
Klafina tentu saja memperhatikan raut wajah Higarashi yang terlihat sangat kecewa di sepanjang perjalanan. Higarashi bahkan tidak bisa menoleh ke belakang untuk melihat toko minuman tersebut untuk terakhir kalinya, karena mereka harus berjalan dengan cepat agar tidak ada manusia yang curiga dengan tujuan mereka.
“Kau tidak bertemu dengannya untuk terakhir kali, bukan?” tanyanya pelan.
“Hmm,” desah Higarashi, sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Mereka terus berjalan, bahkan tiga orang pelayan yang tadinya menyamar sambil menjaga liburan mereka di sana, terlihat berjalan bersama dengan ketiganya dari belakang, hingga akhirnya mereka tiba di depan kereta antar planet yang diparkir di tengah-tengah hutan lebat tersebut, dan para pelayan dengan sigap langsung mengambil barang bawaan mereka serta memasukkannya secara bergantian.
Setelah itu, Neriya dan Klafina kemudian masuk terlebih dahulu, dan Higarashi menyusul setelahnya. Mereka bertiga kini sudah duduk di atas sebuah sofa yang nyaman di dalam kereta antar planet tersebut. Neriya menatap ke luar jendela, sementara Klafina justru memperhatikan Higarashi yang sedang meraih, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Anak laki-laki itu kemudian mengeluarkan sebuah label kertas bergambar bunga krisan dan menatapnya dengan raut wajah yang kecewa. Klafina melihatnya, dan ia langsung tersenyum kecil kepada Higarashi.
"Kau menyukai gadis kecil itu, Higarashi?" tanyanya dengam suara yang pelan.
Wajah Higarashi langsung memerah. Ia dengan cepat memasukkan kembali label botol minuman tersebut ke dalam saku celananya.
"Ah, label botol ini sangat unik, dan aku ingin menjadikannya sebagai cenderamata saja," jawab Higarashi.
Klafina semakin tersenyum lebar setelah mendengar jawaban tersebut. Kereta antar planet itu akhirnya siap untuk berangkat, dan langsung melesat ke atas langit, keluar dari Planet Bumi.
Sementara itu, hiruk pikuk kota kecil tersebut semakin meredup seiring matahari yang semakin tenggelam, dan hari sudah semakin sore. Eleina dan Dairu terlihat keluar dari toko minuman mereka, sambil masing-masing membawa sebuah keranjang.
“Seharusnya memang seperti ini, bukan?” tanya Eleina sambil berjalan di samping suaminya.
Dairu mengangguk, lalu menjawab, “Sebaiknya seperti ini mulai dari sekarang, daripada Keira harus dirundung lagi oleh anak-anak nakal itu.”
Mereka kemudian berjalan menuju ke perkebunan bunga krisan milik Dairu. Karena sudah tahu bahwa Keira selalu dirundung oleh anak-anak nakal, maka mereka berdua memutuskan untuk mulai saat ini, merekalah yang akan memanen sendiri kelopak-kelopak bunga krisan itu. Mereka meninggalkan Keira sendirian di dalam toko minuman yang juga adalah rumah bagi mereka.
__ADS_1
Begitu Eleina dan Dairu tiba di perkebunan bunga krisan itu, mereka dengan cepat membuka pagarnya dan masuk ke dalam, lalu mengambil gunting dari keranjang masing-masing dan mulai menggunting tangkai-tangkai bunga krisan yang dikiranya sudah siap untuk dipanen, dengan cepat.
Hari semakin gelap, matahari bahkan sudah terbenam dan orang-orang mulai masuk ke dalam rumahnya masing-masing karena sebentar lagi jam malam akan diberlakukan. Setelah menyeka keringat karena kelelahan, Eleina tersenyum sambil menatap keranjangnya yang sudah mulai dipenuhi oleh kelopak-kelopak bunga krisan.
"Sebaiknya kita cepat kembali, aku takut Trea sudah datang dan menunggu kita," ucapnya.
Dairu mengangguk, lalu membalas, "Ah aku sampai melupakan kedatangan Trea, baiklah, sebentar,"
Ia dengan tergesa-gesa merapikan seluruh tangkai-tangkai bunga krisan yang berserakan di atas tanah, lalu meletakkannya di dekat pagar terlebih dahulu.
