
Higarashi kemudian masuk terlebih dahulu, dan Keira mengikutinya. Namun tiba-tiba saja, perempuan berambut biru tua itu terpeleset karena lantai yang basah.
“Ah!” seru Keira.
“Keira!” balas Higarashi dengan wajah yang terlihat panik.
Ia hendak menarik tangan istrinya, namun, seorang pria yang baru saja masuk ke dalam restoran tersebut dan kebetulan sedang berada di belakang Keira, justru lebih cepat beraksi dengan menahan dan memeluk tubuh sang Permaisuri dari Halida itu agar tidak terjatuh ke atas lantai.
Keira dan pria itu lantas saling menatap satu sama lain, walaupun … ia dan Higarashi masih saling bergandengan tangan. Higarashi langsung menoleh ke arah pria itu, dan wajahnya langsung berubah menjadi kesal. Wajah Keira memerah, dan begitu ia tersadar bahwa ia sedang berada di dalam pelukan orang asing, ia langsung mendorong sedikit tubuh pria tersebut dan mendekatkan dirinya kepada sang suami.
“Ah, uh, maafkan aku, Aerim! Maafkan aku yang kurang berhati-hati” seru Keira.
“Ah, tidak masalah, Keira,” balas pria itu.
“Aerim?” tanya Higarashi sambil menatap pria itu, Aerim, dengan sorot mata yang tajam.
Ia kemudian menggandeng istrinya dengan semakin erat sambil mengernyitkan dahinya. Namun, Aerim justru berpura-pura untuk tidak mengetahui bahwa Higarashi sedang cemburu kepada dirinya.
“Higarashi, Keira, apakah kalian kemari juga karena ingin makan siang?” tanya Aerim dengan wajah yang ceria.
“Bagaimana dengan dirimu?” tanya Higarashi masih dengan wajah yang serius.
“Aku? Ah, aku hanya ingin mengambil makan siang bagi para penjaga pantai. Wanita pemilik restoran ini setiap siang akan membagikan makanan, hanya untuk para penjaga pantai,” jawab Aerim dengan senyum.
Keira mulai memperhatikan wajah Higarashi yang sepertinya terlihat kesal dengan Aerim, namun apakah suaminya itu sedang cemburu, ia tidak tahu pasti. Tiba-tiba, seorang wanita dengan rambut hitam dan bola mata yang berwarna sama, terlihat berjalan keluar sambil membawa dua buah tas berisi bekal makan.
Mereka bertiga langsung menoleh ke arah wanita itu.
“Viora!” seru Aerim, lalu ia berjalan mendekati wanita pemilik resoran tersebut, Viora, dan berdiri di hadapannya.
Viora kemudian memberikan dua buah tas yang ia pegang kepada Aerim, dan tersenyum kepada pria itu. Aerim langsung menerima tas-tas tersebut sambil membalas senyumannya.
__ADS_1
“Aku harap kalian suka, hari ini ada menu spesial!” ucap Viora dengan senyum di wajahnya.
“Baiklah, aku akan kembali! Terima kasih, Viora!” seru Aerim, kemudian, ia berjalan dengan cepat keluar dari restoran itu, dan berlalu begitu saja, meninggalkan Higarashi dan Keira yang masih berada di sana.
Viora kemudian menatap ke arah Higarashi dan Keira, lalu berkata, “Duduklah, Anak Muda.”
“Terima kasih, Nyonya,” balas Higarashi.
Ia kemudian mengajak Keira untuk berjalan ke sebuah meja yang berada di sebelah kanan restoran tersebut, masih dengan wajah yang kesal hingga Keira mencurigainya sedang cemburu kepada Aerim. Mereka lalu duduk di atas kursinya masing-masing, lalu Keira mengambil sebuah buku menu yang terletak di atas meja tempatnya berada.
Viora lantas berjalan mendekati keduanya dan berdiri di samping Higarashi, kemudian bertanya, “Katakan kepadaku, apa yang kalian ingin makan pada siang ini?”
Mereka kemudian memesan beberapa makanan kecil dan dua gelas minuman. Viora dengan senang hati melayani keduanya, bahkan ia terus menerus tersenyum kepada Higarashi. Ia lalu memberikan rincian pembayaran kepada sang Raja dari Halida tersebut, dan Higarashi lantas membayarnya.
“Baiklah, terima kasih. Aku akan segera menyiapkan pesanan kalian,” ucap Viora.
