Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Hari Pernikahan yang Ditunggu


__ADS_3

Keira tersenyum kecil, kemudian membalas, "Paman, Higarashi akan segera tahu maksud dan tujuanku. Jika ia memang mencintaiku, ia pasti akan menerima segala keputusanku tentang hal ini."


Xyon kemudian membalas senyuman itu, lalu berkata, “Baiklah. Aku di sini untuk membawamu ke Planet Halida, karena mereka memintamu untuk melakukan persiapan pernikahan di sana. Higarashi sudah mengirimkan perhiasan dan gaun sebagai tanda jadi pernikahan kalian, dan para pelayan sudah mengurusnya.”


Keira mengangguk. Ia kemudian keluar dari kamar dan menutup pintunya. Mereka lalu berjalan bersama-sama, menuju ke halaman depan istana.


“Apakah kau tidak merasa ketakutan, Keira?” tanya Xyon.


“Tidak, Paman. Begitu aku memotong rambut ini, semua ketakutanku akan masa depan, mendadak hilang,” jawab Keira.


Begitu mereka tiba di halaman depan, keduanya kemudian berubah menjadi dua buah bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa. Mereka lalu memasuki atmosfer Planet Halida dan mendarat di halaman depan istana.


Setelah mengubah kembali fisik mereka seperti semula, Xyon dan Keira kemudian berjalan masuk ke dalam istana, menuju ke ruang utama di mana Neriya, Klafina, serta Higarashi rupanya sudah menunggu kedatangan mereka.


Xyon dan Keira lalu membungkukkan badan di hadapan ketiga anggota keluarga kerajaan Halida tersebut, dan kembali berdiri tegak setelah beberapa saat. Mereka kini saling menatap lurus dengan wajah-wajah yang terlihat serius.


“Terima kasih atas kerjasamanya, Perdana Menteri Xyon,” ucap Klafina dengan senyum kecil di wajahnya.


“Ah, tidak, Yang Mulia. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kalian mau menerima Putri Keira sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Kali ini, aku akan menitipkannya kepada kalian. Mohon perhatiannya,” balas Xyon.


“Baiklah, kalau begitu. Aku sudah menunjuk beberapa pelayan wanita untuk mengajarinya banyak hal tentang kerajaan ini, dan juga untuk mempersiapkan dirinya pada pesta pernikahan nanti,” ujar Klafina.


Xyon mengangguk. Ia kemudian menatap Keira, dan gadis itu membalas tatapannya.


“Aku akan meninggalkanmu di sini untuk mempersiapkan diriku sendiri, Keira. Aku harap semuanya akan berjalan dengan lancar,” bisik Xyon.

__ADS_1


“Terima kasih, Paman,” balas Keira.


Xyon kemudian membungkukkan badannya sebentar di hadapan Neriya dan Klafina, lalu berkata, “Aku akan kembali terlebih dahulu, Yang Mulia. Terima kasih.”


“Silakan, Perdana Menteri Xyon. Sampai bertemu lagi pada pesta pernikahan nanti,” balas Klafina.


Xyon lalu berjalan keluar dari ruang utama tersebut, dan mulai hari itu juga, Keira tinggal di dalam sebuah kamar yang terletak di bagian belakang istana. Para pelayan wanita yang datang pada pagi hingga sore hari, akan mengajarinya banyak hal tentang persiapan pernikahannya, sementara Kepala Pelayan memberikannya banyak buku kosmik yang harus ia pelajari tentang Planet Halida.


“Sungguh melelahkan! Aku tidak menyangkan bahwa menjadi seorang putri kerajaan adalah hal yang sangat tidak menyenangkan dan sibuk!” serunya sambil berbaring di atas ranjang ketika malam sudah tiba.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sudah sejak subuh, Keira diharuskan untuk menjalani beberapa proses sebelum menjadi pengantin. Delapan orang pelayan perempuan ditugaskan untuk membantunya mandi, berdandan, merias rambutnya, dan bahkan memakaikan gaun pengantin untuknya, hingga pagi menjelang.


Keira kemudian berdiri di depan sebuah cermin besar, dan terkejut begitu ia melihat dirinya sendiri.


“Sungguh … sangat tidak nyaman memakai gaun ini!” serunya.


