Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Perdana Menteri Xyon


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Xyon dan Arex memutuskan untuk kembali menuju ke planet asal mereka, Planet Palladina. Dan sekali lagi, planet itu berduka atas tewasnya pemimpin mereka. Kabar duka yang terdengar hingga ke seluruh penjuru, bahkan satu per satu pemimpin dari planet lainnya memberikan surat kosmik yang berisi ucapan duka cita.


Seluruh penduduk memakai pita hitam di lengan-lengan mereka, sementara orang-orang yang bekerja untuk istana, diharuskan untuk memakai baju berwarna hitam selama empat puluh hari masa berkabung nasional.


Beberapa pejabat tinggi mulai mempertanyakan kemampuan Xyon untuk melindungi pemimpin planet tersebut, dan bahkan sudah ada perdebatan sengit mengenai hal itu. Mereka bahkan bertanya-tanya siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya, karena Anexta sendiri sudah tewas, sementara … para pejabat itu tidak mengetahui kalau ia sebenarnya sudah memiliki seorang anak yang disembunyikan di dalam Planet Bumi.


“Mendiang Yang Mulia Ratu tidak memiliki penerus, bagaimana ini? Ia bahkan belum pernah menikah!” seru salah seorang pejabat tinggi.


“Mantan Putri Ryena juga sudah tidak ada, lagi pula, ia hanyalah seorang anak angkat, bukan?” tanya seorang pejabat lainnya.


Dan demikian, para pejabat dan bangsawan mulai berspekulasi tentang siapa yang akan menjadi penerus tahta kerajaan Palladina.


Setelah tiga hari tewasnya Anexta, Xyon terlihat sedang berjalan menuju ke sebuah ruangan. Ia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalamnya dengan cepat, lalu kembali menutup rapat pintunya.


“Laci … sebelah mana?” gumamnya pelan.

__ADS_1


Ia kemudian berjalan menuju ke sebuah meja kerja yang berada di depannya, lalu mulai membuka satu per satu seluruh laci yang terletak di sana, sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah surat kosmik yang terlihat seperti amplop.


Xyon lalu mengambil surat kosmik tersebut sambil bergumam, “Apakah ini surat wasiatnya? Baiklah, aku akan membacakannya nanti, setelah empat puluh hari masa berkabung nasional sudah terlewat. Akan kusimpan surat kosmik ini terlebih dahulu.”


Ia kemudian memasukkan benda itu ke dalam saku celananya, dan dengan terburu-buru, ia keluar dari ruangan tersebut, dengan tidak lupa untuk menutup kembali pintunya, lalu berjalan dengan cepat menuju ke ruangan lainnya.


Empat puluh hari akhirnya terlewat. Seluruh orang yang statusnya adalah pejabat atau bangsawan, atau bahkan penduduk biasa dari seluruh planet yang ada di dalam Galaksi Metal, berbondong-bondong datang ke istana kerajaan Palladina. Xyon mengundang mereka semua, untuk menjadi saksi pembacaan surat wasiat dari mendiang Yang Mulia Ratu Anexta … kecuali para Silverian.


Hari itu, istana menjadi sangat padat, karena antusias dari orang-orang dari berbagai penjuru ataupun planet, datang dengan rasa penasaran siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya setelah Anexta. Ruang utama istana pun penuh, walaupun tidak begitu sesak. Beberapa orang terlihat berkumpul di luar ruangan tersebut, bahkan hingga di luar istana.


Setelah menunggu untuk beberapa saat, Xyon akhirnya terlihat berjalan masuk ke dalam ruang utama istana, beserta dengan keempat jenderal bawahannya. Seluruh mata memandang ke arahnya. Ia kemudian naik ke atas altar dengan dua singgasana yang ada di belakangnya.


"Yang Mulia Raja dan Ratu, pangeran, putri, para pejabat dan bangsawan serta rakyat biasa dari segala penjuru Galaksi Metal. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu kalian yang sangat berharga, untuk hadir di sini dan mendengarkan isi dari surat wasiat mendiang Yang Mulia Ratu Anexta," seru Xyon.


