Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Penyesalan yang Terlambat


__ADS_3

Leino langsung menoleh ke arah teriakan itu, dan tersenyum lebar begitu ia melihat Higarashi, tuannya sendiri, telah kembali. Ia kemudian berlari mendekati sang Pangeran Mahkota dari Halida tersebut, hendak berlutut di hadapannya, namun, Higarashi langsung mencengkram kedua lengan Leino dan menatap sekertaris kerajaan itu dengan sorot mata yang tajam.


“Yang Mulia! Yang Mulia!!” seru Leino dengan bibir yang gemetar, dan tangisnya tiba-tiba pecah.


"Katakan kepadaku, apa yang sudah terjadi di sini? Ke mana semua pelayan dan pengawal kita? Mengapa hanya ada prajurit yang berjaga di setiap sisi istana ini?!” tanya Higarashi dengan nada tinggi.


Leino dengan wajah yang penuh ketakutan kemudian menjawab, "Beberapa pelayan dan pengawal kita sudah tewas dibunuh oleh para Silverian itu, dan tubuh mereka sudah berubah menjadi debu … termasuk Yang Mulia Raja! Yang Mulia, aku sangat ketakutan ketika melihat Yang Mulia Raja tewas dipanah oleh seseorang, dan aku langsung berlari ke sini untuk bersembunyi di dalam ruangan rahasia itu!"


Mendengar jawaban itu, Higarashi langsung merasa lemas. Ia kemudian melepaskan cengkramannya dari kedua lengan Leino, lalu menghela nafas pendek sambil mengepalkan telapak tangan kanannya.


“Para Silverian? Lalu, di mana Ibunda dan Keira berada?” tanyanya dengan wajah yang terlihat sendu, namun kemarahan justru mulai berkumpul di dalam hatinya.


“Aku tidak tahu, Yang Mulia. Aku hanya melihat Yang Mulia Putri Mahkota bertarung bersama dengan mendiang Yang Mulia Raja di halaman depan istana, namun, aku …,” jawab Leino yang mulai kebingungan.


“Aku tidak akan menyalahkan dirimu yang bersembunyi, karena memang ini semua bukan salahmu. Ini semua adalah kebodohanku yang meninggalkan Planet Halida hanya demi sebuah surat, yang ternyata adalah jebakan untuk memisahkanku dan Keira. Tenangkanlah dirimu terlebih dahulu, karena kau harus mempersiapkan banyak hal setelah ini,” ucap Higarashi yang berusaha untuk tetap tenang di hadapan Leino agar sekertaris kerajaannya itu tidak terus menerus merasa ketakutan.


“Yang Mulia …,” balas Leino sambil menundukkan kepalanya.


Higarashi hanya tersenyum kecil, kemudian berlari dengan cepat, menyusuri setiap lorong serta ruangan yang ada di dalam istana untuk menemukan Keira dan Klafina. Namun, walaupun sudah mencari hingga ke pojok istana, istri dan ibundanya itu tidak ditemukan di mana pun.


Ia kemudian berhenti berlari di salah satu lorong, lalu bergumam, “Seharusnya aku tidak pergi pagi ini. Aku … ya, ini semua salahku. Aku yang masuk ke dalam jebakan mereka, dan aku juga yang tidak menyadarinya. Dasar bodoh!”


Higarashi hampir menangis, namun, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Ia lalu kembali berdiri tegak dan menatap lurus ke depan.


“Halaman belakang!” serunya.

__ADS_1


Ia lantas berlari menuju ke halaman belakang, dan dugaannya benar. Higarashi berhenti berlari begitu ia melihat Xyon dan ketiga jenderal senior lainnya, yang rupanya sedang berlutut di tengah-tengah halaman belakang istana sambil mengelilingi seseorang, dari kejauhan.


Higarashi kemudian memicingkan kedua matanya dan melihat seorang perempuan berambut biru tua yang sedang berbaring di atas rerumputan.


“Keira!” serunya.


Ia langsung berlari dengan cepat ke arah mereka, lalu berdiri di samping Keira yang tubuhnya terlihat lemah dengan begitu banyak luka sayatan dan pakaiannya yang robek. Ia kemudian berlutut, hendak menggendong Keira, namun, Xyon mengangkat tangan kanan untuk menghalanginya.


