
"Di mana anak kita, Flerix? Seorang pelayan wanita tadi membawa anak kita untuk diperlihatkan kepadamu, namun ia tidak kembali lagi ke sini," tanya Ryena dengan wajah yang serius.
Flerix tersenyum sinis begitu ia mendengar pertanyaan tersebut.
"Anak kita? Dia hanya akan menjadi anakku. Dia adalah milikku. Kau hanya seseorang yang melahirkannya saja, tidak lebih," jawabnya pelan.
Wajah Ryena langsung menunjukkan kekesalan setelah ia mendengar jawaban itu.
"Apa maksudmu? Flerix! Katakan kepadaku, di mana anak itu sekarang! Apa yang akan kau lakukan pada anak itu! Ia baru saja lahir ke dunia!" serunya dengan nada tinggi.
Flerix tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan sebuah pedang kosmik yang berwarna hitam langsung muncul di dalam genggaman telapak tangan kanannya. Ia langsung mengarahkan pedang itu di bawah leher Ryena.
Mantan putri dari Palladina itu langsung melotot tajam kepada Flerix. Suasana menjadi sangat tegang di antara mereka berdua.
"Kau tidak perlu tahu, itu urusanku. Aku sudah tidak membutuhkan dirimu lagi,” bisik Flerix.
Ryena tersenyum sinis, lalu mendadak ia tertawa kecil, “Ah, aku baru tersadar akan sesuatu. Pantas saja kau tidak membantuku sama sekali dari sejak awal aku hendak melahirkan,” balasnya.
Flerix tertawa kecil sebentar, setelah itu ia menghela nafas panjang dan berkata, “Tidak semudah itu mengisi ulang energi gelap yang mulai menipis di dalam tubuhku, sayang.”
__ADS_1
“Kau! Apa yang hendak kau lakukan kepada anak itu! Flerix!!” teriak Ryena.
Flerix semakin mendekatkan pedang kosmiknya hingga hampir merobek kulit Ryena. Mantan putri dari Palladina tersebut hanya bisa menjauhkan sedikit tubuhnya dari ancaman bagian pedang kosmik milik raja dari Silverian itu.
“Sekarang, apakah kau memiliki kata-kata terakhir sebelum berubah menjadi debu halus, Nyonya?" tanya Flerix sambil menatap kedua bola mata Ryena dengan tatapan sinis.
Ryena hanya bisa memperhatikan sikap Flerix kepadanya, seolah tidak percaya akan apa yang sedang terjadi. Ia kemudian menggelengkan kepalanya sekali, dan air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.
"Kau sudah gila, Flerix. Aku adalah ibunya, dan kau tidak bisa melakukan ini kepadaku!" serunya dengan nada tinggi.
Flerix tertawa lebar setelah mendengar seruan itu. Ia lalu menurunkan pedang kosmiknya dan mendekatkan wajahnya di depan daun telinga Ryena, kemudian berbisik, "Aku tidak gila, sayang. Aku juga tidak sedang bermain-main. Lagi pula, ini semua juga bukan salahku. Kau saja yang sudah terjebak dalam perasaanmu sendiri. Kakakmu memang benar. Kau ini memang tidak pantas untuk mendapatkan gelar putri mahkota, apalagi menjalankan tugas-tugas kerajaan. Pantas sekali jika ayahmu tidak pernah memberikanmu gelar lebih daripada Yang Mulia Putri. Aku mulai merasa kasihan kepadamu, Ryena. Kau hanyalah seorang anak yang diangkat sebagai putri, mungkin agar ratu bodoh itu tidak kesepian karena ia adalah anak kandung yang sah, satu-satunya."
Ryena langsung menoleh ke arah Flerix dan membalas, “Ya, kakakku memang benar. Kau memang licik, Flerix. Ya, aku memang bodoh sekali, bisa-bisanya jatuh ke dalam jebakan yang kau buat ini. Dan sekarang, aku akan memperbaiki semuanya.”
Ryena langsung saja menepis tangan Flerix dari dagunya dengan kasar dan mendorong sedikit tubuh pria itu agar menjauhinya, lalu berkata, "Aku akan merebut anak itu lalu membawanya kembali ke Planet Palladina, dan memberikannya pil putih agar ia dipenuhi oleh energi cahaya! Kau boleh membunuhku, namun kau harus serahkan anak itu kepada mereka, Flerix!”
