Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Ia kecewa dengan pertanyaan Keira yang menusuk hatinya itu.


Higarashi menghela nafas panjang, kemudian dengan wajah yang kecewa, ia berkata lagi, "Aku sebenarnya berasal dari sebuah tempat yang sangat jauh. Kedua orang tuaku ingin menjodohkanku dengan gadis pilihan mereka. Karena hatiku masih terus memikirkan dirimu sejak saat itu, maka aku dengan tegas menolak kedua orang tuaku dan meminta izin kepada mereka untuk mencarimu. Aku mencintaimu dan merindukanmu sejak lama, namun, jika kau tidak merasakan perasaan yang sama denganku, aku tidak bisa memaksamu. Maafkan aku telah membuatmu kesal dengan sikapku kemarin. Terima kasih, akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Setidaknya aku sudah tahu bahwa kau baik-baik saja di sini, dan rasa rindu di dalam hatiku sudah terobati."


Higarashi kemudian memutar badannya. Ia hendak berjalan kembali menuju ke rumahnya, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan usahanya menjadikan Keira sebagai pasangan hidupnya. Ia memang sangat kecewa, namun ia lebih takut jika menyakiti hati Keira jika ia terus memaksakan perasaannya kepada gadis itu.


Setelah Higarashi berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Keira bertanya, "Apakah kau sudah menemukan alasan, mengapa kau mencintaiku?"


Langkah Higarashi terhenti setelah mendapat pertanyaan itu.


Ia tidak menoleh ke belakang, namun ia menjawab, "Aku tidak tahu alasannya. Aku hanya mengikuti hatiku. Lagi pula, jika aku tahu alasan mengapa aku mencintaimu, bukankah itu berarti aku juga nanti bisa memiliki alasan untuk meninggalkanmu? Aku hanya ingin hidup bersama dengan satu, hanya satu orang yang kucintai seumur hidupku."


Keira terdiam, begitu juga Higarashi.


Namun, begitu Higarashi hendak melangkah lagi, gadis berambut biru tua itu tiba-tiba berkata, "Maafkan aku, aku terlalu kasar kepadamu. Pertanyaanku sebelumnya pasti sudah menyakiti hatimu. Aku benar-benar minta maaf, Higarashi. Aku … sebenarnya terkejut dengan sikapmu kemarin, dan aku mengira bahwa kau sama saja seperti murid pria lain yang juga merundung fisikku dan menjadikannya bahan candaan mereka. Jika boleh, apa aku bisa menebus kesalahanku padamu?" tanya Keira dengan suara yang rendah.


Higarashi terdiam sebentar, lalu ia memutar badannya ke belakang dan menatap Keira dengan wajah yang masih serius


"Tidak, Keira, ini semua salahku. Aku yang terlalu terburu-buru melakukan hal itu dan tidak memikirkan perasaanmu. Aku bahkan tidak sampai berpikiran bahwa murid-murid pria di saja juga ikut merundung fisikmu, maafkan aku," ucapnya.


“Aku … hanya takut terjebak pada perasaan. Aku … ya, selama dua belas tahun itu juga terkadang wajahmu terbayang-bayang di dalam pikiranku. Kau adalah anak laki-laki yang sama, yang pernah menolongku dari anak-anak nakal itu,” balas Keira.


Higarashi menghela nafas pendek, lalu berkata, “Aku … hanya akan berada di dalam kota ini selama kurang dari seratus hari, dan aku akan segera kembali ke rumahku, yang jauh di sana. Terima kasih sudah memberitahukan kepadaku bahwa kau baik-baik saja, Keira. Terima kasih sudah mengingatku.”


“Tunggu,” seru Keira.

__ADS_1


Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang serius.


"Akan kuberikan dirimu waktu satu bulan. Jika dalam waktu satu bulan aku bisa membalas perasaanmu, maka aku akan menerimamu dan membuka hatiku. Namun, jika aku tidak juga bisa menyukaimu, mohon maaf, kumohon jangan dekati aku lagi. Kau bisa masuk ke dalam bahaya yang paling dalam, jika kau terus bersama denganku,” ucap Keira.


Higarashi tersenyum, namun, mendengar kata bahaya, ia justru menjadi penasaran.