“Perdana Menteri Xyon!” teriak Higarashi dengan wajah yang kesal sambil menatap Xyon.


“Tidak ada yang bisa kau lakukan lagi, Nak!” seru Xyon dengan sorot mata yang tajam.


Higarashi menghela nafas panjang, lalu menoleh ke arah Keira dan meraih telapak tangan kanan istrinya itu, kemudian menggenggamnya erat-erat.


"Kami memang berhasil membunuh beberapa pasukan mereka, namun setelah seseorang sudah melukai Keira seperti ini, mereka mendadak melarikan diri dengan pesawat luar angkasa itu," ucap Weim.


Xyon kemudian menundukkan kepalanya di hadapan Higarashi.


Keira tiba-tiba berbicara dengan nada pelan setelah itu, "Maafkan aku, ini semua salahku yang tidak bisa melindungi mereka berdua … jika saja aku tidak meninggalkan keduanya …."


Higarashi langsung menggelengkan kepalanya sekali dan membalas, "Tidak, aku yang bodoh ini sudah jatuh ke dalam jebakan. Kau benar, Keira. Aku bahkan datang karena rasa penasaranku akan surat bodoh itu …."


"Surat?" tanya Xyon sambil menatap lurus sang Pangeran Mahkota dari Halida tersebut.


"Seorang pelayan kemarin malam memberikanku sebuah surat. Seseorang memintaku untuk datang ke Planet Bumi sendirian karena ia memiliki informasi tentang para Silverian, dan bodohnya, aku mengikuti saja permintaan itu, dengan harapan bisa mencegah ini semua. Maafkan aku, Keira!" seru Higarashi, dan air matanya mulai menetes, membasahi wajahnya.

__ADS_1


Ia tertunduk, dan Xyon hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengarkan hal itu.


"Apakah ada seorang penyusup di dalam planet ini?" tanya Arex dengan wajah yang penuh kecurigaan.


"Penyusup?" tanya Nordian.


“Aku akan melihat hal itu nanti, namun sekarang, sebaiknya kita membawa Keira ke Planet Palladina untuk mendapatkan Healing Renovatio,” ucap Higarashi.


“Tidak bisa,” balas Xyon.


Higarashi langsung menatap sang Perdana Menteri dari Palladina itu dengan wajah yang terheran-heran.


“Mengapa tidak bisa? Bukankah Keira tidak bisa melakukan Healing Renovatio kepada dirinya sendiri? Aku akan meminta seorang pelayan perempuan untuk melakukannya di sana!” seru Higarashi.


“Keira … adalah seorang Crossbreed, Higarashi,” ucap Weim.


Higarashi tampaknya masih belum mengerti maksudnya. Ia hanya bisa mengernyitkan dahinya.


“Keira adalah makhluk mortal yang memiliki kekuatan immortal,” ujar Arex.


Kali ini, sang Pangeran Mahkota dari Halida itu langsung melotot, dan kembali menoleh ke arah Keira. Istrinya tersebut hanya tersenyum kecil, dan Higarashi kemudian menundukkan kepalanya.


"Aku … harus bertanggung jawab akan kekacauan ini. Jika saja aku tidak menikahimu, mereka tidak akan menargetkanmu dan Planet Halida seperti ini. Kau juga tidak akan kehilangan kedua orang tuamu. Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab atas kekacauan ini," ucap Keira.


Xyon tiba-tiba mendorong tubuh Higarashi, lalu membantu Keira untuk duduk, kemudian berseru, "Bertanggung jawab, katamu?! Energi cahayamu hanya tersisa sedikit! Kau akan semakin merasa lemas begitu seluruh energi cahaya yang kau miliki habis! Aku akan membawamu segera dari sini, dan mengisi ulang energi cahayamu!"

__ADS_1


Namun, Keira langsung mendorong tubuh Xyon dari sisinya, dan dengan wajah yang kesal serta bola mata yang sudah berubah warna menjadi biru tua, ia kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas, dan berteriak, "Aku tidak akan menggunakan energi cahaya. Aku … akan memberikan perlindungan kepada planet ini, dengan energi antimateri yang kumiliki dengan membuat sebuah perisai yang menyelimuti seluruh bagian dari planet ini!"


__ADS_2