Ia kemudian meraih sebuah kertas kosmik dari dalam saku celananya dan mengeluarkannya. Kertas kosmik tersebut kemudian melayang di hadapan Xyon dan terbuka dari lipatannya sendiri, lalu wajah Anexta muncul di sana dan semua orang langsung menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Aku, Yang Mulia Ratu Anexta dari Palladina, merekam dengan tangan dan mulutku sendiri di dalam surat wasiat ini. Mungkin, aku sudah tewas ketika kalian melihatku sekarang di dalam kertas kosmik ini. Baiklah, dengan surat wasiat ini, aku memerintahkan bahwa, satu, jika aku sudah terlebih dahulu tiada dan belum memiliki keturunan yang sah, maka dengan ini aku nyatakan Jenderal Senior Xyon untuk menjadi pemimpin, untuk menggantikan diriku, maka demikian, gelar yang kuberikan kepadanya adalah Perdana Menteri, dengan kewajiban yang sama setara dengan gelar Yang Mulia Raja, namun beberapa haknya akan dibatasi,” seru Anexta yang berada di dalam kertas kosmik tersebut.


Semua orang yang mendengarkan hal itu, langsung terkejut, termasuk Xyon sendiri. Namun, mereka masih memperhatikan kertas kosmik tersebut.


“Ia tidak diperbolehkan menggunakan kereta antar planet, dan tidak diperbolehkan untuk dimahkotai sebagai raja. Kedua, Jenderal Arex, Jenderal Weim, Jenderal Sey, dan Jenderal Nordian, keempatnya akan naik satu jabatan menjadi Jenderal Senior, dan kutugaskan mereka berempat untuk menemani dan menjaga serta mengawasi Perdana Menteri Xyon dalam menjalankan tugasnya. Ketiga, jika aku sudah memiliki keturunan yang sah, maka poin pertama dan kedua tidak akan berlaku, namun keturunanku yang sah nantinya, yang memiliki gelar kerajaan resmi, maka ialah yang berhak atas tahta ini, dengan gelar Yang Mulia Raja atau Yang Mulia Ratu. Demikian surat wasiat ini kubuat dengan tanganku sendiri, aku harap perintah ini untuk segera dijalankan agar tidak ada kekosongan kepemimpinan,” seru Anexta lagi yang di dalam kertas kosmik tersebut.


Setelah itu, mendadak kertas kosmik tersebut jatuh ke bawah, dan Xyon langsung menangkapnya, lalu kembali melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya kembali. Semua orang terdiam, bahkan melotot ke arah Xyon. Jenderal Senior yang sekarang sudah menjadi Perdana Menteri itu bahkan juga ikut melotot, karena tidak percaya akan apa yang sudah dibicarakan oleh mendiang ratunya dalam surat wasiat tadi.


"Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya jika mendiang Yang Mulia Ratu Anexta sudah memiliki seorang anak? Astaga, bagaimana ini? Para pejabat itu tidak akan menyukaiku. Aku tidak pernah memimpin sebuah planet!” gumam Xyon dalam hatinya.


Setelah beberapa saat, ia kemudian menghela nafas panjang dan mulai memberanikan dirinya untuk kembali menatap orang-orang yang berada di dalam ruang utama tersebut, dengan wajah yang canggung.


Tiba-tiba saja, Arex sedang berdiri di bawah altar tersenyum, lalu berseru, "Baiklah, para hadirin sekalian, mari sambut pemimpin Planet Palladina yang baru, Perdana Menteri Xyon!"


Lalu kemudian Arex memutar badannya dan membungkukkan badannya di hadapan Xyon, dan untuk untuk menghormati wasiat dari mendiang ratunya. Semua orang yang ada di sana mulai mengikuti sikapnya.

__ADS_1


“Selamat kepada Perdana Menteri Xyon!” seru mereka, walaupun beberapa orang memasang wajah yang tidak bersahabat ketika sedang menundukkan kepala.


Setelah mendengar ucapan selamat dari semua orang yang berada di dalam ruangan itu, Xyon hanya bisa menghela nafas panjang, lalu membungkuk di hadapan mereka untuk beberapa saat.


__ADS_2