
Keira hanya menatap punggung pria itu dari belakang, dengan wajah yang benar-benar dipenuhi oleh keraguan yang besar. Setelah Higarashi sudah tidak terlihat lagi, Keira dengan cepat mengeluarkan Starlet itu dari dalam saku celananya dan menatapnya dengan bola mata yang berkaca-kaca dan memperhatikannya untuk beberapa saat.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya dari belakang hingga ia terkejut. Ia langsung menoleh ke belakang dan menatap seorang pria yang mendadak sudah berdiri di belakangnya.
"Paman Xyon,” ucapnya pelan.
Pria itu, Xyon, kemudian memperhatikan kalung yang sedang digenggam oleh Keira, dengan sorot mata yang tajam.
"Apakah kau sudah siap menjadi seorang ratu untuk planet lain, atau apakah kau sudah siap untuk ikut dalam peperangan ini, Yang Mulia Putri Keira?" tanyanya.
Keira tidak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa menatap Starlet berwarna putih itu dengan penuh keraguan.
“Aku … tidak yakin, Paman,” jawabnya.
Xyon hanya menghela nafas panjang, namun, ia sangat bisa merasakan keraguan yang besar dan ketakutan di wajah Keira.
“Apa yang sudah terjadi kepadamu?” tanyanya lagi.
“Tidak ada …,” jawab Keira singkat.
Hari demi hari berlalu, dan hari kelulusan akhirnya tiba. Keira yang sudah berada di dalam sekolah sejak pagi, terlihat sedang mengikuti upacara kelulusan bersama dengan murid-murid lainnya. Higarashi benar-benar tidak datang sama sekali untuk beberapa hari ini, dan walaupun sekolah sangat ramai oleh murid-murid yang berbahagia akan kelulusan mereka, namun, Keira entah mengapa merasakan kesendirian.
Bahkan Chexy dan kawan-kawannya, sama sekali tidak mendekatinya. Mereka membuang muka begitu mereka melihat dirinya. Keira hanya bisa berdiri di barisan paling pojok, dan merenungkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Higarashi siang nanti. Jantungnya berdetak amat kencang, bahkan wajahnya benar-benar diliputi keraguan yang luar biasa.
Setelah upacara kelulusan selesai, beberapa murid terlihat langsung pulang sendiri atau bersama anggota keluarganya, dan yang lainnya masih berada di sekolah untuk berkumpul dengan teman-temannya, namun, Keira justru berjalan sendirian menuju ke bagian belakang gedung sekolah yang selalu sepi dari keramaian.
Setibanya ia di sana, Keira kemudian menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar. Ia lalu menghela nafas panjang berkali-kali sambil meletakkan kedua tangan di dadanya.
"Apakah aku ingin menjadi seorang ratu? Atau, apakah aku akan menikahinya dengan tujuan ingin memiliki kekuatannya? Sebenarnya perasaan apakah ini?" gumam Keira.
__ADS_1
Ia kemudian terdiam sesaat, lalu mengeluarkan Starlet dari dalam saku jas sekolahnya, dan memperhatikan benda itu dengan wajah yang serius.
"Pertanyaannya hanya satu, dan aku tidak bisa menjawabnya," gumam Keira dalam hatinya, namun tiba-tiba, ia teringat-ingat lagi kejadian di pantai pada waktu itu, ketika pria misterius tersebut hendak melukai dirinya, juga luka sayatan yang diterima oleh Higarashi yang ia sembuhkan dengan Healing Renovatio miliknya.
Hari semakin siang, dan setelah berdiam untuk beberapa saat sambil menatap Starlet tersebut, Keira akhirnya memutuskan sesuatu.
“Baiklah, aku sudah memutuskan,” ucapnya.
Ia langsung berlari keluar dari sekolah, dan terburu-buru untuk segera kembali menuju ke rumahnya. Ia bahkan tidak peduli walaupun bus sudah penuh sesak, tetap saja ia masuk ke dalamnya.
Sementara itu, Higarashi sendiri terlihat sudah berada di depan rumah Keira, namun karena gadis itu sepertinya tidak datang setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang.
"Mungkin memang seharusnya aku tidak memaksanya," gumam Higarashi pelan.
