Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Perundungan Tersembunyi


__ADS_3

Ia langsung merasa senang karena yakin gadis tersebut adalah Keira, namun ia harus memastikannya. Begitu bus berhenti di halte berikutnya dan gadis berambut biru tua tersebut turun, Higarashi langsung mengikuti jejaknya. Tampaknya tujuan mereka sama, yakni sekolah terkenal itu.


Mereka bahkan berganti bus sebanyak dua kali dan selalu naik di atas bus yang sama, namun gadis itu sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya. Pandangannya benar-benar kosong dan gadis tersebut hanya menatap ke bawah, walaupun sesekali ia melihat ke depan.


Higarashi masih mengikutinya dari belakang, hingga akhirnya mereka berdua tiba di sekolah dan gadis itu kemudian masuk ke dalam ruang kelas tiga-empat.


“Tidak mungkin!” seru Higarashi di dalam hatinya, karena terkejut.


Ia tidak menyangka bahwa ia dan gadis itu, selama ini ternyata bersekolah di sekolah yang sama. Karena tidak ingin gegabah, Higarashi memutuskan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar terlebih dahulu hingga lonceng pertanda istirahat berbunyi dan seluruh murid keluar dari ruang kelas mereka masing-masing, menuju ke segala arah, Higarashi langsung keluar dari ruang kelas tiga-satu, dan melihat gadis berambut biru tua tersebut sedang berjalan bersama empat orang gadis lainnya, menuju ke atas atap sekolah.


“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Higarashi di dalam pikirannya.


Ia lalu mengikuti mereka dari belakang, secara diam-diam hingga ke atas atap sekolah, dengan melewati lorong dan menaiki tangga yang sepi. Higarashi sebenarnya merasa curiga dengan seorang gadis yang berambut pendek berwarna pirang, yang sedang merangkul gadis berambut biru tua itu.


Salah satu gadis tersebut kemudian membuka sebuah pintu yang berada di ujung atas anak tangga, yang rupanya adalah pintu menuju ke atap sekolah. Gadis-gadis lainnya ikut melewati pintu tersebut, termasuk si gadis berambut biru tua tadi, kemudian salah satu dari mereka menutup rapat pintu itu.


Higarashi yang baru saja tiba di sana, langsung membuka sedikit pintu tersebut agar bisa mengintip apa yang hendak dilakukan para gadis itu.


"Hei! Aku sudah mengatakan padamu untuk lebih teliti! Apa kau dengan sengaja membuat kesalahan pada tugas-tugas kami agar guru memarahi kami?!" seru gadis berambut pirang tersebut.


"Maafkan aku, Chexy! aku tidak sengaja melakukan kesalahan itu! Soal tersebut sangat sulit dan aku tidak mengetahui jawabannya," jawab gadis berambut biru tua tersebut dengan wajah yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Hah? Alasan apa itu? Bukankah kau adalah gadis yang sangat pintar hingga para murid pria semuanya terkagum-kagum kepadamu?! Atau jangan-jangan kau memang sengaja, sedang membalaskan dendam kepadaku karena aku selalu memarahimu?" tanya Chexy, gadis berambut pirang serta bola mata coklat, yang memakai baju seragam sekolah berwarna biru-putih dan rok biru tua, dengan nada tinggi.


"Berlututlah, Keira! Kau sudah membuat ketua sangat marah! Tunjukkan sikap sopanmu!" seru salah seorang gadis lainnya sambil memukul bahu gadis berambut biru tua tersebut.


Higarashi langsung melotot begitu ia mendengar ucapan tersebut, lalu begumam, “Keira? Apakah ia benar-benar adalah Keira?”


Gadis berambut biru tua dengan bola mata berwarna biru muda itu ternyata adalah Keira. Ia kemudian berlutut di hadapan Chexy dan mulai menitikkan air mata.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja!" serunya sambil memohon.


"Tidak sengaja? Apa kau sedang memikirkan seorang pria hingga membuat kesalahan fatal seperti itu?" tanya Chexy dengan penuh emosi.


Seorang gadis kemudian berbisik dengan agak keras di samping Chexy, "Ketua, ada seorang murid pria yang baru saja masuk ke sekolah ini, ia sangat tampan. Rambutnya berwarna merah darah dan wajahnya benar-benar tampan, seperti seorang pangeran. Namun ia adalah murid kelas tiga-satu, dan kalau tidak salah, ia bernama Higarashi.”


