
"Aku sudah memberikan seluruh tubuhku kepadanya, Ibu. Aku memilihnya karena yakin bahwa ia adalah pria yang tepat untukku, dan aku tidak ingin menyakitinya. Ia jujur kepadaku, dan rasanya tidak adil jika aku harus berbohong kepadanya," ucap Hyerin dengan wajah sendu.
"Kau benar-benar sudah keterlaluan! Ayahmu! Jangan sampai ayahmu tahu tentang hal ini! Menjauhlah dari pria Palladina itu! Pernikahan kalian ini bisa menjadi kekacauan di masa depan! Tolong pikirkan ini baik-baik, Hyerin!" seru Sira sambil mengernyitkan dahi.
Hyerin langsung berdiri, kemudian membalas, "Yang Ibu pikirkan hanyalah Ayah, Ayah, dan Ayah! Sementara yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya memanfaatkan anak perempuan satu-satunya ini, untuk mendapatkan informasi tentang Palladina, lalu ia akan menghancurkan planet tersebut untuk mendapatkan energi cahaya dan rahasia dari kekuatan Healing Renovatio yang mereka miliki!"
Sira kemudian menghela nafas panjang, lalu berkata, "Hyerin, pria itu …. Jangan sampai ia mengetahui bahwa kau adalah seorang immortal dengan tujuan awal yang tidak baik. Ia akan segera membunuhmu dengan cepat, tanpa memikirkan cintamu kepadanya, atau pun kenangan-kenangan indah yang kalian buat di sini!”
"Ibu tidak perlu khawatir. Sejak kapan kalian mulai memikirkan diriku? Xyon bukanlah pria seperti itu. Jika memang ia mau membunuhku, aku tidak akan mencegahnya. Aku mencintainya, dan mati di tangannya bukanlah sebuah hal besar untukku," ucap Hyerin dengan nada tinggi.
"Baiklah jika keputusanmu itu sudah bulat. Ibu akan meninggalkanmu terlebih dahulu," balas Sira.
Kabut-kabut hitam lalu mengelilingi tubuhnya, dan dengan cepat, ia menghilang begitu saja. Hyerin kemudian kembali duduk dan memeluk lagi kedua lututnya, sambil membuka telapak tangan kiri, memperhatikan cincin milik Xyon yang tersemat di jari manisnya.
"Aku tidak peduli lagi tentang apapun kecuali pria ini. Lagi pula Ayah dan Ibu hanya memikirkan cara untuk menguasai galaksi dan menjadi satu-satunya makhluk yang tinggal di dalam Galaksi Metal. Aku tidak menyukai tujuan yang ambisius seperti itu, karena mereka sama sekali tidak memberikanku cinta!" seru Hyerin dengan wajah kesal.
Sementara itu di dalam Planet Palladina, tampaknya Xyon sedang berlatih sendiri di halaman belakang istana, dan tanpa ia sadari, ibunya sudah berdiri di belakang pria muda tersebut sambil memperhatikan anak laki-lakinya itu sambil tersenyum.
"Xyon," ucap Wyona pelan.
Pria muda itu langsung menghentikan latihannya dan menoleh ke belakang. Ia langsung memutar badannya ke belakang begitu ia melihat yang memanggilnya barusan adalah ibunya sendiri.
__ADS_1
"Ibu," balas Xyon, sambil berjalan ke arah Wyona, kemudian berdiri di depannya.
"Kau akan segera mengikuti ujian kerajaan. Jadilah seorang jenderal yang kuat, karena nantinya, tugas-tugas ayahmu akan segera diberikan kepadamu, Nak," balas Wyona.
Xyon sedikit menundukkan kepalanya, lalu berkata, "Ibu, aku tidak ingin mengikuti ujian itu."
"Ayahmu sudah mendaftarkanmu," ujar Wyona sambil melihat ke arah jari manis tangan kiri Xyon, lalu kembali menatap anak laki-lakinya itu sambil tersenyum.
"Ibu, aku …. Aku …," ucap Xyon, namun Wyona langsung memotongnya, "Xyon, buatlah ibu dan ayahmu ini senang. Kami akan sangat menantikan kelulusanmu dan kenaikan pangkatmu sebagai seorang jenderal.”
"Namun, Ibu …," balas Xyon yang lagi-lagi dipotong oleh Wyona, "Tidak, Xyon. Kau tidak boleh berhubungan lagi dengan siapa pun selama masa ujian kerajaan ini. Ibu harus kembali terlebih dahulu. Semoga beruntung, sayang."
