
Dengan berat hati, Xyon lalu berdiri, dan berjalan keluar dari kamar tersebut sambil berkali-kali ia menoleh ke belakang hanya untuk menatap Hyerin, sampai pada akhirnya ia menutup pintu dan berjalan menuju ke kamar Arnea serta istrinya.
Sambil menahan rasa rindu yang amat besar kepada Hyerin, Xyon kemudian mengetuk pintu kamar Arnea dan Klara dengan perlahan-lahan, tanpa berkata sepatah kata pun. Pangeran Mahkota dari Palladina itu langsung membuka pintu begitu ia mendengar suara ketukan berkali-kali.
"Xyon! Aku baru saja akan membangunkanmu!" seru Arnea dengan senyum di wajahnya, sambil menggendong sebuah tas punggung yang ukurannya sedikit besar.
"Yang Mulia," balas Xyon sambil membungkukkan badannya untuk beberapa detik, lalu kembali berdiri tegak sambil menahan keinginan untuk tidak kembali ke Planet Palladina.
"Baiklah, saatnya pergi. Aku sudah membayar seluruh biaya penginapan kita. Cepat," ujar Klara, yang terlihat membawa sebuah tas berukuran sedang yang berisi barang-barang pribadi miliknya.
Arnea dan Klara kemudian berjalan keluar dari kamar, dan istrinya itu lalu membiarkan kunci pintunya tergantung di dalam lubang kunci, dan ketiganya lantas melangkah keluar dari gedung penginapan tersebut.
Namun, begitu Xyon berjalan melewati kamar yang sudah ditempatinya selama beberapa hari ini, ia langsung menatap pintu dengan wajah yang sendu untuk beberapa saat, sambil terus berjalan di belakang Arena serta Klara.
"Hyerin, apakah kau masih berada di dalam sana? Apakah kau akan membenciku setelah ini? Aku sudah merindukanmu padahal baru sebentar," gumam Xyon dalam pikirannya.
Sementara itu di dalam kamar, Hyerin masih duduk di atas ranjang sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Ia tanpa henti memperhatikan cincin milik Xyon, yang kini tersemat di jari manis tangan kirinya, dengan wajah sedih.
"Ia adalah pria yang baik, tidak pernah kupikir ia akan sepolos itu. Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku mulai benar-benar mencintainya. Xyon adalah pria yang sangat menyenangkan, dan cinta tulusnya kepadaku. Aku bisa merasakannya, bahkan hanya dengan melihat cincin miliknya ini," gumam gadis berambut hitam itu pelan.
Arnea, Klara, dan Xyon tampak terus berjalan, menuju ke sebuah taman yang dipenuhi oleh pepohonan tinggi, yang letaknya agak jauh dari gedung penginapan barusan. Sebuah kereta antar planet rupanya sudah menunggu di sana, dan dengan terburu-buru, sang Pangeran Mahkota dan istrinya masuk terlebih dahulu, lalu Xyon masuk setelahnya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, kereta antar planet tersebut langsung berubah menjadi sebuah bintang kecil yang dengan sangat cepat melesat ke luar angkasa. Xyon mulai merasa gusar walaupun ia sudah duduk di atas sofa yang empuk dan nyaman.
Arnea kemudian mendekati Xyon karena melihat tingkah laku aneh dari pengawal pribadinya itu, lalu duduk di sebelahnya, bertanya, "Xyon, mengapa kau sepertinya sangat gusar seperti itu? Ah, apa jangan-jangan, kau sudah menemukan seorang gadis di sana?"
Tanpa menatap majikannya tersebut, Xyon lantas menjawab dengan wajah yang datar, "Ah, Yang Mulia. Aku hanya merindukan rumah.”
“Astaga, kau benar-benar dingin, bukan?” bisik Pangeran Mahkota dari Palladina itu sambil mengernyitkan dahinya.
Kereta antar planet tersebut kini sudah melayang di sekitar Galaksi Metal, dan terus melesat hingga akhirnya masuk ke dalam atmosfer Planet Palladina, lalu mendarat tepat di halaman depan istana. Arnea dan Klara turun terlebih dahulu, lalu Xyon setelahnya.
