
Flerix tiba-tiba menghentikan langkahnya dan meraih pinggang Ryena, serta mendekatkan tubuhnya kepada sang putri, lalu menatapnya dengan sorot mata yang tajam, dan berbisik, "Bagaimana jika aku menaikkan statusmu, Tuan Putri?”
Ryena sangat terkejut dengan aksi Flerix tersebut, lalu ia bertanya, “Apa maksudmu, Flerix?”
“Aku adalah seorang raja … dari Planet Silverian,” jawab Flerix.
Ryena langsung tersenyum, dan bertanya lagi, "Maksudmu … aku bisa menjadi seorang permaisuri?"
Flerix hanya tersenyum. Ia lalu meraih tangan kanan Ryena dan menggandengnya, kemudian membawanya berlari hingga berhenti tepat di depan sebuah ruangan. Flerix lalu membuka pintu ruangan tersebut, dan mengajak Ryena untuk masuk ke dalamnya.
Setelah mereka berdua sudah berada di dalam ruangan itu, Flerix dengan cepat mengunci pintunya. Ruangan itu adalah ruangan pribadi milik Flerix yang memang disiapkan khusus di dalam Silvir.
Sambil masih menggandeng tangan Ryena, Flerix kemudian berjalan menuju ke sebuah sofa panjang yang berada di samping kiri ruangan itu.
Ia lalu membaringkan tubuh Ryena perlahan, menatap mata sang putri dengan sorot mata yang tajam, kemudian bertanya, "Apakah kau yakin kau ingin ikut denganku?"
Ryena langsung mengangguk dan menjawab sambil tersenyum, "Aku sangat menginginkannya, Flerix."
Flerix langsung mencium bibir Ryena dan mulai mencumbunya setelah ia mendapatkan jawaban yang memang diinginkannya. Ryena tidak menolak. Ia bahkan menikmati seluruh sentuhan itu. Mereka berdua lalu saling membalas cinta, dan karena terlalu terbawa suasana, mereka bahkan tidak sadar bahwa hari mulai gelap di luar.
Tidak tahu apakah Ryena sudah berpikir panjang akan konsekuensi dari keputusannya sendiri, namun, di sisi lain, Anexta yang sedang duduk di atas ranjang, di dalam tendanya sendiri, mendadak merasakan sakit dari dalam dadanya.
Ia meletakkan tangan di dadanya sambil melotot tajam ke arah pintu masuk tenda, dan bergumam, “Ryena!”
Anexta lalu berdiri, namun, ia justru terjatuh sambil berlutut di atas tanah, masih dengan tatapan tajam ke arah pintu masuk tenda tersebut.
“Ryena, Flerix! Kalian!” teriaknya dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Xyon yang sedang berjaga di depan tenda milik ratunya itu, mendadak terkejut setelah mendengar teriakan dari dalam.
Ia lalu memutar badannya ke belakang, dan berteriak dari luar tenda, "Yang Mulia! Apakah anda baik-baik saja?"
__ADS_1
Sambil memegang dadanya yang terasa semakin sakit, Anexta kemudian berteriak dengan nada yang sangat tinggi, "Kau! Siapa pun itu di luar, cepat periksa tenda Putri Ryena! Cepat! Cepat!!”
Mendengar perintah yang mendadak dari sang ratu, Xyon langsung berlari menuju tenda pribadi milik Ryena, namun, Sey tiba-tiba menghampirinya dari arah yang berlawanan, sambil berlari dengan cepat ke arahnya.
"Xyon!! Yang Mulia Putri menghilang!" teriak Sey dengan wajah yang terlihat panik.
Xyon langsung menghentikan langkahnya, begitu juga Sey. Wajah mereka terlihat panik setelah Sey berteriak seperti itu.
Anexta yang berada di dalam tenda, tentu mendengar teriakan Sey yang amat keras barusan. Kedua matanya melotot, wajahnya juga berubah pucat. Ia lalu berdiri, kemudian berjalan keluar dari tendanya, dan langsung berlari menuju ke tenda milik Ryena.
“Ryena!” seru Anexta.
“Yang Mulia!” seru Xyon.
Xyon dan Sey langsung mengikuti Anexta dengan cepat. Sesampainya mereka di depan tenda milik Ryena, Anexta langsung membuka pintunya sementara Xyon dan Sey berdiri di belakangnya. Kedua bola mata mereka dengan cepat melihat ke kiri dan ke kanan, namun, tidak ada seorang pun di dalam sana.