Wyona kemudian berjalan meninggalkan Xyon sendiri di sana. Setelah ibunya pergi, Xyon langsung memulai kembali latihannya, namun kali ini, ayunan pedang kosmiknya sangat berat dan sedikit kasar.
Satu minggu kemudian, akhirnya tiba ujian kerajaan untuk memilih jenderal yang akan bertugas di bawah Derix. Beberapa orang jenderal yang sudah pensiun dan berhenti dari tugasnya, kali ini menjadi juri bagi ujian tersebut.
Derix hadir sebagai seorang Jenderal Senior, bukan sebagai seorang ayah. Ia dan enam orang juri lainnya akan sangat adil dalam menilai seluruh peserta ujian.
Ujian kerajaan ini diadakan di dalam sebuah ruangan yang terletak di pojok belakang istana. Ujian tertulis yang harus mereka kerjakan terlebih dahulu, barulah nanti diikuti oleh ujian praktek. Xyon hanya bisa menghela nafas, karena ia harus menulis seluruh teori dan taktik perang yang ia ketahui, serta beberapa pengetahuan dasar tentang alam semesta.
Setelah berjam-jam mengerjakan ujian teori, Xyon akhirnya menunggu giliran untuk ujian selanjutnya. Seluruh peserta dan para juri kini sudah berkumpul di halaman belakang istana. Mereka akan melakukan ujian praktek dengan bertarung melawan satu sama lain. Penilaian akan dilakukan bukan dengan eliminasi, melainkan cara bertarung dan menghindar serta kemampuan yang digunakan.
__ADS_1
Peserta yang memenangkan pertarungan tentu akan mendapatkan nilai tertinggi dan nantinya, para juri yang akan memilih siapa saja yang berhak menjadi bawahan Derix, yang nantinya akan bertugas sebagai seorang jenderal. Xyon memang seharusnya tidak mengikuti ujian ini karena ia adalah pengawal pribadi Arnea, namun, ayahnya itu memang dengan sengaja membuatnya sibuk.
“Lawan kalian adalah aku. Jadi, persiapkanlah pikiran dan fisik sebaik mungkin. Jika kalian bisa menyentuhku, maka kalian berhak untuk mendapatkan nilai yang tinggi,” seru Derix, sambil berjalan ke tengah-tengah halaman belakang istana, lalu berdiri di hadapan para peserta.
Semua peserta langsung berdiri dari duduknya, namun tidak dengan Xyon. Ia sepertinya sedang terdiam, namun entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Prajurit Xyon," ucap salah seorang juri dari tempat duduknya.
Sepertinya pria muda itu tidak mendengarkan.
"Prajurit Xyon!" seru juri yang sama, dengan nada agak tinggi kali ini.
Kali ini pria muda itu tersadar bahwa namanya baru saja dipanggil. Ia langsung menoleh ke arah ayahnya, dan melihat semua orang yang sudah berdiri untuk bersiap melawan Derix, selain dirinya. Dengan tegas, ia akhirnya berdiri tegak sambil mengangkat tangan kanannya hingga sebuah pedang kosmik berwarna putih muncul dalam genggamannya.
“Majulah kalian semua!” seru Derix dengan nada tinggi.
“Arghhh!” geram seluruh peserta sambil maju bersama-sama untuk menyerang sang Jenderal Senior itu.
Namun, Xyon langsung mengingat lagi preman-preman berbadan besar yang pernah hampir melukai Hyerin, begitu ia melihat ayahnya. Wajahnya mulai terlihat penuh dengan amarah, karena ia tidak bisa bertemu dengan istrinya, namun di sisi lain, Derix sudah dengan sengaja membuatnya sibuk dengan memintanya untuk mengikuti ujian seleksi itu. Tentu saja, sang Jenderal Senior yang sudah memiliki banyak jam terbang tersebut dengan mudah menjatuhkan hampir mereka semua.
“Sialan!!” teriak Xyon dengan wajah yang memerah dan mata yang melotot tajam.
__ADS_1
Xyon kemudian untuk menyerang ayahnya. Derix tidak main-main dalam ujian kali ini walaupun yang menyerangnya adalah anak laki-lakinya sendiri. Ia bahkan tidak ragu untuk menyerang Xyon, walaupun pria muda itu sepertinya sedang mengingat Hyerin di dalam pikirannya, sehingga tanpa ragu, ia menghindar dari seluruh serangan yang dilancarkan oleh Derix, berkali-kali, sambil menunggu kesempatan untuk menyerang balik ayahnya itu.