"Ah, aku sudah tahu akan hal itu. Ia memang sangat tampan dan semua gadis meliriknya. Namun seharusnya kau tahu diri, Keira. Ia tidak pantas untukmu. Kau tidak perlu memikirkannya. Lihatlah dirimu, apa kau menganggap bahwa dirimu adalah seorang putri yang cocok untuk seorang pangeran? Uh … tampaknya aku lebih pantas untuknya daripada dirimu," ujar Chexy sambil mulai meraih rambut biru tua milik Keira yang panjang hingga sepinggang itu.


Ia kemudian mengeluarkan sebuah gunting kecil dari balik jas sekolahnya. Tentu saja Keira langsung melotot tajam ke arah gunting tersebut.


"Apakah kau tahu, Keira? Rambut panjang berwarna biru tua milikmu ini sangat membuatku kesal. Kau tidak boleh merasa lebih cantik daripada diriku. Fokus saja mengerjakan tugas-tugas yang kami berikan padamu. Lagi pula, pria mana yang mau menjadi kekasihmu? Kau lebih mirip alien daripada manusia, bahkan kau sama sekali tidak menarik dan kolot!" seru Chexy sambil memegang rambut Keira dengan erat.


“Chexy, kumohon,” ucap Keira dengan wajah yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


“Pegang dia!” seru Chexy dengan wajah yang terlihat kesal.


Gadis-gadis lainnya mulai memegang rambut panjang berwarna biru tua yang indah milik Keira, lalu meregangkan rambutnya agar Chexy bisa dengan mudah mengguntingnya.


Keira langsung memohon ampun dengan tangisan kecil, sambil sedikit memberontak, ia berseru, "Chexy! Tidak, bukan begitu! Maafkan aku! Aku bahkan tidak memikirkan pria mana pun yang ada di dalam sekolah ini! Chexy, kumohon, ini sudah keterlaluan! Aku selalu bisa menerima pukulan-pukulan darimu, namun kumohon kali ini maafkan diriku!"


"Memaafkan dirimu? Kau sudah membuatku malu setengah mati di depan kelas, karena kesalahan bodohmu membuat guru menghukumku! Kau pasti sedang ingin menggoda pria itu dengan rambut biru tua ini! Sekalian saja wajahmu, yang juga harus dirusak!" seru Chexy.


Ia mulai mengarahkan gunting kecil tersebut kepada Keira dan hendak memotong rambut biru tua panjang milik gadis itu.


“Chexy, kumohon!” seru Keira lagi.



Melihat perundungan yang semakin menjadi-jadi itu, Higarashi langsung mendobrak pintu, kemudian berlari ke arah Chexy dan mencengkram tangan gadis itu, lalu meraih gunting yang sedang dipegang olehnya.


Higarashi kemudian melempar gunting tersebut ke belakang, hingga membuat Chexy melepaskan genggamannya dari rambut Keira, serta gadis-gadis lainnya yang menjadi terkejut oleh aksi cepat pria itu barusan.


Pangeran Mahkota dari Halida itu lantas menatap Chexy dengan sorot mata yang tajam, sambil masih mencengkram erat tangan gadis berambut pirang tersebut. Perlahan-lahan tapi pasti, Chexy mulai merasa kesakitan.


"Sakit, hei, lepaskan!" seru Chexy sambil berusaha melepaskan cengkraman Higarashi dari tangannya, namun Higarashi tidak melepasnya, malah ia mencengkram tangan gadis itu semakin erat sambil menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam, juga dengan wajah yang penuh dengan kekesalan.

__ADS_1


Melihat wajah Higarashi yang penuh dengan kekesalan dan sorot matanya yang dingin, Chexy kemudian berjalan mundur beberapa langkah, karena mulai merasa ketakutan, apalagi tangannya masih dicengkram erat oleh pria itu.


"Hah! Jadi selama ini keributan di luar ruang kelas, semua karena dirimu yang sedang merundung Keira? Apa saja yang sudah kau lakukan? Menamparnya? Memukulnya? Atau … sudah berapa kali kau menggunting rambutnya dengan gunting tadi?" tanya Higarashi dengan nada tinggi.


__ADS_2