“Apakah Putri Keira sudah siap?” tanya pria itu.


“Sudah, Tuan,” jawab pelayan perempuan tersebut, yang kemudian berjalan mendekati Keira dan berdiri di sebelahnya.


“Paman Xyon!” seru Keira dengan senyum lebar di wajahnya, “Kau sangat tampan hari ini!”


Pria tersebut, Xyon, kemudian menatap gadis berambut biru tua itu dengan wajah yang memerah.


“Keira, semua orang sudah menunggu,” ucapnya.

__ADS_1


Gadis berambut biru tua tersebut langsung mengangguk. Ia lalu berjalan perlahan mendekati Xyon karena gaun panjang dengan ekor pendek berwarna biru muda dan bahu terbuka yang membuatnya tidak nyaman. Keira juga terlihat memakai sebuah tiara yang terbuat dari emas putih dan wajahnya tertutup oleh veil pengantin yang berwarna sama.


Karena Starlet miliknya sudah hancur, ia kini tidak memakai apapun di lehernya. Hanya anting berbentuk bintang berwarna biru tua yang tertindik di kedua telinganya. Ia juga membawa sebuah buket bunga yang berwarna biru muda dan putih. Ia kemudian berdiri di samping Xyon dan meraih lengan kanan sang paman.


"Apakah kau yakin dengan semua ini, Keira?" bisik Xyon dengan nada yang amat pelan.


"Aku tidak bisa mundur kembali, Paman. Tidakkah kau sadar bahwa kutukan ini sedang berjalan?" tanya Keira kembali kepada Xyon.


Sang Perdana Menteri dari Palladina itu hanya menghela nafas panjang. Dengan wajah yang serius, ia kemudian menggandeng Keira, lalu bersama menuju ke ruang utama. Perasaan tegang yang terasa di antara keduanya, membuat jantung mereka berdetak kencang.


Di dalam ruang utama istana kerajaan Halida, seluruh tamu undangan sudah datang dan berkumpul sejak pagi, karena memang pesta akan diadakan seharian penuh. Neriya dan Klafina terlihat sedang mengobrol dengan Gerofin dan Rexi sambil memegang gelas-gelas minuman di tangan mereka. Kaerna acara akan segera dimulai sebentar lagi, Leino, kemudian naik ke atas altar pernikahan, lalu membunyikan sebuah lonceng dengan sangat keras hingga semua orang menoleh ke arahnya.


“Para hadirin yang terhormat, acara sebentar lagi akan segera dimulai. Silakan mengambil tempat masing-masing, karena kedua mempelai kita akan tiba di sini sebentar lagi. Terima kasih!” seru Leino.


Seluruh tamu yang hadir termasuk Arex, Nordian, dan Weim, kemudian mengambil tempat mereka masing-masing. Setelah itu, Neriya lalu berjalan menuju ke atas altar dan berdiri di tengah-tengahnya untuk menikahkan kedua mempelai, sementara Klafina tidak ikut bersama dengan suaminya. Ia hanya berdiri di bawah altar, tepatnya di bagian kiri, untuk memperhatikan keseluruhan acara pernikahan tersebut.


Seorang pria yang mengenakan jas formal dan celana yang berwarna merah tua dan bunga berwarna biru muda tersemat di dadanya, kemudian muncul dan berdiri di depan pintu ruang utama yang sudah terbuka lebar sejak acara dimulai.


Para tamu yang hadir di sana langsung menoleh ke arahnya, dan langsung terkagum-kagum dengan ketampanannya. Ia kemudian berjalan menuju ke altar, lalu naik ke atasnya dan berdiri di depan Neriya, sambil menantikan kedatangan mempelai wanitanya.


“Apakah kau yakin akan semua ini, Higarashi?” bisik Neriya.


“Tentu saja, Ayah,” balas pria itu, Higarashi, dengan wajah yang serius.


Namun, suasana di sana justru mendadak riuh.

__ADS_1


“Astaga, Pangeran Tampan!” bisik seorang putri bangsawan.


“Bisa-bisanya ia akan menikah dengan seorang putri yang tidak dianggap oleh ibu kandungnya sendiri!” balas seorang bangsawan.


__ADS_2