Anexta langsung berlutut. Tubuhnya terasa lemas. Ia mulai menangis, melihat adiknya tidak ada sama sekali di dalam tenda itu.
Tanpa menoleh ke belakang, Anexta langsung berseru lagi, "Kalian, cepat cari Putri Ryena, sampai ia ditemukan, di mana pun itu!"
“Baik, Yang Mulia!” balas Xyon dan Sey.
Mereka dengan cepat berlari ke arah yang berbeda dan memerintahkan beberapa pasukan untuk ikut dengan mereka, termasuk Arex, Nordian dan Weim yang juga dipanggil oleh Xyon untuk ikut berpencar mencari keberadaan Ryena.
Anexta yang masih berlutut, kini mulai melotot tajam ke bagian belakang tenda milik adiknya itu.
“Apa yang sedang kau lakukan, Ryena? Di mana kau sedang berada sekarang? Apakah kau sedang bersama dengan Flerix?” tanyanya kepada diri sendiri.
Malam itu, semua pasukan dan pelayan, langsung mencari-cari di mana Ryena sedang berada, tanpa tahu bahwa ia sedang menikmati malam ini dengan Flerix di dalam Silvir, yang letaknya jauh dari perkemahan milik para Palladina itu.
Pada pagi hari esoknya, Ryena terlihat keluar dari dalam Silvir, lalu berjalan sendirian di dalam hutan lebat yang seluruh pepohonannya kini ditembus oleh sinar matahari pagi. Setelah tiba di perkemahan milik para Palladina, ia kemudian berjalan menuju bagian belakang tendanya dengan perlahan, secara diam-diam, agar tidak ada satu pun yang mengetahui kepergiannya.
__ADS_1
Ia lalu masuk ke dalam tenda pribadi miliknya itu dari bagian belakang, dengan senyum yang sumringah di wajahnya.
"Malam indah yang melelahkan!" serunya.
Namun, Anexta yang tidak tidur sama sekali dari semalam dan lebih memilih menunggu sambil duduk di atas sebuah kursi yang ada di dalam tenda milik adiknya itu, kebetulan saja melihat Ryena yang secara diam-diam masuk ke dalam tendanya sendiri barusan.
Ryena langsung menatap kakaknya itu dengan wajah yang terlihat sangat terkejut, begitu juga Anexta. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, dengan situasi yang tidak mengenakkan.
“Ryena!” seru Anexta.
“Kakak?” balas Ryena pelan.
Keringat dinginnya mulai mengalir membasahi wajahnya. Anexta lalu berdiri dan berjalan mendekatinya.
“Kakak, sejak kapan kakak sudah berada di dalam sini?” tanya Ryena sambil tersenyum, namun, wajahnya terlihat panik.
Anexta lalu menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan adiknya itu dengan wajah yang terlihat kesal.
"Malam indah yang melelahkan? Apa yang sudah kau lakukan? Ke mana saja dirimu, Yang Mulia Putri Ryena!?" teriaknya.
Ryena langsung melotot. Ia justru menatap balik kakaknya dengan tatapan yang tajam, dan menjawab, "Aku?"
Lalu raut wajah Ryena mendadak berubah menjadi panik, dan ia hanya bisa berkata lagi, "Aku … aku … Berjalan menikmati indahnya pagi ini, sejak tadi subuh!”
Emosi Anexta langsung memuncak ketika adiknya itu tidak memberikan jawaban yang sebenarnya.
Ia lalu menampar Ryena hingga adiknya itu terjatuh, tersungkur di atas tanah. Ryena langsung melotot tajam kepada Anexta, sambil menahan perih di wajahnya dengan tangan kanannya.
“Kakak!” seru Ryena dengan wajah yang terlihat kesal.
"Sejauh apa … sejauh apa yang sudah kalian lakukan? Sejauh apa hubungan kalian? Antara kau dan Raja Flerix dari Silverian itu?!" tanya Anexta sambil menunjuk-nunjuk ke arah adiknya itu.
__ADS_1
“Kau … Kakak…,” gumam Ryena sambil menatap kakaknya dengan wajah yang terlihat penuh dengan emosi, dan hatinya yang sakit karena sikap Anexta kepadanya barusan.