
Anexta mulai menangis dengan kencang, sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Arex, Nordian, Sey, dan Weim kemudian berdiri, lalu menoleh ke arah Xyon dengan wajah yang kesal. Mereka sampai melotot karena tidak percaya akan apa yang baru saja mereka dengar langsung dari mulut Xyon.
Nordian tiba-tiba menatap Xyon yang masih berlutut di hadapan sang ratu itu, dengan wajah yang serius sambil menahan amarahnya.
"Xyon, apakah kau sadar, bahwa semua yang kau katakan barusan itu, sudah menyakiti hati Yang Mulia Ratu? Apakah kau yakin, bahwa kau sudah melihat kejadian itu dengan kedua mata kepalamu sendiri?" tanya dengan nada tinggi.
Xyon langsung mengangkat kepalanya dan menatap balik Nordian dengan raut wajah yang serius.
"Lihat wajahku ini, apa aku pernah berbohong pada kalian semua walaupun hanya sekali?” ucapnya.
Ia tiba-tiba berdiri, lalu berjalan mendekati Nordian dan berdiri di hadapan keempat jenderal bawahannya itu dengan wajah yang kali ini dipenuhi dengan emosi. Akibat sorot mata Xyon yang sangat tajam, Nordian, Weim, Arex, dan Sey hanya bisa terdiam sambil sesekali menelan ludah.
“Aku sendiri bahkan sedang kebingungan, dengan bagaimana cara untuk melaporkan hal ini kepada Yang Mulia Ratu. Kalian pikir aku tidak berusaha untuk mencegah Yang Mulia Putri untuk menelan pil hitam itu? Aku sudah berusaha mengambilnya dari tangan Yang Mulia Putri!” seru Xyon.
Mereka berempat hanya bisa melotot ke arah sang jenderal senior itu.
“Namun, aku lebih tidak percaya bahwa ia akan langsung menelan pil hitam yang langsung mengubahnya menjadi seorang Silverian! Ia bahkan memintaku untuk memberitahukan semua yang ia baru saja ia lakukan kepada Yang Mulia Ratu, lalu ia langsung masuk ke dalam pesawat luar angkasa milik para Silverian itu, tanpa berpikir panjang!" ucap Xyon lagi, dengan nada tinggi.
Sementara itu, Anexta yang masih menangis sambil berlutut, tiba-tiba saja teringat kembali apa yang sudah Ryena katakan sebelumnya, bahwa ia memang tidak pernah memercayai kemampuan adik perempuan satu-satunya itu.
Setelah berpikir untuk beberapa saat, tangisan Anexta mulai sedikit mereda, namun ia masih mengeluarkan air mata. Dengan mata yang sembab, ia kemudian berdiri, dan memutar badannya ke belakang, lalu menoleh ke arah Xyon dan keempat jenderal lainnya dengan wajah yang serius.
Xyon langsung menoleh ke arah Anexta, dan mereka berlima mulai menatap lurus kepada sang ratu.
__ADS_1
"Aku mencintai adikku... Dan jika memang itu kemauannya sendiri, maka aku harus belajar untuk memercayainya. Aku berharap, Raja Flerix bisa memberikannya kebahagiaan yang sudah lama diinginkan Putri Ryena,” ucap Anexta sambil tersenyum sinis.
“Yang Mulia?” tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya begitu ia melihat senyuman sinis dari sang ratu barusan.
Anexta menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan, “Aku … aku akan menggunakan Putri Ryena untuk memancing Raja Flerix keluar dari sarangnya. Jika kesempatan itu tiba, aku akan segera membunuh Raja Flerix dan mengambil kembali adikku!”
Pernyataannya ini membuat kelima jenderal itu terkaget-kaget.
“Rencana apa yang anda miliki, Yang Mulia?” tanya Weim.
“Biarkan saja Putri Ryena pergi bersama dengan Raja Flerix. Aku akan membiarkan mereka berdua. Namun, aku harus mencabut seluruh gelar kerajaan milik Putri Ryena, dan menjadikannya sebagai warga biasa,” jawab Anexta.
Xyon sepertinya mengerti dengan ucapan Anexta barusan, namun tidak bagi keempat jenderal lainnya yang mendadak berlutut kembali di hadapan sang ratu dengan raut wajah yang terlihat panik.