Beberapa pelayan langsung memberikan hormat kepada dua calon pemimpin itu, lalu dengan cepat, mereka membawakan barang-barang pribadi milik keduanya, dan masuk ke dalam istana. Arnea dan Klara kemudian berjalan menuju ke ruang utama istana untuk memberikan hormat kepada Treya dan Veina.
Xyon mengikuti keduanya dari belakang, dan begitu mereka sudah tiba di dalam ruang utama, Treya dan Veina terlihat sedang duduk di atas singgasananya masing-masing sementara Derix berlutut di hadapan raja dan permaisurinya tersebut.
"Kami sudah kembali, Yang Mulia," ucap Arnea dengan wajah datar.
"Kembalilah ke kamarmu, Klara. Ada beberapa hal yang harus kusampaikan kepada pria-pria ini," ujar Treya.
"Baik, Yang Mulia," balas Klara, kemudian ia berdiri dan berjalan keluar dari ruang utama itu.
Setelah Klara pergi, Treya kemudian menatap Derix dengan wajah yang serius dan berkata, "Jenderal Senior Derix, aku sudah membaca seluruh laporan yang kau berikan sejak tadi pagi, dan aku sangat terkesan, tidak ada lagi makhluk asing yang berani masuk ke dalam wilayah Galaksi Metal ini."
__ADS_1
“Untuk itu, kami memutuskan untuk memberikan sebuah hadiah kepadamu, sebagai penghargaan atas kesetiaan yang tinggi dari dirimu, istrimu, Wyona, dan anakmu, Xyon," ucap Veina dengan senyum di wajahnya.
"Yang Mulia! Kami tidak pantas mendapatkan apapun dari planet ini!" seru Derix dengan wajah serius sambil langsung menundukkan kepala begitu ia mendengar pujian dari raja dan permaisurinya barusan.
"Ah, yang kudengar dari Wyona, bahwa anakmu, Xyon, seharusnya sudah menikah di usianya yang sekarang, bukan?" tanya Veina.
Xyon hanya terdiam. Ia tampak gusar walaupun wajahnya masih datar tanpa ekspresi. Derix langsung menoleh ke arah anak laki-lakinya itu dan memperhatikan ada sesuatu yang berbeda darinya, yakni cincin yang ia berikan kini sudah tidak tampak lagi di jari manis tangan kiri pria muda tersebut.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku sedang tidak memikirkan tentang pernikahan, karena prioritas utamaku masih adalah untuk melindungi Yang Mulia Pangeran Mahkota dan Yang Mulia Putri Mahkota," jawab Xyon sambil menundukkan kepalanya.
Derix mengernyitkan dahinya, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi pada anak laki-lakinya itu. Wajahnya terlihat sedang menahan amarah, namun ia tidak ingin menunjukkannya sekarang.
"Katakan padaku, Xyon, banyak gadis di luar sana yang pasti akan menyukaimu. Kau bisa memilih gadis dari planet mana pun, dan kamu akan menyiapkan pestanya," ujar Veina, masih dengan senyum lebar di wajahnya.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku rasa para gadis itu tidak akan tahan untuk tinggal diriku yang dingin ini. Aku hanya mengerti caranya bertarung, bukan cara untuk menggoda seorang gadis. Aku akan lebih memilih untuk menggenggam pedang kosmik daripada harus menggandeng tangan seorang istri," balas Xyon dengan tegas.
“Baiklah, cukup, sayang. Kau bisa membahas pernikahan itu nanti. Mungkin saat ini, ia sedang memikirkan ujian itu,” ucap Treya sambil menatap istrinya tersebut.
Derix langsung mengambil kesempatan ini untuk bisa keluar.
Ia kemudian berkata, "Baiklah, Yang Mulia, jika tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, kami akan pergi terlebih dahulu.”
__ADS_1
"Baiklah, Derix, Xyon, kalian bisa pergi sekarang. Biarkan aku berdua saja dengan permaisuriku," balas sang Raja.
Derix dan Xyon kemudian menundukkan kepalanya, lalu berdiri tegak dan berjalan bersama-sama, keluar dari ruang utama. Namun, begitu mereka tiba di sebuah lorong istana, Derix langsung menarik lengan Xyon dan membawanya berlari menuju ke ruang kerja pribadi miliknya hingga pria muda tersebut menjadi terkejut dengan aksi cepat sang Ayah.