Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Ketidakberesan


__ADS_3

Begitu tiga buah bintang melesat masuk ke dalam Planet Palladina dan mendarat di halaman depan istana, kemudian berubah menjadi sosok Anexta, Xyon, dan Weim, orang-orang yang berada di sekitarnya langsung menundukkan kepala mereka di hadapan sang ratu. Beberapa pejabat tinggi bahkan terkejut dengan kembalinya Anexta yang sudah selama satu minggu lebih ini tidak terlihat di dalam lingkungan istana.


Ratu dari Palladina itu langsung melangkah dengan cepat dan tegas, masuk ke dalam istana, diikuti oleh Xyon dan Weim yang berjalan di belakangnya. Wajah Anexta terlihat dipenuhi amarah, namun, rasa mual yang datang tiba-tiba membuatnya menjadi semakin kesal. Ia langsung menyentuh perut bagian kiri dengan tangan kanannya.


Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Xyon, yang justru menjadi curiga akan kondisi sang ratu.


“Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


“Aku baik-baik saja, Jenderal Senior Xyon. Aku akan segera membereskan para Silverian itu, dengan menyusun rencana yang lainnya di dalam ruang kerja pribadiku,” jawab Anexta.


Namun, rasa mual itu semakin menjadi-jadi. Ia mendadak berhenti berjalan hingga Xyon dan Weim juga ikut menghentikan langkah mereka. Wajah Anexta mulai memperlihatkan rasa sakit yang sedang ditahan olehnya sejak tadi. Ia tiba-tiba meremas baju dengan tangan kanan yang masih menyentuh perut kirinya.


“Sialan. Mengapa terasa sakit sekali?” gumam Anexta pelan, dan ia kini merasa bahwa tubuhnya mendadak menjadi lemah.


“Yang Mulia, ada apa?” tanya Xyon sekali lagi.


Jenderal Senior itu langsung melangkah ke depan, lalu berdiri di samping sang ratu sambil menatapnya dengan wajah yang terlihat panik, termasuk Weim yang mengikuti sikapnya barusan.


“Yang Mulia! Apakah anda sedang sakit saat berada di sana?” tanya Xyon.


Anexta menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk menahan rasa mual dan sakit pada perutnya yang mendadak itu, namun, rupanya ia tidak terbiasa. Wajahnya kini tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakitnya itu dari Xyon dan Weim yang terus memperhatikannya dari samping.


“Sebaiknya anda masuk ke dalam Light Chamber, untuk kembali mengisi ulang energi cahaya milik anda, Yang Mulia,” ucap Xyon dengan nada yang tegas.



Anexta memutar kedua bola matanya sekali, lalu membalas, “Light Chamber. Ya, aku harus ke sana. Mungkin aku memang butuh mengisi ulang energi cahaya milikku.”

__ADS_1


Ia lalu melangkah, menuju ke sebuah Light Chamber yang memang khusus digunakan oleh keluarga kerajaan, dengan sedikit tertatih-tatih.


Setibanya mereka di depan Light Chamber, dua orang pelayan wanita yang sedang berjaga di depan ruangan tersebut, kemudian menundukkan kepala. Mereka lalu membuka pintu, dan dengan cepat, Anexta, Xyon, dan Weim masuk ke dalamnya. Kedua pelayan tersebut kembali menutup pintunya dan langsung berjalan menuju ke sebuah ranjang yang tersambung oleh begitu banyak kabel pada bagian bawahnya.


“Silakan berbaring di sini, Yang Mulia,” ucap salah seorang pelayan wanita itu sambil menunjuk ke arah sebuah ranjang dengan tangan kanannya.


Anexta langsung berjalan ke sana, lalu berbaring di atas ranjang tersebut. Sementara Xyon dan Weim, mereka masih berdiri tepat di sebelah pintu masuk.


“Kalau begitu, aku akan mengisi ulang energi cahayaku di dalam Light Chamber milik kita saja,” bisik Weim pelan.


“Sebaiknya begitu. Kau juga sudah satu minggu lebih tidak mengisi ulang sama sekali. Baiklah. Aku yang akan berjaga di sini,” balas Xyon.


