
"Dasar pekerja. Baiklah, sampai jumpa kembali!" seru Arnea, lalu dengan tergesa-gesa, ia menggandeng Klara sambil berlari kecil menuju ke kamar yang berada di paling ujung gedung penginapan tersebut.
Xyon hanya bisa menghela nafas begitu ia melihat sepasang suami istri itu sepertinya sedang terburu-buru, karena hari sudah malam. Ia kemudian berjalan menuju ke kamarnya sendiri.
“Ah, kamar yang sama,” ucapnya pelan.
Ia lantas memasukkan kunci kamar ke dalam lubang pintu, namun tiba-tiba, seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia lima tahun, berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Xyon langsung menoleh ke arah anak laki-laki tersebut dan menatapnya dengan wajah yang datar, tanpa ekspresi. Anak itu memiliki warna rambut ungu tua dan kedua bola matanya yang berwarna ungu muda. Mereka saling bertatapan, hingga akhirnya Xyon berlutut di hadapan anak laki-laki itu karena rasa penasaran, karena merasa bahwa anak tersebut sangat mirip dengannya.
"Nak, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Xyon.
"Ibu," jawab anak laki-laki itu.
"Ibu? Di mana ibumu? Apakah kau terpisah darinya?" tanya Xyon lagi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Anak laki-laki itu kemudian menunjuk ke arah sebuah pintu kamar yang letaknya persis di sebelah kamar milik Xyon.
"Ah, baiklah," ucap Xyon.
Ia lalu berdiri, berjalan mendekati pintu yang baru saja ditunjuk oleh anak laki-laki itu, dan mulai mengetuknya dengan perlahan.
"Permisi," ujar Jenderal muda tersebut.
Ia masih mengetuk pintu, namun sepertinya tidak ada jawaban sama sekali dari dalamn.
"Permisi, Nyonya," seru Xyon kali ini.
"Ibu!!" seru anak laki-laki itu dengan keras, hingga sang Jenderal sedikit terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, dan Xyon langsung menatap ke arah seorang perempuan berambut hitam yang kini berdiri di hadapannya. Ia sangat terkejut begitu melihat perempuan tersebut, bahkan sampai melotot tajam.
"Xyon?" tanya perempuan tersebut sambil mengernyitkan dahinya, juga dengan wajah yang tampak terkejut.
"Hyerin?" tanya Xyon balik kepada perempuan itu, yang rupanya adalah istrinya sendiri, Hyerin.
Mereka terdiam sesaat, hingga anak laki-laki itu kemudian berseru, "Ibu!"
Hyerin langsung menoleh ke arah anak itu, lalu berlutut dan membuka lebar kedua tangannya. Tentu saja anak laki-laki tersebut berlari menuju ke pelukan ibunya, dan Hyerin lantas memeluknya sambil mencium dahinya sebentar.
Xyon terkejut melihat hal itu, bahkan ia melotot seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apakah kau sudah selesai bermain bersama Nyonya pemilik penginapan?" tanya Hyerin pelan sambil tersenyum.
"Ya, Ibu. Nyonya sangat sibuk," jawab anak laki-laki tersebut sambil membalas senyuman itu.
"Baiklah, apakah kau tahu ini sudah malam, dan malam adalah waktunya bagimu untuk tidur?" balas Hyerin.
Hyerin lalu membelai lembut rambut anaknya dan berbisik, "Nah, sebelum kau masuk ke dalam kamar, bisakah kau katakan selamat malam kepada ayahmu terlebih dahulu?"
“Ayah?” tanya anak laki-laki itu dengan wajah yang kebingungan.
Hyerin kemudian memutar badan anak laki-laki itu ke hadapan Xyon.
Anak tersebut kemudian menundukkan kepalanya, lalu berkata pelan, "Selamat malam, Ayah."
Xyon lalu berlutut di hadapan anak laki-laki itu, kemudian memeluknya erat dan membelai lembut rambut anak laki-laki itu sambil berkata, "Maafkan Ayah yang baru bisa melihatmu sekarang, Nak."
Tanpa perlu menanyakan apapun kepada Hyerin, ia langsung bisa mengetahui bahwa anak laki-laki itu adalah anaknya, darah dagingnya sendiri. Lagi pula, wajah mereka berdua terlihat sama, dan warna rambut anak laki-laki tersebut adalah buktinya.
