Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Keputusan Keira


__ADS_3

Keira kemudian melangkah ke depan, hendak berjalan pulang kembali menuju ke rumahnya sendirian, tanpa Higarashi, namun, ia mulai merasa mual lagi, dan kepalanya menjadi sangat pusing. Ia tiba-tiba berhenti melangkah, lalu merasakan jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat.


"Tidak mungkin …," gumam Keira dengan suara yang sangat pelan.


Mendadak, kepalanya menjadi semakin terasa sakit. Ia lalu memegang perutnya, dan kini, badannya mulai terasa lemas.


“Jangan, tidak,” gumamnya lagi, namun, tubuhnya tidak lagi merasa kuat, bahkan, ia hendak pingsan.


“Keira!” seru Higarashi yang dengan cepat berlari mendekati istrinya itu dan langsung menahan tubuh Keira, namun, Permaisuri dari Halida tersebut rupanya sudah pingsan.


Kedua matanya sudah terpejam dan tangannya mulai terjatuh.


“Keira! Keira! Apakah ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan kepadaku? Keira!” teriak Higarashi dengan wajah yang tampak panik.


Higarashi lantas menggendong Keira, lalu berjalan menuju ke bagian samping taman hiburan itu. Ia kemudian menemukan sebuah pohon yang sangat besar tidak jauh dari sana. Dengan cepat, ia bersembunyi di balik pohon tersebut dan mengangkat tangan kanannya ke depan.


Star Baton miliknya tiba-tiba muncul dan ia dengan cepat menggenggamnya, lalu mengayunkan benda itu ke depan.


“Cepatlah!” gumam Higarashi dengan sangat tidak sabar.


Sebuah pintu ajaib kemudian muncul, dan Star Baton miliknya langsung menghilang. Higarashi kemudian membuka pintu itu, masuk ke dalam, lalu menutupnya lagi dengan rapat. Tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam kamar Keira, tanpa melewati terowongan ajaib yang sebelumnya.


Higarashi lalu berjalan menuju ke ranjang, kemudian membaringkan tubuh Keira di atasnya dengan hati-hati, setelah itu, ia membuka sepasang sepatu yang dipakai istrinya itu dan meletakkannya di atas lantai.


“Keira, apa yang sedang terjadi sebenarnya kepadamu?” gumamnya lagi, kemudian, ia berlutut samping Keira, sambil menatap ke arah istrinya tersebut.


Higarashi lalu meraih tangan Keira, dan menggenggamnya erat-erat. Wajahnya mulai menunjukkan kekhawatiran yang sangat besar.

__ADS_1


"Keira, maafkan aku, kumohon sadarlah," ucapnya sambil menangis pelan, lalu, dengan bibir yang gemetar, ia melanjutkan, "tadi kau berkata bahwa kau kelaparan, bukan? Aku … aku justru melupakan minuman yang kubeli di sana karena Viora mengambilnya … ah, lupakan saja!! Aku akan segera turun ke bawah dan memasak untukmu, ya?"


Ia kemudian berdiri dan berjalan keluar dari kamar, menuju ke lantai satu, dan begitu ia tiba di dapur, Higarashi langsung berhenti di depan sebuah kompor gas berwarna hitam yang biasa digunakan oleh Keira untuk memasak.


Wajahnya tampak kebingungan. Ia bahkan menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan rak-rak dapur terbuka yang terletak di samping kompor itu.


“Astaga! Aku tidak pernah memasak!!” serunya dengan wajah yang memerah.


Ia tiba-tiba melihat sebungkus sup jagung instan yang berada di bagian paling depan tumpukan bumbu dapur di dalam rak tersebut. Higarashi lantas meraihnya, lalu mengernyitkan dahi.


“Lalu sekarang, apa?” gumamnya lagi.


Ia kemudian menoleh ke kanan, dan meraih sebuah panci, lalu meletakkannya di atas kompor tadi.


“Biasanya, Keira melakukan hal ini,” ujarnya dengan wajah yang tampak … ragu-ragu.


“Mengapa benda ini merepotkan sekali?!” serunya dengan wajah yang tampak kesal.


