pertanyaan dari adiknya barusan, kemudian ia dengan pelan menjawab, "Ryena, baiklah, aku meminta maaf akan hal itu. Sebaiknya, kita bicarakan nanti, namun kali ini, kau benar-benar salah, adikku. Mereka kesini dengan tujuan jahat! Ryena, sadarlah!”
Ryena langsung mengubah tatapan matanya. Ia menatap kakaknya tersebut dengan penuh kebencian, kali ini.