
"Biarkan aku menemanimu hari ini. Pria-pria berbadan besar kemarin pasti memiliki anggota kelompok lainnya," jawab Xyon, juga dengan wajah yang memerah.
Mereka saling bertatapan satu sama lain, dan jantung Xyon kini berdetak semakin cepat begitu ia melihat wajah Hyerin yang … memang cantik tanpa riasan.
"Uh, Xyon, aku …. Aku baik-baik saja …," jawab Hyerin dengan wajah yang semakin memerah.
Ternyata jantungnya juga sedang berdetak dengan cepat begitu ia merasakan genggaman tangan pria muda tersebut.
"Ah, maafkan aku," ucap Xyon setelah menyadari sesuatu, lalu ia melepaskan genggamannya dari tangan Hyerin.
"Aku bisa pergi sendiri, Xyon. Terima kasih atas tawarannya. Aku sudah terbiasa melewati jalan yang sama selama beberapa tahun ini, jadi kau tidak perlu khawatir," balas Hyerin dengan senyum di wajahnya, kemudian ia melanjutkan, "baiklah, aku pergi dulu, sampai nanti!"
Xyon tidak membalas ucapan itu. Hyerin kini kembali berjalan, keluar dari gedung penginapan tersebut, menuju ke restoran tempatnya bekerja. Setelah beberapa saat, ia mulai merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
Ketika ia hampir tiba di tempat kerjanya, tiba-tiba Hyerin menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang dengan cepat.
"Xyon?" serunya dengan wajah yang tampak terkejut.
"Tenang saja, aku hanya ingin mencari sarapan di sekitar sini," balas Xyon dengan wajah datar.
Hyerin menggelengkan kepalanya. Ia kemudian kembali melangkah dan setelah tiba di dalam restoran itu, ia langsung berjalan ke bagian belakang dan meraih celemek miliknya yang tergantung di balik pintu dapur.
Ia kemudian keluar setelah memakai celemek tersebut untuk segera bekerja, namun ia justru melihat Xyon yang kini sedang duduk di atas kursi di bagian pojok kanan restoran tersebut. Hyerin lantas mendekati pria muda itu, dan berdiri di sampingnya.
"Apa yang akan anda pesan hari ini, Tuan?" tanya Hyerin.
"Mengapa kau berbicara dengan formalitas kepadaku, Hyerin?" tanya Xyon pelan.
"Karena aku sedang bekerja," jawab Hyerin pelan dengan senyum kecil di wajahnya.
__ADS_1
"Ah, baiklah. Aku akan memesan secangkir kopi saja hari ini," jawab pria muda tersebut.
Hyerin menghela nafas pendek, kemudian membalas, "Baiklah, Tuan. Aku akan segera menyiapkannya. Terima kasih!"
Ia berjalan menuju ke dapur dan mulai membuat secangkir kopi untuk Xyon. Tidak butuh waktu lama, Hyerin lalu meletakkan cangkir tersebut di atas nampan, berjalan kembali menuju meja di mana pria muda tadi sedang menunggu.
Ia lantas meletakkan cangkir yang berisi kopi hitam tersebut di atas meja, lalu berkata, "Selamat menikmati kopi Anda, Tuan."
"Terima kasih," balas Xyon.
Hyerin kemudian tersenyum, lalu berjalan kembali menuju ke dapur. Xyon hanya bisa menatap kopi yang ada di dalam cangkir kecil itu dengan wajah yang datar.
"Senyuman itu, mengapa terlalu banyak membayangi pikiranku?" gumamnya dalam pikiran.
Ia kemudian meminum sampai habis kopi tersebut, lalu mengeluarkan sekeping koin perak dari dalam saku celananya dan langsung meletakkannya di atas meja. Setelah itu, ia berjalan keluar, menuju ke sebuah bangku panjang yang berada di seberang jalan, namun letaknya agak jauh dari restoran tersebut.
Xyon lantas duduk di sana, namun matanya masih mengawasi restoran tersebut dari kejauhan. Ia begitu fokus memperhatikan Hyerin dari balik dinding kaca yang menembus ke dalam tempat makan itu.
Tiga jam berlalu, dan karena sudah jam makan siang, Hyerin terlihat keluar dari restoran tersebut, berjalan sambil membawa sebuah kantong yang berisi dua buah kotak makan. Xyon langsung berdiri dan mengikuti ke mana Hyerin hendak pergi.
