
“Aku sangat berterima kasih kepada Raja dan Permaisuri dari Diamona untuk menyelamatkanku sehingga aku bisa melahirkan kedua pangeran tampan ini. Ya, mereka adalah immortal. Aku sudah berusaha untuk melindungi mereka dengan energi antimateriku yang hampir habis, dan aku senang pada akhirnya, mereka bisa di sini bersama dengan kita semua,” balas Keira sambil tersenyum kepada pria pejabat tinggi tersebut.
“Baiklah, aku akan segera memulai acaranya,” seru Higarashi.
Ia kemudian melingkarkan Starlet berwarna biru tua di leher Xavion dan berkata, "Bayi laki-laki ini adalah anakku yang lahir terlebih dahulu. Ia bernama Xavion, dengan gelar resmi yang akan kuberikan kepadanya, Yang Mulia Pangeran Xavion dari Halida!!"
Seluruh tamu langsung bertepuk tangan setelah itu. Higarashi lantas mendekati perawat yang sedang menggendong bayi Xevion, kemudian melingkarkan Starlet berwarna merah di leher bayi tersebut.
"Bayi laki-laki ini bernama Xevion, dengan gelarnya, Yang Mulia Pangeran Xevion dari Halida. Ia adalah anakku yang lahir setelah kakaknya, Xavion," seru Higarashi.
Orang-orang kembali bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. Higarashi kemudian kembali menatap mereka dengan wajah yang serius.
"Aku tidak akan memberikan gelar pangeran mahkota untuk sekarang. Jika suatu saat salah satu dari mereka ingin menjadi penerus kerajaan Palladina menggantikan Perdana Menteri Xyon yang sekarang masih menjabat, maka aku tidak akan melarangnya, demikian. Silakan nikmati pesta kecil di ruangan sederhana ini, dan sekali lagi, terima kasih,” ujar Raja dari Halida tersebut.
Higarashi dan Keira kemudian turun dari altar dan berjalan menuju ke arah meja di mana Xyon sedang berada, sementara kedua perawat perempuan tadi diminta untuk kembali ke kamar bayi agar kedua pangeran kecil itu tidak terganggu dengan pesta yang akan segera dimulai.
Perdana Menteri dari Palladina itu lantas menoleh ke arah sepasang suami istri tersebut dengan wajah yang dingin. Gerofin dan Rexi tampak sudah berada di pojok ruang utama, berbicara dengan beberapa bangsawan dari Ruthenia.
"Keira, ia benar-benar menghabis-habiskan energi antimateri yang ada di dalam dirinya sendiri!" seru Arex sambil mengernyitkan dahinya.
"Namun, Arex, aku bisa memakluminya. Ia adalah seorang ibu, bukan?" tanya Weim.
“Energi cinta, itulah yang mereka katakan,” balas Aerim sambil menggelengkan kepalanya sekali.
"Maka dari itu aku membenci pernikahan. Cinta itu membuatmu bodoh, Aerim," ucap Xyon.
__ADS_1
Aerim menghela nafas panjang, lalu sambil tersenyum lebar, ia menggoda Xyon dengan berkata, "Ah, Xyon. Pantas saja di usiamu yang sudah ratusan tahun ini, kau masih belum juga memiliki seorang wanita untuk sekadar menemani dirimu, menyedihkan sekali.”
Xyon terdiam. Ia masih menatap ke arah Higarashi dan Keira yang sedang berjalan keluar dari pintu samping ruangan tersebut, dengan wajah yang datar.
Namun tiba-tiba saja, ia mengejutkan keempat pria yang berada di sampingnya dengan berujar, "Aku pernah mencintai seorang wanita, namun ia sudah meninggal sejak lama.”
Aerim, Arex, Nordian, dan Weim langsung melotot ke arahnya.
“Kau tidak pernah menceritakan hal itu kepada kami,” balas Arex.
"Ia adalah cinta pertamaku, namun cerita itu sudah berpuluh-puluh tahun lalu dan aku sudah melupakannya. Lagi pula ia juga sudah tidak ada di sini. Aku tidak ingin membicarakannya lagi," balas Xyon dengan wajah yang masih datar.
Keempat pria itu lantas terdiam.
"Ah, maafkan aku, Xyon," ucap Aerim pelan, dan mereka akhirnya menatap ke arah yang berbeda.