Hari semakin sore. Akhirnya, setelah mencoba untuk beberapa kali selama tiga jam, ia berhasil memasak segelas air hangat yang sudah dituangkannya ke dalam sebuah gelas, dan semangkuk sup jagung instan. Ia kemudian meletakkan gelas dan mangkuk tersebut di atas sebuah nampan, tidak lupa untuk meletakkan sebuah sendok di atasnya.


“Akhirnya, astaga, teknologi yang merepotkan, dasar primitif!” gumamnya sambil mengernyitkan dahi,


Higarashi kemudian berjalan sambil membawa nampan tersebut menuju ke lantai dua, dan masuk ke dalam kamar. Karena Keira masih belum terbangun, ia lalu meletakkannya di atas meja yang terletak di samping ranjang.


“Mengapa Keira belum bangun juga? Apakah ia sebenarnya sedang … sakit keras?” tanyanya dengan wajah yang gusar.


Ia lantas duduk di atas lantai sambil berusaha untuk tidak tertidur agar tidak mengganggu istrinya. Setelah satu jam, Higarashi tampak sudah tertidur pulas sambil menyandarkan kepalanya di samping ranjang.

__ADS_1


Hari semakin gelap, dan Keira tiba-tiba terbangun setelah kurang lebih pingsan selama lima jam. Ia lalu menoleh ke kanan, melihat Higarashi yang sedang tertidur di atas lantai sambil menyandarkan kepalanya di bagian bawah ranjang, dan memperhatikan sebuah nampan yang berisi gelas dan mangkuk di atas meja kecil yang terletak di sampingnya.


Keira lantas berusaha untuk duduk, lalu ia meraih nampan tersebut, dan langsung tersenyum begitu melihat isinya. Ia menatap gelas yang berisi air beserta mangkuk yang berisi sup jagung instan tersebut, dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Sudah mendingin," bisik Keira pelan, "maafkan aku, Higarashi. Keputusanku sudah bulat, maafkan aku."


Keira kemudian meraih sendok dan mangkuk tersebut, lalu ia menghabiskan isinya dengan cepat, tidak lupa juga untuk meminum habis air yang ada di dalam gelas itu. Setelahnya, ia meletakkan kembali gelas, mangkuk, dan sendok tadi, di atas meja.


“Terima kasih, Higarashi,” gumamnya pelan.


Keira kemudian turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah pelan, meninggalkan suaminya yang masih tertidur pulas. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan turun ke lantai satu. Ia lantas menghentikan langkahnya begitu ia melihat seorang pria yang memakai kemeja dan celana panjang hitam, yang sudah berdiri di ruang tamu entah sejak kapan.


Pria tersebut lalu menoleh ke arah Keira dan bertanya, "Apakah kau sudah memutuskan?"


Dengan wajah yang sendu, Keira lalu menjawab, "Sudah. Aku sudah memutuskannya, Aerim."


“Apakah kau tidak akan menyesalinya?” tanya pria itu, Aerim.


“Apakah aku memiliki pilihan lain?” tanya Keira balik kepadanya sambil mengernyitkan dahi.


Aerim kemudian tersenyum sinis, lalu berjalan mendekati Keira dan memeluknya. Sayangnya, Permaisuri dari Halida tersebut tidak membalas pelukan itu sama sekali.


“Kau seharusnya melakukan hal ini dari dulu, bukankah begitu, sayang?” bisiknya.


“Oh? Aku tidak pernah menginginkan hal ini. Paman Xyon yang pertama kali datang kepadaku dan memberitahukan semuanya tentang diriku. Lalu, apakah aku harus menyalahkan mereka atas semua yang terjadi?” tanya Keira dengan wajah yang tampak kesal.


“Aku berjanji akan membuatmu bahagia, tidak ada yang lain, yang lebih kuat daripada kita berdua, bukan?” balas Aerim dengan rasa puas di hatinya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, kabut-kabut hitam menyelimuti tubuh mereka. Keira dan Aerim langsung menghilang begitu saja, meninggalkan Higarashi, dan rumah itu, menuju entah ke mana.


__ADS_2