"Bahaya? Ada apa dengan dirimu? Tapi baiklah, aku akan mencoba membuatmu jatuh cinta kepadaku dalam waktu satu bulan ini. Terima kasih telah memberikanku kesempatan kedua, Keira!" seru Higarashi dengan senyum di wajahnya.


Keira membalas senyuman itu, namun hatinya justru bimbang.


“Apakah keputusanku ini sudah benar, memberikan Higarashi sebuah kesempatan lagi untuk mengejar diriku? Atau justru aku sedang menjerumuskan Higarashi, yang ia pikir adalah seorang manusia mortal, ke dalam bahaya yang dibebankan pada diriku sebagai seorang Crossbreed? Namun, perasaanku tidak bisa dibohongi …,” gumamnya di dalam hati.


Mereka berdua kini menatap satu sama lain dengan wajah yang terlihat senang, untuk beberapa saat.


“Hmm, mungkin?” balas Keira.


“Aku akan menunggumu!” seru pria itu dengan senyum lebar di wajahnya.


Higarashi kemudian kembali berjalan menuju ke rumahnya setelah pertemuannya dengan Keira tadi, membuat hatinya sedikit banyak, menjadi penuh dengan harapan.


“Keira memberikanku satu kesempatan lagi, maka kali ini, aku memutuskan untuk tidak lagi berbuat kesalahan yang sama seperti kemarin!” gumamnya di sepanjang perjalanannya.


Begitu ia tiba di depan rumahnya, Higarashi langsung membuka pintu dengan kunci dan masuk ke dalam. Ia lalu menutup pintu kembali dan berjalan ke arah ranjang. Ia lantas berbaring, sambil tersenyum dengan lebar.


Hari semakin malam, dan Keira sedang berada di dalam kamar pribadinya yang berada di lantai dua rumah peninggalan bibi angkatnya tersebut. Ia hanya duduk di atas ranjang sambil melipat kedua lututnya dan menatap langit malam dari balik jendela besar yang terletak tepat di samping ranjangnya.

__ADS_1


"Gawat, sepertinya aku telah salah langkah dengan memberikannya kesempatan kedua. Jika ia tahu bahwa aku bukan manusia, itu sama saja membuat dia dalam bahaya besar! Ia bisa menjadi incaran para Silverian, setelah mereka membunuh kedua orang tua dan bibi angkatku! Bagaimana ini, astaga, Keira!" serunya dalam hati.


Wajahnya mulai terlihat pucat. Jantungnya berdebar kencang hingga ia tidak bisa tenang.


“Aku tidak mungkin mengatakan kepadanya bahwa aku bukan manusia …,” gumamnya lagi.


Ia menghela nafas panjang, lalu berbaring dengan tidak nyaman di atas ranjangnya.


"Aduh, begini saja, aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta kepadanya! Oh, baiklah, itu hal yang mudah sekali, bukan?!” gumam Keira dalam hatinya.


Ia kemudian berusaha untuk tertidur, dan setelah dua jam, pada akhirnya ia bisa memejamkan kedua matanya dan bermimpi.


Keesokan paginya, Keira berangkat ke sekolah dengan menaiki bus. Setelah ia menunggu untuk beberapa menit di depan halte, sebuah bus datang dan ia langsung menaikinya. Bus itu melaju hingga ke halte berikutnya, dan ia turun dari bus tersebut dan menunggu lagi untuk berganti bus yang berikutnya.


Namun tiba-tiba seorang pria menepuk bahunya pelan. Ia lalu menoleh ke arah pria itu dan tersenyum kepadanya.


"Ah, Higarashi, selamat pagi," ucap Keira pelan.


"Selamat pagi juga, Keira," balas pria itu, Higarashi.


Mereka berdua terlihat sedikit agak canggung, namun karena masih tidak enak hati dengan kejadian kemarin, Keira berusaha sedikit basa-basi dengan Higarashi.


"Apakah halte ini adalah halte yang terdekat dari rumahmu?" tanya Keira.


"Ah, iya. Rumahku memang tidak terlalu jauh dari halte ini," jawab Higarashi.

__ADS_1


__ADS_2