“Apa? Menyerahkan anak itu kepada mereka? Kau ini sebenarnya polos atau bodoh, Nyonya?” tanya Flerix sambil tersenyum sinis.
“Kau, akankah kau membunuhku sekarang?” tanya Ryena balik kepada pria dari Silverian itu dengan wajah yang terlihat penuh kemarahan.
__ADS_1
"Membunuhmu? Ya, tentu saja, itu juga akan kulakukan sekarang juga!" jawab Flerix.
Ryena yang sekarang dipenuhi rasa takut, marah, sedih, dan penyesalan, tiba-tiba berteriak, "Flerix! Selama ini, perasaanku kepadamu, kau anggap apa? Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, bahkan rela mengorbankan semuanya! Aku bahkan melepas statusku sebagai seorang putri dari Palladina dan memalingkan wajahku dari mereka semua! Aku juga menelan pil hitam yang kau berikan kepadaku waktu itu sebagai bukti rasa cintaku kepadamu!”
Flerix hanya tertawa, lalu membalas, "Cinta? Hei, kukatakan padamu, tidak ada yang namanya cinta di dunia ini. Energi cinta adalah energi mortal, bahkan jika kau tewas, aku bisa saja mencari wanita lain untuk menggantikan dirimu. Energi yang tidak berguna dan sia-sia!”
Kedua mata Ryena terlihat memerah. Ia bahkan mulai menggigit bibirnya sambil masih menahan sakit di sekujur badannya setelah melahirkan tadi. Dengan perlahan, Ryena kemudian meletakkan tangan kanannya di samping, sambil mencari-cari kesempatan.
“Cinta adalah kebohongan terbesar yang dibuat-buat! Dengan demikian, aku tidak akan mencintai siapa pun! Ah, jangan-jangan, kau selama ini berpikir dan bertingkah sebagai permaisuri dari planetku? Oh tidak! Aku tidak akan pernah menobatkan seorang permaisuri untuk Planet Silverian! Hanya aku, aku, dan akulah yang satu-satunya akan menjadi raja, dan penguasa Galaksi Metal!” seru Flerix dengan senyum sinis di wajahnya.
Kata-kata dari Flerix barusan telah membuat hati Ryena terluka. Ia menangis tanpa membalas ucapan dari pria yang pernah dicintainya itu. Air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya, walaupun ia masih menatap Flerix dengan tatapan yang penuh rasa marah.
Ia mulai menyesali keputusannya sendiri yang sudah terlambat, namun, tangan kanannya masih mencari-cari kesempatan untuk menyerang raja dari Silverian itu.
"Anak itu akan kubawa kembali ke planet yang seharusnya, yakni Planet Silverian, dan ia akan belajar untuk mengayunkan senjata kosmik miliknya sendiri, agar aku bisa menjadikannya sebuah alat untuk membantu rencanaku dalam menjadikan Planet Silverian sebagai satu-satunya planet penguasa Galaksi Metal, dan menggantikan kalian, Planet Palladina!" ucap Flerix yang lalu mulai mengangkat pedang kosmiknya dan mendekatkan ujungnya tepat di bawah leher Ryena.
Berpikir bahwa mungkin ini adalah kesempatannya, sebuah pedang kosmik yang berwarna abu-abu kemudian muncul di dalam genggaman tangan kanan Ryena.
“Pria sialan!” teriaknya sambil dengan cepat mengangkat pedang kosmik itu dan mengayunkannya ke arah Flerix.
__ADS_1
Karena serangan mendadak itu, Flerix langsung terlihat sangat terkejut. Ia dengan cepat menghindar ke samping, dan hal ini membuat Ryena terjatuh dari ranjangnya. Mantan putri dari Palladina itu kini tersungkur di atas tanah, dengan Flerix yang melotot tajam ke arahnya dan pedang kosmik miliknya yang jatuh jauh dari posisinya sekarang.
Ryena lalu mengangkat kepalanya, kemudian berkata, “Kau dan planetmu memang seharusnya mati, Flerix.”