Ia kemudian mengambil langkah untuk kembali pulang, namun dari kejauhan, ia melihat seorang gadis yang sedang berlari ke arahnya yang berteriak, "Tunggu!"
Gadis itu rupanya Keira. Dengan terengah-engah, ia berlari hingga akhirnya ia tiba di hadapan Higarashi, dengan wajah yang lelah. Pria itu terkejut, tentu saja, karena ia pikir Keira tidak akan menampakkan dirinya lagi setelah malam itu.
"Ah, aku hendak kembali, karena aku pikir dirimu tidak akan muncul. Ah, iya, selamat atas kelulusanmu!" seru Higarashi dengan wajah yang kebingungan, namun juga dengan senyum yang dipaksakan.
"Pria bodoh," gumam Keira, kemudian ia merogoh ke dalam saku jas sekolahnya, dan mengeluarkan Starlet darai sana, lalu ia memberikannya kepada Higarashi.
Higarashi tampaknya mengira bahwa Keira sudah menolaknya, lalu wajahnya seketika berubah sedih.
“Baiklah kalau begitu, aku akan mengambil benda ini," ujarnya.
"Apa? Mengambilnya?! Benda ini milikku, kau yang memberikannya padaku, mengapa justru kau tarik kembali?!" tanya Keira dengan wajah yang memerah.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Higarashi dengan wajah yang penuh denngan kebingungan.
__ADS_1
"Pakaikan ini di leherku, aku tidak bisa memakainya sendiri, dasar tidak peka!!" seru Keira dengan wajah yang semakin memerah.
Higarashi terdiam sesaat sampai ia menyadari maksud dari ucapan Keira barusan.
“Ah, baiklah! Baiklah!” serunya.
Higarashi langsung mengambil Starlet itu dari tangan Keira, kemudian mendekatinya untuk mengalungkan benda tersebut di lehernya. Semakin pria tersebut dekat dengannya, jantung Keira berdetak semakin kencang, dan kedua bola matanya membesar.
Setelah Higarashi mengalungkan Starlet tersebut di lehernya, Keira langsung menatap lurus kedua mata pria tersebut dengan wajah yang memerah. Namun tidak berapa lama kemudian, wajahnya mendadak berubah menjadi sendu.
“Keira, ada apa? Apakah kau tidak menginginkan Starlet tersebut?” tanya Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
Keira menghela nafas pendek, lalu menjawab, "Aku … aku benar-benar minta maaf, Higarashi. Aku tidak pernah ingin membawa dirimu dalam kutukan ini. Aku sangat sadar, setelah aku menerima perasaanmu, perang besar akan segera dimulai, dan aku sangat takut semua ini akan membahayakan dirimu dan Planet Halida. Aku … mulai merasa menyesal sudah memintamu melakukan hal ini.”
Higarashi tiba-tiba mencium bibir Keira saat itu juga. Gadis itu justru memejamkan kedua matanya dan memeluk pria itu erat-erat. Setelah beberapa saat, Higarashi kemudian melepaskan ciumannya, lalu menatap Keira dengan wajah yang serius dan menggandeng kedua tangannya.
"Dengar, aku tidak peduli apakah kau seorang Crossbreed atau bukan, namun, perasaanku ini tidak bisa dibohongi lagi. Aku akan segera membawamu menemui kedua orang tuaku. Apakah kau sudah siap untuk itu?" tanyanya.
Tiba-tiba dari belakang Keira, seorang pria terlihat berdiri agak jauh dari posisi mereka sekarang.
“Pergilah bersamanya, Keira. Aku akan membantumu dalam menghadapi para Silverian itu,” serunya.
Keira langsung memutar badannya ke belakang dan menatap ke arah pria tersebut. Higarashi kemudian tersenyum begitu ia melihat siapa yang baru saja datang.
“Perdana Menteri Xyon,” ucap Higarashi.
"Paman Xyon!" seru Keira dengan wajah yang terkejut.
Xyon kemudian berjalan mendekati Higarashi dan berdiri sangat dekat dengannya, sambil melihatnya dengan sorot mata yang tajam. Kini, Higarashi dan sang Perdana Menteri dari Palladina itu menatap satu sama lain dan berdiri dengan jarak yang dekat.
__ADS_1
“Aduh, Paman,” bisik Keira pelan.