"Yang Mulia Ratu! Kami harap Yang Mulia mau menarik pernyataan itu! Kami semua akan berusaha mengambil kembali Yang Mulia Putri dari tangan Raja Flerix, kami mohon, tariklah kembali pernyataan itu!" seru Weim sambil menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh tanah.
“Jenderal Weim, ada apa? Mengapa kau justru menentang keputusanku terhadap Putri Ryena? Ada apa denganmu?” tanya Anexta sambil mengernyitkan dahinya.
“Karena aku … akulah yang sudah membawa Yang Mulia Putri untuk masuk ke dalam istana ketika ia masih bayi. Yang Mulia, izinkanlah aku untuk membujuknya dan membawanya kembali ke dalam Planet Palladina,” jawab Weim dengan kepala yang masih tertunduk.
Anexta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis. Kelima jenderal itu langsung mengangkat kepala mereka dan menatap sang ratu yang wajah yang dipenuhi dengan kesedihan. Sementara Xyon hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengar ucapan Weim barusan.
"Aku … tidak bisa menarik lagi pernyataanku barusan, karena Putri Ryena dan Raja Flerix … mereka berdua sudah saling berbagi perasaan. Dan jika ia benar-benar menelan pil hitam itu, maka seharusnya Putri Ryena bukan lagi seorang Palladina, melainkan sudah menjadi seorang Silverian. Seharusnya Raja Flerix memberikan mahkota permaisuri kepadanya. Maafkan aku," jawab Anexta.
__ADS_1
Ia kemudian berjalan melewati keempat jenderal yang masih berlutut itu, menuju keluar tenda. Xyon mengikutinya dari belakang, dengan wajah yang datar kali ini.
Sambil berjalan pelan, Anexta berkata kepada sang jenderal senior itu, "Mari kita kembali ke Planet Palladina sekarang juga, sudah tidak ada gunanya kita disini berlama-lama."
“Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?” tanya Xyon.
Anexta langsung tersenyum, lalu menjawab, “Aku memang sedih, Jenderal Senior Xyon. Namun, Raja Flerix adalah musuh kita sekarang, setelah apa yang ia lakukan kepada planet-planet yang tidak berdaya itu. Aku mengasihani Putri Ryena, namun tidak dengan Raja Flerix.”
Xyon hanya mengangguk pelan. Karena ia sudah sangat lama berada di dalam pemerintahan dan Anexta adalah pemimpin ketiga yang sudah ia layani, Xyon tentu sangat mengerti maksud dari ucapan sang ratu tadi.
“Keempat jenderal itu adalah bawahanmu, dan mereka sudah sangat lama ikut denganmu, bahkan aku sering bermain dengan mereka pada masa kecilku. Namun, Jenderal Senior Xyon, aku harap kau bisa mengajari mereka caranya untuk merencanakan taktik perang yang baik, agar ke depannya, mereka tidak lagi harus salah paham dengan ucapan-ucapanku, seperti tadi,” ucap Anexta lagi.
“Maafkan aku, Yang Mulia. Mereka memang terkadang ceroboh,” balas Xyon sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Anexta menghela nafas panjang, kemudian kembali berkata, “Kita akan segera kembali ke istana. Kumpulkan semua orang yang ada di sekitar istana, karena aku akan membuat pengumuman penting kepada seluruh rakyatku beserta pendatang yang berasal dari luar planet kita.”
“Apakah ini tentang Yang Mulia Putri?” tanya Xyon.
“Ia sudah tidak bisa lagi menggunakan gelar itu, jadi, jangan pernah lagi memanggilnya dengan sebutan Yang Mulia Putri Ryena. Ia adalah Ryena sekarang. Hanya Ryena, seorang Silverian, sampai aku yakin bahwa Raja Flerix benar-benar menjadikannya sebagai permaisuri dari Planet Silverian dan penobatannya sudah dilakukan, maka aku akan memanggilnya Yang Mulia Permaisuri Ryena dari Silverian,” jawab Anexta tegas.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke tengah-tengah perkemahan.
Wajah Anexta terlihat sedih, namun justru di dalam hatinya, ia bergumam, “Ryena, kepolosanmu itu sudah membuatmu jatuh ke dalam jebakan Raja Flerix. Namun tenang, aku akan menghancurkannya setelah ini.”
__ADS_1