Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Surat dari Planet Silverian


__ADS_3

Beberapa bulan kembali berlalu dengan sangat damai, bahkan di dalam Planet Palladina sendiri, Anexta sepertinya sudah mulai bisa tertawa, walaupun ia tetap meminta kelima jenderalnya untuk terus berpatroli dan melaporkan kepadanya apabila mereka melihat ada sesuatu yang keluar dari dalam Planet Silverian.


Seolah kedamaian mulai kembali untuk Galaksi Metal, seluruh penduduk dari planet-planet lainnya kini mulai memberanikan diri untuk pergi keluar dari planetnya untuk menuju ke planet atau galaksi lainnya.


Para pemimpin planet juga mulai melonggarkan pengamanannya, dengan kembali membuat pesta yang meriah. Bahkan kegiatan ekonomi mulai kembali berjalan, terlihat para penduduk yang biasa mengambil sumber daya dari planetnya kini sudah berani untuk pergi ke Planet Bumi dan menjualnya kepada manusia mortal.


Mereka menjual sumber daya dari planet mereka sendiri kepada manusia, bukan tanpa alasan. Manusia melakukan segala kegiatan bisnisnya menggunakan uang, dan dengan uang yang berasal dari hasil penjualan tersebut, makhluk-makhluk immortal yang berasal dari Galaksi Metal bisa tinggal di dalam Planet Bumi tanpa harus bekerja susah payah.


Berbeda dengan planet yang ada di dalam Galaksi Metal, di mana uang sudah tidak berlaku lagi karena mereka sudah memiliki segalanya dengan begitu mudah. Sumber daya yang dijual oleh para immortal ini biasanya adalah logam-logam murni yang bisa dijual mahal di dalam Planet Bumi oleh para manusia.


Seperti para Palladina yang menjual logam palladium murni, para Halida yang menawarkan senyawa kimia halida, atau para Diamona, Ruthenia, dan Osmia yang masing-masing ikut menjual berlian, logam rutenium, dan logam osmium murni.


Karena praktik perdagangan inilah, para immortal bisa dengan leluasa bolak balik dari dan ke Planet Bumi tanpa harus memikirkan tentang uang yang berlaku di dalam planet biru itu.


Kembali ke Planet Palladina, pada suatu hari, ketika Anexta sedang berada di halaman belakang istana bersama Xyon dan Weim sambil membahas tentang banyak hal, seorang pelayan perempuan terlihat berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.


“Yang Mulia! Tuan-tuan!” seru pelayan perempuan itu dengan nafas yang tersengal-sengal.


Anexta, Xyon, dan Weim langsung terkejut begitu mereka mendengar seruan itu. Mereka bahkan menoleh ke arah pelayan perempuan tersebut sambil melotot. Begitu ia tiba di hadapan sang ratu, pelayan perempuan itu kemudian membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


“Ada apa ini?! Mengapa kau harus berlari seperti itu?!” tanya Anexta dengan nada tinggi.

__ADS_1


Pelayan perempuan itu kemudian kembali berdiri tegak dan menundukkan kepalanya, lalu mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang sebuah kertas transparan di hadapan Anexta.


“Yang Mulia! Surat ini baru saja tiba, dan ditujukan langsung kepada anda!” jawab pelayan perempuan itu dengan nafas yang masih terdengar berat.


Anexta langsung mengernyitkan dahinya, lalu dengan cepat, ia mengambil kertas transparan tersebut dari tangan pelayan perempuan itu dan menatapnya dengan wajah yang terlihat serius.


“Pergilah, tugasmu sudah selesai. Terima kasih, pelayan,” ucap Xyon kepada pelayan perempuan itu.


“Baiklah, Tuan, Yang Mulia,” jawab pelayan perempuan tersebut, yang langsung membungkukkan badannya di hadapan mereka bertiga untuk beberapa saat, dan langsung kembali berdiri tegak serta berlari masuk ke dalam istana.