Ia langsung bergegas menuju ke dapur dan meninggalkan mereka berdua. Keira kemudian menatap suaminya itu dengan wajah yang terlihat penuh dengan rasa penasaran.
Higarashi langsung menoleh ke arah istrinya dan membalas, “Cemburu? Oh, tidak, maafkan aku, Keira. Sebaiknya kita kembali saja. Hari juga sudah mulai sore.”
“Ke mana kau ingin kembali?” tanya Keira lagi.
Tiba-tiba, Viora datang dengan membawa nampan yang di atasnya sudah penuh dengan piring dan gelas. Ia kemudian berdiri di sebelah Higarashi hingga pria itu menoleh ke arahnya, lalu meletakkan pesanan mereka di atas meja.
“Selamat menikmati!” serunya.
Ia lantas berjalan kembali menuju ke dapur, membiarkan Keira dan Higarashi untuk menikmati santapannya. Begitu mereka sudah selesai menghabiskan seluruh makanan dan minumannya, mereka lalu berdiri dan keluar dari restoran tersebut, namun tidak saling bergandengan tangan.
Higarashi kemudian berjalan menuju ke bangunan yang berada di samping restoran itu, dan Keira mengikutinya. Raja dari Halida tersebut kemudian mengangkat tangan kanannya dan sebuah Star Baton berwarna merah mendadak muncul di dalam genggamannya.
Dengan sedikit ayunan, dari ujung Star Baton itu mulai mengeluarkan debu-debu halus yang melayang-layang di hadapan mereka berdua, lalu berubah menjadi sebuah terowongan ajaib. Benda tersebut kemudian menghilang dan Higarashi langsung menggandeng tangan kiri Keira.
__ADS_1
“Masuklah,” ucapnya pelan.
Mereka lalu masuk ke dalam terowongan ajaib tersebut, dan tubuh mereka berdua kini melayang-layang di udara dengan cepat, hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Keira. Terowongan ajaib tersebut lantas mendaratkan mereka tepat di depan pintu rumah itu, kemudian menghilang.
Keira lalu membuka pintu, dan mereka kemudian masuk ke dalam rumah, masih tanpa saling berbicara. Tampak ada ketegangan di antara keduanya, bahkan Higarashi mendadak merasa canggung ketika berada di dekat istrinya itu.
Matahari kemudian tenggelam dan malam pun tiba. Di dalam sebuah kamar penginapan yang sepi di ujung kota, seorang pria terlihat sedang duduk sambil bersantai dan menikmati minuman hangat yang baru saja ia buat untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja, pintu kamar diketuk dari luar oleh seseorang, dan pria itu kemudian berdiri, berjalan mendekati pintu, lalu membukanya dengan pelan. Ia lantas menatap ke arah tamunya, seorang gadis yang berambut pirang.
"Oh, kau datang juga, Chexy," ucap pria itu dengan wajah datar, kepada tamunya.
"Tentu saja, Aerim. Aku ingin bernegosiasi denganmu," balas Chexy, yang rupanya adalah tamu dari pria tersebut, Aerim, untuk malam ini.
“Masuklah,” balas Aerim.
Chexy kemudian masuk ke dalam, dan Aerim langsung mengunci pintunya. Ia kemudian mempersilakan tamunya untuk duduk di atas sofa yang empuk yang terletak di tengah-tengah kamar tersebut.
Gadis berambut pirang itu lalu berjalan ke arah sofa, kemudian duduk di atasnya sambil memperhatikan isi kamar tersebut.
"Apakah kau ingin minum sesuatu?" tanya Aerim.
"Ah, tidak, aku ke sini hanya ingin langsung berbicara ke intinya saja, Aerim," balas Chexy.
"Baiklah," balas Aerim, kemudian ia duduk tepat di hadapan Chexy.
Mereka kini hanya terhalang oleh sebuah meja kecil. Gadis berambut pirang itu tiba-tiba menatap Aerim dengan tatapan tajam dan wajah yang serius.
"Aerim, aku ingin membalaskan dendamku kepada Higarashi," ucapnya pelan.
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" tanya Aerim, dengan senyum sinis di wajahnya.
__ADS_1
Chexy kemudian berdehem sedikit, lalu ia berkata, "Aku ingin merusak hubungan mereka, seperti Higarashi yang sudah merusak hidupku."