
Mereka berdua terdiam, namun masih saling menatap satu sama lain dengan suasana tegang.
"Kenapa memangnya? Apa hanya kakak saja yang boleh berbahagia? Kalian semua, kau, ayah, ibu, Xyon, dan semuanya! Kalian menganggapku lemah, bahkan kau lebih mempercayai perkataan Xyon daripada adikmu sendiri! Aku sudah berkata padamu bahwa para Silverian itu tidak jahat, dan mereka tidak sedang melakukan hal-hal yang merusak di sini! Kau lebih memilih mendengarkan perkataan Jenderal Senior Xyon, lalu menyerang mereka tanpa berpikir dua kali!" teriak Ryena.
Anexta seolah tidak mendengar apa yang sudah dikatakan Ryena barusan. Wajahnya terlihat sendu, lalu ia berlutut sambil meneteskan air mata, dan berkata, "Ryena, tidak … tidak, maafkan aku … aku tidak bermaksud untuk menamparmu barusan. Ryena, maafkan kakakmu ini….”
Ia berusaha mendekati Ryena, hendak membantunya berdiri dengan mengulurkan tangannya, namun, Ryena langsung menepis tangannya, lalu berteriak dengan wajah yang terlihat kesal, "Hentikan semua ini, kakak! Berhentilah berpura-pura untuk menyukaiku! Kau hanya menganggapku sebagai adik yang selalu mengganggumu, bukan? Kalian semua menganggapku tidak berguna. Walaupun kau terkadang merundingkan segala sesuatunya denganku, namun, kau hampir tidak pernah setuju dengan semua pendapatku. Bahkan tidak untuk sekali pun!"
Sementara itu, Xyon yang berada di luar dan hendak masuk ke dalam tenda milik Ryena untuk menemui Anexta, langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk, karena tidak sengaja mendengar keributan di antara kakak-beradik itu.
Di dalam tenda, Anexta kemudian membalas perkataan adiknya barusan, "Tidak, bukan begitu. Ryena, kau harus tahu statusmu sebagai putri kerajaan Planet Palladina, kau tidak bisa melakukan hal terlarang seperti itu. Ryena, ingat statusmu sebagai seorang putri, bukan sebagai adikku. Jadilah contoh yang baik, karena kita adalah satu-satunya planet penjaga Galaksi Metal ini!"
Ryena lalu berusaha bangkit, sambil tersenyum sinis. Ia kemudian berdiri di hadapan Anexta, sambil menatap kakaknya itu dengan sorot mata yang tajam.
Dengan nada yang tinggi seolah dipenuhi amarah, ia berteriak, "Apa maksudmu? Cintaku kepada Flerix adalah hal yang terlarang? Aku hanya jatuh cinta kepadanya! Bukankah cinta itu adalah energi mortal, mengapa kau harus takut dengan perasaanku? Lagi pula ia hanya mencari energi dan sumber daya untuk menghidupi penduduk planetnya sendiri! Mengapa kau tidak pernah memberikanku kesempatan sama sekali untuk membuktikan bahwa aku pun bisa, dan mampu mengetahui mana yang salah dan benar?! Kakak, seharusnya kaulah yang membantu mereka, bukan?”
Anexta mulai menghela nafas panjang. Ia sepertinya berusaha untuk menahan seluruh emosi yang dari tadi tertahan di dalam dadanya.
Namun tiba-tiba, ia mengangkat tangan kanannya, lalu menunjuk batang hidung Ryena sambil berseru dengan wajah yang kesal, "Ryena! Apa yang sedang terjadi di antara aku dan Flerix, bukanlah soal dirimu dan perasaanmu, melainkan ini semua adalah tentang Galaksi Metal! Tempat tinggal kita semua! Ryena, Flerix sudah memanipulasi pikiranmu! Ia sudah mencuci otakmu dan membuat kita berdua bertengkar seperti ini! Hentikan semua ini, dan kembalilah sebagai Yang Mulia Putri Ryena dari Palladina!!!"
__ADS_1
Anexta lalu menurunkan tangannya, sambil kembali menghela nafas pendek. Setelah beberapa saat, Ryena menggelengkan kepalanya.
Air matanya semakin deras mengalir membasahi wajahnya. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat namun memang saling menatap mata satu sama lain.
