
Anexta lalu menghela nafas panjang, dan kali ini, ia menatap Xyon dengan wajah yang terlihat sendu.
“Ryena. Ia sekarang sedang bersama para Silverian itu. Apakah kalian melihat ada sesuatu yang tidak biasanya di sekitar Planet Silverian?” tanyanya.
“Maafkan aku, Yang Mulia, namun hingga detik ini sejak Ryena lebih memilih untuk ikut bersama dengan mereka, tidak ada satu pun Silverian, khususnya Raja Flerix, yang terlihat keluar dari planet gelap itu,” jawab Xyon.
Anexta menghela nafas pendek, lalu berkata, “Tidak mungkin yang diinginkan oleh Raja Flerix hanyalah Ryena. Ia pasti mengincar sesuatu yang lebih besar daripada seorang putri biasa dari Palladina.”
Xyon hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, hingga Anexta terdengar kembali menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat serius, namun tampaknya ia juga sedang merasakan kekecewaan yang amat besar.
“Jenderal Senior Xyon. Aku yakin Raja Flerix pasti menginginkan sesuatu dari kita, dengan mengambil Ryena sebagai umpannya. Berhati-hatilah, karena bisa saja mereka akan kembali memainkan rencana licik lainnya dalam waktu dekat ini,” ucap Anexta.
“Tentu saja, Yang Mulia. Aku akan memberi perhatian lebih kepada Planet Silverian pada saat kami berpatroli nanti,” balas Xyon.
Ia lalu membungkukkan badannya di hadapan Anexta untuk beberapa saat, lalu dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melangkah keluar dari ruang kerja pribadi milik sang ratu, serta kembali menutup pintunya rapat-rapat.
Hari mulai menjadi minggu, bahkan bulan. Sudah sekitar sepuluh bulan sejak Ryena memutuskan untuk ikut pergi bersama dengan Flerix dan meninggalkan statusnya sebagai seorang putri dari Palladina untuk hidup dan tinggal di dalam Planet Silverian.
Ryena sendiri terlihat sangat menikmati hari-harinya di dalam planet Silverian bersama dengan Flerix, pria yang dicintainya. Raja dari Silverian itu bahkan memperlakukan dirinya seperti seorang permaisuri.
Sayangnya, Flerix tidak pernah benar-benar mengangkatnya menjadi permaisuri dari Planet Silverian, entah apakah Ryena sadar atau tidak akan hal ini, karena sikap Flerix yang begitu manis terhadapnya.
Pada suatu pagi ketika Ryena baru saja bangun dari tidurnya, ia mendadak merasa sangat mual dan tidak enak badan. Ia lalu memutuskan untuk duduk di atas ranjang sambil mulai memegang perut dengan kedua tangannya.
“Apakah aku terlalu banyak makan kemarin?” tanyanya dengan wajah yang terlihat gusar.
__ADS_1
Tiba-tiba ia merasa ingin sekali muntah, dan dengan cepat, ia turun dari ranjang dan berlari hingga ke kamar mandi. Karena Ryena yang terdengar berisik, Flerix yang tadinya masih tertidur pulas di atas ranjang, terpaksa harus bangun karena terganggu dengan suara rintihan dari Ryena.
“Astaga, berisik sekali pagi hari ini, menyebalkan. Planet ini memang tidak memiliki sinar baik pada pagi, ataupun siang hari namun justru perempuan menyebalkan ini yang sudah mengganggu tidur pulasku,” gumam Flerix dalam hatinya.
Ia kemudian duduk di atas ranjang sambil memperhatikan Ryena yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang datar. Ryena langsung menyadari bahwa Flerix sedang menatapnya, dan dengan senyum lebar, ia kemudian menghentikan langkahnya.
Namun karena ia masih merasa mual, Ryena tampak masih memegang perut dengan tangan kanannya. Flerix menghela nafas panjang, dan tampaknya ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Ryena pada pagi hari ini.
“Apa yang sedang kau lakukan, mengapa berisik sekali?” tanya Flerix sambil menatap Ryena dengan wajah yang serius.
“Aku sudah berkali-kali keluar masuk kamar mandi dan rasanya mual sekali. Aku terus menerus muntah sejak bangun pada pagi hari ini,” jawab Ryena sambil tersenyum seolah hendak memberitahukan sesuatu kepada pria tersebut.