Weim kemudian berjalan keluar dari Light Chamber tersebut, meninggalkan Xyon yang masih berada di dalamnya.


Anexta kemudian menoleh ke arah pelayan wanita yang sudah membantunya tadi, lalu bertanya, “Apakah Kepala Perawat sedang sibuk saat ini?”


“Baiklah,” balas sang ratu dari Palladina itu, sambil mulai memejamkan kedua matanya.


Ranjang tersebut kemudian menyala, dan sinarnya amat terang. Pelayan wanita tersebut lalu berjalan keluar dari Light Chamber itu, dan pergi menuju ke ruangan perawat yang berada di dalam istana, tidak jauh dari sana.


Sementara Xyon tampaknya memperhatikan Anexta dari tempatnya berdiri, sang ratu terlihat masih memegang perut kirinya, dan itu membuat Jenderal Senior tersebut … curiga.


“Apa makanan yang sudah dimakan oleh Yang Mulia di sana?” tanyanya di dalam hati.


Seorang perempuan dengan tergesa-gesa berlari ke arah Light Chamber, bersama dengan pelayan wanita tadi, yang ikut berjalan di belakangnya. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan untuk mengisi ulang energi cahaya tersebut dengan wajah yang terlihat sedikit panik.


Perempuan itu lalu berjalan mendekati Anexta, kemudian berhenti, dan berdiri di samping ranjangnya. Pelayan wanita yang tadi juga masih bersama dengannya, di belakang.

__ADS_1


“Yang Mulia, apakah anda memanggilku?” tanya perempuan itu.


Anexta membuka kedua matanya, lalu menoleh ke arah perempuan tersebut, dan menatapnya dengan wajah yang sendu.


“Kepala Perawat Yeria. Tampaknya aku sedikit … merasakan sakit pada perutku,” bisiknya pelan.


“Aku akan memerika kondisi anda, Yang Mulia,” balas Yeria, sang Kepala Perawat.


Ia lalu meraih saku kanan bajunya, dan mengeluarkan sebuah alat, seperti lampu sorot kecil berbentuk tabung yang bisa digenggam dengan tangan, lalu menggenggamnya dengan erat, dan mulai menggerak-gerakkannya dari atas kepala Anexta hingga ke bawah kakinya. Lampu dari alat tersebut mulai menyala.


Namun, alat tersebut sebenarnya digunakan untuk mendeteksi suatu penyakit atau kelainan yang ada di dalam tubuh seseorang, dan sangat mudah digunakan, yakni hanya dengan menggenggamnya di atas tubuh seseorang, dan lampunya akan menyala. Perawat atau dokter kemudian akan menggesernya dari atas kepala hingga kaki sang pasian. Sungguh sebuah alat yang praktis, namun, hanya para dokter dan perawat yang dapat membaca hasil laporan dari alat tersebut.



Alat itu bernama Neuroxeth. Lampu berwarna biru adalah tanda bahwa orang tersebut baik-baik saja, sementara lampu berwarna merah adalah tanda bahwa ada yang salah dengan tubuh orang tersebut. Ada sebuah layar kecil yang nantinya berisi informasi untuk disajikan kepada pemegangnya.


Setelah beberapa saat, lampu dari alat tersebut kemudian menyala, dan berwarna merah, ketika alat itu berada di atas perut Anexta. Yeria langsung mengernyitkan dahinya, kemudian, ia mendekatkan alat itu di hadapannya. Sebuah informasi kemudian muncul dari layar alat itu.


Yeria menggelengkan kepalanya ketika ia membaca informasi dari Neuroxeth itu. Ia kemudian menghela nafas panjang, dan hal ini membuat Xyon yang masih berdiri di samping pintu, mulai curiga dengan informasi apa yang sedang dibaca oleh Yeria.


Anexta menatap Yeria dengan wajah yang serius, begitu ia melihat wajah perempuan tersebut sepertinya tampak terkejut.


“Ada apa, Yeria?” tanya sang Ratu dari Palladina itu.


Yeria lalu menoleh ke arah Anexta, dan menurunkan tangannya yang sedang memegang Neuroxeth tadi.


“Yang Mulia,” balas Yeria dengan bibir yang gemetar.

__ADS_1


__ADS_2