“Besok saja aku rapikan ini semua, cepat, sebelum Trea datang ke rumah dan tidak ada yang menyambutnya,” ujarnya lagi.
Mereka hendak keluar dari perkebunan bunga krisan yang dikelilingi oleh pagar-pagar tinggi ittu dengan terburu-buru, namun, seorang anak laki-laki mendadak muncul di belakang mereka.
"Mengapa terburu-buru sekali?" tanya anak laki-laki itu.
Pakaian anak laki-laki itu seluruhnya berwarna hitam, dan ia juga mengenakan sebuah topeng dengan warna yang sama. Melihat pedang yang sedang ia genggam, Eleina dan Dairu mulai merasa ketakutan.
"Tuan Muda, maaf, apa yang anda inginkan? Mengapa anda berada di sini?" tanya Dairu dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya.
Anak laki-laki itu tersenyum licik dan menjawab, "Aku … ingin menyingkirkan kalian, agar anak Crossbreed itu mau tunduk dan hanya bergantung kepadaku!"
Tiba-tiba, dengan cepat, ia mengayunkan pedang kosmiknya, lalu melukai Dairu dari bahu hingga ke bawah perut pria manusia itu.
“Ahhh!” seru Dairu karena kesakitan.
Darah mengalir keluar dengan sangat deras hingga ia terjatuh karena lemas.
__ADS_1
“Tidak! Dairu! Dairu!” teriak Eleina yang langsung berlutut di samping tubuh Dairu yang sudah tergeletak di atas tanah.
“Berisik sekali!!” teriak anak laki-laki itu dan dengan cepat, ia menusuk dada Eleina dengan pedang kosmiknya dan langsung mencabutnya, hingga wanita itu tersungkur di samping tubuh suaminya tanpa bisa berteriak lagi.
Dairu masih tersadar, dan ia langsung berseru dengan nada rendah, “Eleina!”
Namun, istrinya itu ternyata sudah tewas terlebih dahulu. Dairu langsung menitikkan air mata, dan anak laki-laki tersebut langsung merasa kesal.
“Pergilah bersama dengan wanita itu!” serunya, kemudian ia langsung mendekati Dairu dan menancapkan pedang kosmik miliknya ke dalam dada pria manusia itu.
“Argh!!” teriak Dairu, yang langsung tewas seketika setelah darah keluar begitu banyak dari dalam luka tusuknya.
Mereka berdua kini sudah terbaring di atas tanah, tanpa nyawa.
Anak laki-laki itu langsung tersenyum sinis melihat keduanya kini sudah tidak ada. Pedang kosmiknya mendadak berubah menjadi debu halus dan menghilang setelah ia puas dengan aksinya barusan.
“Keira. Kau harus hidup tersiksa. Tunggulah korban selanjutnya, jika kau tidak juga menunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya, seperti pada waktu itu, ketika kita tidak sengaja bertemu di sini, di dalam perkebunan bunga krisan milik kedua orang tua angkatmu ini, Nona,” bisiknya pelan.
Kabut-kabut hitam tiba-tiba menyelimuti badannya, dan ia mendadak hilang entah ke mana.
Satu minggu yang lalu, ketika Keira sedang berada sendirian di dalam perkebunan bunga krisan itu pada sore hari, seorang anak laki-laki mendadak muncul di hadapannya. Karena ketakutan, ia hanya bisa terdiam, sementara anak laki-laki itu terlihat sedang menggenggam pedang kosmik yang diarahkan kepadanya.
“Ikutlah denganku,” ucap anak laki-laki itu.
“Siapa dirimu?!” tanya Keira dengan nada tinggi dan wajah yang terlihat ketakutan, bahkan tubuhnya terlihat gemetaran.
Anak laki-laki itu kemudian berjalan mendekatinya perlahan sambil mengangkat pedang kosmiknya, lalu berkata, “Aku bisa saja membunuhmu di sini sekarang juga. Jadi, ikutlah denganku, sebelum aku membunuh kedua orang tua angkatmu.”
__ADS_1
Ia kemudian mengayunkan pedang kosmik itu ke arah Keira, namun tiba-tiba, kedua bola mata gadis kecil tersebut berubah warna dari biru muda menjadi biru gelap, dan mendadak, dua buah pedang kosmik berwarna biru muda muncul di dalam kedua genggaman tangannya.