Sementara itu di salah satu lorong, Keira terlihat berjalan dengan terburu-buru hingga ia mendahului suaminya. Higarashi langsung merasa tidak bisa lagi menahan emosi, lalu dengan kasar, ia meraih tangan kiri Keira dan mencengkramnya erat-erat. Permaisuri dari Halida tersebut langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suaminya dengan wajah yang tampak kesal.
"Apakah kau sedang menghindariku, Keira?" tanya Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
Keira kemudian melepaskan cengkraman Higarashi dari tangannya dan menjawab, "Ya, aku sedang menghindarimu. Ada baiknya kita saling menjaga jarak mulai sekarang, Higarashi."
Ia lalu kembali berjalan, hendak meninggalkan suaminya itu, namun, Higarashi dengan cepat memeluknya dari belakang, dan sekali lagi, Keira terpaksa berhenti melangkah.
"Apakah kau tidak akan pernah memaafkanku, Keira?" bisik Higarashi dengan wajah gusar.
Keira terdiam. Ia hanya menghela nafas pendek.
"Ada apa, Keira? Mengapa kau tidak mengatakan apapun kepadaku?" tanya Higarashi sambil semakin memeluk istrinya itu erat-erat.
__ADS_1
"Apakah kau yakin akan menjawab pertanyaanku, Higarashi?" balas Keira dengan nada rendah.
"Jika itu bisa mengubah hubungan kita kembali seperti sebelumnya, maka tanyakan kepadaku!" balas Higarashi dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Keira kemudian tersenyum sinis, lalu bertanya, "Siapa itu Viora?"
Higarashi terdiam, lalu tiba-tiba, ia melepaskan pelukannya dari Keira. Keringat dinginnya mulai membasahi wajahnya. Permaisuri dari Halida tersebut lantas memutar badannya ke belakang dan langsung menatap Higarashi dengan wajah yang ceria.
"Ah, sudahlah. Ia hanya pemilik restoran yang ada di pantai waktu itu, bukan? Baiklah, lupakan saja,” ujar Keira sambil menepuk lengan Higarashi dua kali, lalu pergi meninggalkan suaminya tersebut sendiri di sana.
Higarashi hanya bisa menatap punggung Keira dengan wajah sendu, kemudian bergumam, “Mengapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu? Mengapa?”
Di sisi lain, pesta meriah yang kini sedang berlangsung di ruang utama istana kerajaan Halida, dimulai. Sementara Arex, Weim, dan Nordian menikmati makanan dan minuman yang disediakan di sana, Xyon serta Aerim justru terlihat berjalan menuju ke halaman belakang.
Sambil melangkah bersama dengan Perdana Menteri dari Palladina itu, Aerim terus menerus berkata di dalam pikirannya, “Tidak. Aku harus memberitahukan semua kepada Xyon! Namun … bagaimana cara agar Keira tidak marah kepadaku?”
Ia lalu menggelengkan kepala sekali, kemudian memperhatikan punggung pria tua itu dan bertanya, “Xyon, apakah kau mengetahui sesuatu tentang Planet Blackerian?”
Xyon langsung menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya ke belakang dan menatap Aerim sambil menghela nafas pendek.
“Planet Blackerian? Bukankah planet itu berada di ujung galaksi dan mengorbit sebuah lubang hitam raksasa? Aku tidak pernah melihat ada seorang Blackerian berkunjung ke planet-planet yang ada di dalam Tata Surya Goldinian ini. Ada apa, Aerim?” tanyanya.
“Viora yang kemarin kita bicarakan, nama asli wanita itu adalah Meteorix. Aku mengganti namanya agar tidak ada Ruthenian yang mengenalinya,” jawab Aerim, “aku sudah mencari informasi tentang dirinya selama beberapa hari ini, dan tampaknya, ia adalah seorang Blackerian yang mampu mengendalikan materi gelap dari lubang hitam tersebut.”
Xyon langsung melotot tajam, kemudian bertanya lagi, “Meteorix?”
Ia tiba-tiba terdiam. Wajahnya yang tampak gusar membuat Aerim kebingungan dengan sikapnya.
"Ada apa, Xyon?" bisik Raja dari Silverian itu dengan nada rendah.
__ADS_1
“Aku sepertinya pernah mendengar, namun tampaknya sudah lama sekali, dan aku tidak mengingatnya lagi. Apakah kau yakin nama sebenarnya dari wanita tersebut adalah Meteorix?” jawab Xyon sambil mengernyitkan dahi dalam-dalam.