Gadis berambut hitam itu terus melangkah hingga ia tiba di dalam sebuah gang sempit, sambil mulai memperhatikan sekelilingnya.
“Astaga, di mana rumah orang ini? Ia sudah memesan dua kotak dan berkata di telepon kalau rumahnya berada di sini, namun mengapa nomornya tidak ada?” gumam Hyerin pelan dengan wajah gusar.
Ia lalu melangkah lagi, hendak keluar dari sana namun langkahnya langsung dihentikan oleh enam orang pria yang berbadan besar, yang tiba-tiba saja datang dari jalan masuk gang itu. Mereka masing-masing terlihat membawa senjata seperti batang kayu, pisau lipat, dan pedang. Hyerin mulai ketakutan, ia langsung berjalan mundur karena pria-pria itu kini mengambil langkah maju untuk mendekatinya.
"Kalian …. Apa yang kalian inginkan kali ini?!" seru Hyerin dengan wajah yang dipenuhi ketakutan dan keringat dingin yang mulai mengalir membasahi wajahnya.
"Gadis cantik, apakah kau tidak sadar bahwa kekasihmu kemarin sudah melukai teman-teman kami?" tanya seorang pria dengan senyum sinis di wajahnya.
__ADS_1
"Pria itu bukan kekasihku," jawab Hyerin dengan bibir yang bergetar walaupun ia menunjukkan ekspresi serius.
"Siapa pun dirinya, kami akan membuat perhitungan dengannya, dan juga dengan dirimu, Nona," ucap seorang pria lainnya yang juga menatapnya dengan wajah kesal.
Hyerin mulai kebingungan karena tidak ada jalan keluar lain dari gang sempit tersebut kecuali jalan masuk yang juga adalah jalan keluarnya. Sementara ujung gang tersebut adalah jalan buntu. Tiba-tiba saja seorang pria muda “meloncat turun dari atas genting sebuah rumah, mendarat tepat di depannya, lalu berdiri tegak sambil menggenggam sebuah pedang kosmik berwarna putih yang ujungnya sangat tajam.
Hyerin dan pria-pria berbadan besar tersebut langsung terkejut. Mereka semua menghentikan langkahnya begitu melihat aksi cepat dari pria muda tersebut.
"Xyon! Apa yang sedang kau lakukan di sini?!" tanya Hyerin pelan dengan wajah yang masih terlihat ketakutan.
Pria muda tersebut memasang badan untuk Hyerin sambil menatap kumpulan pria-pria berbadan besar di hadapannya dengan wajah yang masih datar tanpa ekspresi.
"Mengikutimu sampai ke sini," jawabnya pelan.
“Oh, jadi pria ini adalah kekasihmu, Nona? Itu tandanya ia adalah orang yang sudah melukai teman-teman kami kemarin! Sekarang, kami akan membuat perhitungan denganmu hari ini!” seru seorang pria berbadan besar tersebut dengan nada tinggi.
“Xyon, jumlah mereka lebih banyak, sebaiknya kita lari saja,” bisik Hyerin pelan dengan wajah yang gusar.
Pria muda itu kemudian menggenggam tangan Hyerin sambil salah satu tangannya yang lain, memegang pedang kosmiknya erat-erat. Ia lalu menatap ke arah pria-pria berbadan besar tersebut dengan wajah serius.
“Aku memang akan berlari, bersama denganmu,” balas Xyon.
“Majulah! Pria pemberani! Kau sendirian bersama seorang gadis yang lemah, jadi sebaiknya menyerahlah sebelum kami membuatmu tewas, Pahlawan!” seru seorang pria berbadan besar dengan wajah yang memerah.
Xyon tersenyum sinis, lalu berseru, “Kalianlah yang seharusnya pergi dari sini sebelum pedang milikku ini merobek tubuh kalian!”
“Xyon, tidak. Kau akan kalah, mereka berenam dengan badan besar!! Sebaiknya kita menyerah saja dan berlari dengan cepat begitu ada kesempatan!” bisik Hyerin dengan bibir yang bergetar.
“Aku akan berlari sekarang, Hyerin!” seru Xyon sambil melotot tajam.
__ADS_1
“Apa?!” balas Hyerin dengan wajah yang tampak terkejut.