Kertas transparan itu tiba-tiba melayang di udara, di hadapan mereka bertiga, dan mendadak muncul wajah Ryena di sana.



Anexta langsung tersenyum setelah mendengarkan kabar dari adiknya itu. Kertas transparan tersebut kemudian berubah menjadi debu halus yang kemudian menghilang di udara. Namun, wajah Xyon justru terlihat penuh dengan kecurigaan.


“Yang Mulia, apakah anda ingin bertemu dengan Ryena di lokasi yang baru saja ia katakan?” tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya.


“Tentu saja. Aku sangat merindukan Ryena, apalagi ia berkata bahwa Raja Flerix memperlakukannya dengan baik, dan sekarang ia sedang mengandung seorang anak. Bukankah itu adalah hal yang bagus, Jenderal Senior Xyon?” tanya Anexta tanpa menoleh kepada sang jenderal senior itu.


“Namun bisa saja surat itu adalah jebakan dari Raja Flerix agar anda keluar dari planet ini, lalu ia akan menyerang anda, seperti yang ia lakukan kepada mendiang Yang Mulia Raja pada waktu itu,” ucap Xyon.

__ADS_1


Anexta langsung menoleh ke arah Xyon, lalu menatap pria tua itu dengan wajah yang terlihat sangat senang.


“Ini adalah sebuah kabar gembira, Jenderal Senior Xyon. Kita akan segera ke sana dalam tiga hari! Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Ryena setelah lama tidak mendengar apapun darinya! Kalian akan melindungiku, lantas mengapa aku harus takut kepada mereka?” serunya dengan senyum lebar.


Xyon dan Weim hanya bisa terdiam melihat sikap dari sang ratu.


“Aku akan kembali menuju ke kamar pribadiku dan mempersiapkan hadiah untuk Ryena. Jenderal Senior Xyon dan Jenderal Weim, aku perintahkan kalian untuk mempersiapkan prajurit terbaik untuk ikut bersama denganku,” ucap Anexta.


“Baik, Yang Mulia,” balas Xyon dan Weim bersama-sama sambil membungkukkan badan mereka di hadapan sang ratu.


Anexta kemudian berjalan masuk ke dalam istana, meninggalkan kedua jenderal yang masih berada di halaman belakang tersebut. Begitu sang ratu sudah tidak terlihat lagi, Weim langsung menoleh ke arah Xyon dengan wajah yang serius.


“Apakah kau tidak curiga dengan isi surat itu?” tanyanya.


Xyon mengernyitkan dahinya sambil berkata, “Aku tidak yakin jika surat itu benar-benar dibuat oleh Ryena sendiri.”


“Namun isi dari surat itu tidak mungkin bisa berbohong, Xyon. Bahkan sepertinya Ryena sama sekali tidak terlihat tertekan, ia bahkan sedang mengandung,” balas Weim.


Xyon lalu menoleh ke arah istana dan menatap bangunan itu dengan wajah yang terlihat gusar.


“Sepertinya kau harus banyak belajar cara untuk berpolitik, Weim. Kau akan menjadi seorang jenderal senior seperti diriku, mungkin, pada suatu hari nanti. Dan jika hal itu terjadi, kau harus mampu memahami ucapan dari seseorang, karena bisa saja berarti kebalikannya,” ucapnya.

__ADS_1


Weim langsung terlihat agak terkejut begitu ia mendengar ucapan tersebut. Xyon menghela nafas panjang, seolah ia memang tahu bahwa sang ratu sedang merencanakan sesuatu.


Tiga hari telah berlalu sejak mereka mendapatkan surat tersebut. Pagi ini, para pelayan terlihat sangat sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk sang ratu yang hendak pergi menuju ke Planet Bumi. Mereka terus menerus memasukkan barang-barang ke dalam kereta antar planet yang akan ditumpangi oleh Anexta.


__ADS_2