Tiba-tiba, Ryena menghela nafas panjang, kemudian berkata, "Tidak, kakak. Kau … ya, kau, yang tidak pernah mempercayaiku selama ini! Aku … aku akan mencari kebahagiaanku sendiri, tanpa dirimu. Terima kasih untuk segalanya, untuk semua tahun-tahun yang kita lalui bersama, kakak."
Ryena lalu berbalik badan, kemudian ia berlari keluar melalui bagian belakang tenda tersebut, meninggalkan Anexta yang masih berdiri di tempatnya.
"Ryena! Tunggu!" seru Anexta dengan wajah sendu sambil mengangkat tangan kanannya, namun, setelah Ryena pergi meninggalkannya, ia lalu menurunkan tangannya sambil menatap bagian belakang tenda tersebut.
Perasaan sedih mulai memenuhi dadanya, dan lututnya mulai terasa lemas. Ia kemudian berlutut di atas tanah, dan mulai menangis pelan. Setelah tidak lagi mendengar seluruh keributan yang terjadi di dalam tenda milik Ryena barusan, Xyon langsung tersadar bahwa sang putri telah melarikan diri.
Tanpa menunggu perintah dari sang ratu, ia langsung berlari ke arah hutan. Xyon tampaknya ingin mengejar Ryena dan mencarinya, serta berusaha untuk menemukannya.
Para pasukan planet Silverian terlihat sedang berbaris mengantri untuk masuk ke dalam Silvir satu per satu. Dengan senyum lebar di wajahnya, Ryena langsung bergegas mendekati pesawat luar angkasa itu dan mulai mencari-cari keberadaan Flerix.
Flerix rupanya sedang berada di samping Silvir untuk memperhatikan kondisi pesawat luar angkasa miliknya tersebut sebelum berangkat, dan tanpa sengaja, ia melihat Ryena yang terlihat sedang mencari-cari dirinya dari jarak yang tidak terlalu jauh dengannya.
Ia lalu tersenyum licik, kemudian berjalan menghampiri sang putri, dan berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Tuan Putri Ryena, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Flerix.
Ryena langsung terkejut begitu melihat Flerix yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Senyum di wajahnya menjadi semakin lebar dan jantungnya mulai berdetak dengan cepat.
"Kau akan segera pergi?" tanya Ryena tanpa menjawab pertanyaan dari Flerix sebelumnya.
"Ah, ya, aku akan kembali menuju Planet Silverian, rumahku, bersama Silvir dan pasukan-pasukanku. Kami mengurungkan niat untuk mengambil energi dan sumber daya yang ada di dalam planet Bumi ini," jawab Flerix.
Ryena langsung memeluk Flerix setelah mendengar jawaban itu, lalu ia bertanya, "Apakah kau menyukaiku? Apakah kau mencintaiku?"
Flerix menghela nafas panjang, lalu membalas pelukan itu, sambil berbisik pelan, "Aku sudah menyukaimu, dari sejak awal kita bertemu….”
Dengan mata yang berkaca-kaca setelah mendengar bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, Ryena, kemudian membalas, "Kalau begitu, bawa aku bersamamu, sekarang juga.”
Mendengar permintaan aneh dari Ryena, Flerix langsung melepaskan pelukannya, dan menatap sang putri dengan wajah yang terlihat panik, lalu menjawab, "Ah, Yang Mulia. Aku bisa saja membawamu bersamaku, namun kau adalah seorang putri, Putri Ryena dari Palladina. Aku hanya takut kakakmu akan menyerang planetku habis-habisan jika ia tahu bahwa aku membawamu pergi bersamaku. Pasukan-pasukanku tidak mampu mengalahkan kekuatan dari kelima jenderalmu itu, khususnya Jenderal Senior Xyon."
Ryena mendadak menatap Flerix dengan tatapan yang serius, lalu bertanya, "Apa ada cara agar aku bisa berada terus bersamamu? Aku tidak ingin lagi bersama mereka, aku hanya ingin bahagia bersamamu, Flerix!"
Flerix kemudian terdiam sebentar. Wajahnya terlihat sedang berpikir keras.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, tangan kanannya mulai merogoh ke dalam saku celana kanannya, sepertinya sedang mencari-cari sesuatu. Setelah ia mendapatkan sesuatu dari dalamnya, ia kemudian mengeluarkannya.
Dengan senyum, ia kemudian memperlihatkan benda tersebut kepada Ryena sambil membuka telapak tangan kanannya. Ryena lalu menatap ke arah sebuah pil hitam yang berada di atas telapak tangan kanan Flerix dengan ekspresi wajah yang terlihat bingung.