__ADS_1
Hyerin mulai menangis melihat ayah dan anak itu akhirnya bisa bertemu juga. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar, dan begitu Hyerin menutup pintu kamarnya rapat-rapat, Xyon langsung memperhatikan cincin miliknya yang rupanya masih tersemat di jari manis tangan kiri istrinya tersebut.
Xyon langsung menggendong anak laki-lakinya itu dan memeluk Hyerin sambil meneteskan air mata. Seolah melupakan segalanya, ia kali ini benar-benar menangis sambil memeluk erat istri dan anak laki-lakinya tersebut.
"Aku berpikir kau tidak akan pernah kembali!" seru Hyerin sambil menangis, "aku baru saja mengetahui bahwa aku sedang mengandung begitu kau sudah pergi, namun Nyonya dan Tuan pemilik restoran itu sangat baik kepadaku, sehingga aku …. Aku akhirnya berhasil melahirkan dan merawat anak kita, Xyon!"
"Maafkan aku, Hyerin! Aku benar-benar ingin kembali kepadamu, namun ayahku sangat murka begitu mengetahui bahwa aku sudah menikah denganmu, dan ia langsung memberikanku begitu banyak kesibukan, sehingga aku tidak bisa kembali kepadamu selama ini. Maafkan aku!!" seru Xyon sambil memeluk keduanya semakin erat-erat.
Hyerin kemudian melepaskan pelukannya, dan Xyon langsung menyeka air mata yang mengalir membasahi wajah istrinya itu. Tangisan mereka mulai mereda begitu mereka menyadari bahwa anak laki-laki yang kelelahan itu sudah tertidur pulas di dalam gendongan Xyon. Dengan perlahan, ia kemudian berlutut dan membaringkannya di atas ranjang.
Istrinya lalu ikut berlutut, lalu menyelimuti anak laki-lakinya itu dengan selimut tebal. Setelah itu, mereka duduk bersama saling berhadapan, sambil saling menatap satu sama lain dengan wajah yang tampak penuh dengan kerinduan. Xyon membelai lembut wajah Hyerin, lalu mencium bibir istrinya itu. Tentu saja Hyerin membalas dengan memeluk suaminya erat-erat.
Setelah beberapa saat, Hyerin kemudian melepaskan ciuman itu lalu menatap Xyon dengan wajah yang sendu, sambil bertanya, "Akankah kau pergi lagi, sayang?"
"Maafkan aku. Aku harus kembali dalam tiga hari. Ayah tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu. Ia bahkan sangat marah kepadaku. Butuh waktu lama hingga akhirnya aku bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali kepadamu, hari ini," bisik Xyon pelan.
Hyerin tersenyum, lalu ia menggelengkan kepalanya dan membalas, "Tidak, Xyon. Tiga hari sudah lebih dari cukup. Kau pasti akan kembali lagi kepadaku. Dan seperti yang sudah kukatakan sebelumnya kepadamu, aku akan tetap berada di sini, agar kau bisa selalu kembali kepadaku."
“Kau … adalah Bintang Kutub Utara bagiku. Aku akan selalu mencarimu ke mana pun dirimu berada jika aku sedang mengunjungi planet ini. Terima kasih sudah bertahan dan memberikanku seorang anak yang tampan, Hyerin,” ucap suaminya itu dengan air mata yang kembali menetes.
Perempuan berambut hitam itu tersenyum lagi, lalu berkata, "Ya, aku akan selalu menjadi Polaris untukmu. Satu-satunya tempat yang kau tuju, dan kau akan selalu kembali kepadaku."
Xyon kemudian menoleh ke arah anak laki-lakinya yang sedang tertidur di atas ranjang dengan sangat lelap, karena kelelahan setelah bermain bersama cucu pemilik gedung penginapan itu.
"Aku sangat ingin tahu siapa namanya," ucap Jenderal muda tersebut.
“Tebaklah namanya,” balas Hyerin sambil tertawa kecil.
"Hyeri …. Hyerin? Xyon? Hyerinxyon?" tanya Xyon lagi dengan wajah yang penuh kebingungan sambil menatap Hyerin dan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Hyerixon," ucap Hyerin sambil tersenyum lebar.