“Ah,” desah Flerix, kemudian ia bertanya, “apakah kau sedang hamil?”
Ryena langsung menjawab dengan wajah yang ceria, "Aku tidak tahu, tapi mungkin aku hanya makan terlalu banyak kemarin, namun, kepalaku terasa sedikit pusing."
“Aku yakin kau sedang mengandung anak kita,” bisik Flerix pelan tepat di depan telinga Ryena sambil tersenyum sinis.
"Benarkah? Ah, bagaimana cara untuk mengetahui bahwa aku sedang hamil, ketika di sini tidak ada perawat sama sekali?" tanya Ryena.
Flerix kemudian menatapnya dengan wajah yang terlihat senang, lalu menjawab, "Hmm, tidak apa-apa. Aku yakin sekali, kau sedang mengandung anak kita, jadi, tidak perlu ada pembuktian apapun. Aku akan dengan senang hati menunggu kabar baik darimu untuk beberapa bulan ke depan, sayang.”
Mendengar perkataan Flerix yang meyakinkan barusan, seolah tidak percaya, Ryena langsung meneteskan air mata. Ia bahkan memeluk erat raja dari Silverian itu seolah percaya bahwa Flerix memang mencintainya dengan sungguh-sungguh.
"Semoga saja memang benar!" ucap Ryena.
__ADS_1
Flerix kemudian memeluk Ryena sambil menepuk-nepuk punggung perempuan itu dengan perlahan.
“Hasil yang bagus, karena dengan demikian, aku akan memiliki satu orang lagi yang bisa kupercaya untuk menjadi tangan kananku, haha!” seru Flerix di dalam hatinya.
Flerix memang senang jika Ryena benar sedang mengandung darah dagingnya, keturunannya sendiri, namun sepertinya ia justru sedang merencanakan hal lain terhadap anak itu.
Di sisi lain, Ryena sendiri benar-benar bahagia setelah meyakini bahwa ia sedang mengandung seorang anak dari pria yang dicintainya, tanpa tahu apapun tentang rencana Flerix.
“Aku akan menjagamu dan calon anak kita dari ancaman planet lainnya, jadi, untuk sementara waktu, aku tidak akan meminta Dovrix untuk diam-diam mengambil energi dan sumber daya dari planet lain hingga kau melahirkan dengan selamat,” bisik Flerix lagi.
Wajah Ryena langsung terlihat kebingungan hingga ia bertanya, “Ada apa, Flerix? Bukankah kita masih sangat membutuhkan energi dan sumber daya dari planet-planet itu untuk menghidupi seluruh rakyat planet ini dan diri kita sendiri? Aku sedang mengandung, jadi pasti kita akan membutuhkan lebih banyak energi dan sumber daya untuk ke depannya, demi anak ini.”
“Namun mereka akan segera mengincarmu jika mereka tahu bahwa kau sedang mengandung,” ucap Flerix, tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Ryena mengernyitkan dahinya dan kembali bertanya, “Apakah yang kau maksud mereka itu adalah para Palladina?”
Flerix mengangguk pelan. Ryena langsung menghela nafas panjang begitu ia melihat sikap pria itu kepadanya barusan.
“Tidak mungkin kakak akan membunuhku, jadi kau bisa tenang, sayang,” bisik Ryena.
“Ya, mereka tidak akan membunuhmu karena kau pernah menjadi seorang putri dari Palladina. Namun, mereka akan mengincarku dan menghancurkan kembali planet ini, agar kau mau kembali bersama dengan mereka, kembali ke dalam Planet Palladina,” balas Flerix.
Ryena terlihat sedikit terkejut begitu ia mendengar ucapan tersebut.
“Kakak tidak mungkin akan melakukan hal itu. Aku bahagia di sini, dan kakak akan melihat hal itu. Kau memperlakukanku dengan sangat baik di sini, dan aku sangat senang bisa menjadi seorang permaisuri dari Silverian. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, karena anak ini masih sangat membutuhkan seorang ayah,” bisiknya lagi.
__ADS_1
Flerix tersenyum setelah mendengar pernyataan itu, lalu ia membelai lembut kepala Ryena.
“Seorang Permaisuri? Astaga, yang benar saja,” gumam Flerix di dalam hatinya, “Tidak boleh ada dua orang pemimpin dalam satu planet, dan aku tidak mungkin akan pernah mengangkatmu sebagai permaisuri, dasar bodoh!”