
Para penonton seolah tersihir dengan ucapan reporter itu dan menyalahkan Qinli.
"Qinli membunuhnya? Sungguh tidak manusiawi!" teriak mereka.
"Hanya sebuah kompetisi, bisa-bisanya dia membunuh Zhuge Yi! Dia telah mempermalukan dunia bela diri!"
Tapi lelaki berkaca mata itu datang seperti pahlawan bagi Qinli. Dia berbicara lantang di tengah hujatan yang terlontar untuk Qinli.
"Apa kalian buta!"
"Kenapa kalian bungkam di saat Zhuge Yi hendak membunuh Tetua Xia? Terlebih lagi Zhuge Yi ini bukanlah orang baik."
"Dunia bela diri selalu menghormati yang kuat! Apakah hanya Zhuge Yi yang boleh membunuh orang, sedangkan orang lain dianggap bajingan yang tidak berperikemanusiaan jika membunuh orang?"
Penonton yang berada di sampingnya berbisik-bisik untuk menanyakan siapa lelaki berkacamata itu.
"Siapa dia?"
"Tidak tau."
Qinli menoleh dan mengucapkan terima kasih pada lelaki berkacamata itu.
"Terima kasih Anda telah berbicara untukku. Namun, yang membunuh Zhuge Yi bukan aku," ucap Qinli dengan sangat tenang.
Timbul pertanyaan besar di kepala lelaki berkacamata itu. Kalau bukan Qinli yang membunuhnya lalu siapa lagi?
Dengan cepat, Qinli mendekati reporter itu. Terlihat sekali ia sangat ketakutan saat melihat kedatangan Qinli.
"Ka ... kau mau apa!" ucapnya tergagap.
"Memeriksa tubuhnya untuk menemukan penyebab kematian!" ucap Qinli.
Lalu Qinli mulai menusukkan jarum perak miliknya ke tubuh Zhuge Yi. Tepat dilengan sebelah kanan miliknya yang sedang terluka.
...CSTTT ......
Beberapa saat kemudian dari luka di lengan Zhuge Yi yang sudah membusuk itu muncul sebuah makhluk kecil berkaki banyak dari dalam sana.
__ADS_1
"Menjijikkan itu sudah membusuk!" ucap reporter itu.
TAK
Qinli menusuk serangga berkaki seribu berwarna ungu itu.
"Racun dari serangga berbisa ini yang menyebabkan kematiannya!"
Qinli mulai memperlihatkan serangga itu pada semua orang. Lalu Tetua Xia muncul dari arah belakang tubuh Qinli. Hingga ia mengucapkan sebuah perkataan yang membuat orang semakin bertanya-tanya.
"Aku ingat, ini adalah serangga berbisa unik yang dimilili Yu Quanxing."
Orang-orang yang tadinya berada di bangku penonton mulai mendekati Qinli di tengah arena pertandingan. Tetapi repoter itu seolah ingin mengalihkan atensi dari semua orang.
"Aduh, kalian sungguh pintar menyalahkan orang lain! Ketua Yu sudah mati, apa kau ingin melempar kesalahan pada orang mati!"
Lelaki di sebelah reporter itu pun ikut berkomentar.
"Benar, siapa yang tahu jika kau yang berada di balik semua ini?"
Belum sempat Qinli menunjukkan siapa dalang di balik kematian Zhuge Yi, reporter itu hendak melarikan diri. Untungnya Qinli lebih dulu memegang salah satu tangan reporter itu.
"Aku masih belum mengatakan kau pelakunya, kenapa kau kabur?" ucap Qinli.
Repoter itu sangat ketakutan ketika Qinli memegang tangannya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan! Cepat lepaskan aku!"
Salah satu tangan Qinli merobek wajah reporter itu hingga membuatnya terkejut.
"Dari tadi aku sudah merasa kau sangat aneh, dan aku sudah lama memperhatikanmu!" ucap Qinli sambil merobek wajah palsu reporter itu.
"Yu Quanxing ternyata belum mati!" teriak orang-orang.
"Tidak disangka benar dia pelakunya!"
"Keluarga Zhuge datang ke Pulau Selatan juga karena ulahmu, 'kan!" ucap Qinli sambil menunjuk ke arah Yu Quanxing.
__ADS_1
Tak mau rahasianya terbongkar, Yu Quanxing melemparkan bom asap beracun ke arah Qinli. Hingga sebagian orang yang sudah menghirup asapnya akan terluka dan sesak nafas.
"Gawat!" ucap Qinli yang mengetahui asap beracun itu.
Saat Qinli berhasil membuka asap tebal itu, Yu Quanxing telah menghilang dari sana. Anehnya lelaki berkacamata itu sama sekali tak terluka saat menghirup asap beracun itu. Ia juga menyusul Qinli.
"Orang ini berubah menjadi gila demi mencapai tujuannya, sungguh kejam!" ucap lelaki berkacamata itu.
Sementara sebagian orang di arena pertandingan itu sudah pingsan. Tak lupa Qinli berterima kasih pada lelaki berkacamata itu.
"Terima kasih sudah membantuku tadi, bolehkah aku tahu namamu, Tuan?" ucap Qinli sambil memberikan hormat.
"Jika kau ingin berterima kasih padaku, bagaimana kalau kau bergabung dengan sekteku?" ucap lelaki berkacamata itu.
"Ini ... aku terbiasa dengan kehidupan kehidupan bebas dan tidak disiplin, jadi aku tidak memilih bergabung dengan sekte manapun," ucap Qinli sambil meminta maaf.
"Bocah, jika kau tidak punya sekte, kau yang akan rugi!"
Lelaki berkacamata itu lalu melempar sebuah card name pada Qinli.
"Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan!"
Dengan cepat Qinli menangkap kartu itu lalu membacanya. Ia pun terkejut ketika mengetahui siapa orang itu.
Belum sempat Qinli bertanya, lelaki berkacamata itu sudah menghilang dari hadapannya. Setelah itu Tetua Xia mengatakan sesuatu pada Qinli.
"Tuan Qin, serahkan sisanya padaku, hari sudah larut malam, aku sudah memesan kamar hotel untukmu, silakan beristirahat di sana."
Qinli terkejut dengan kedatangan Tetua Xia, lalu menoleh.
"Ah ... baik, terima kasih Tetua Xia."
Baru beberapa langkah mereka berjalan, Tetua Xia memuntahkan darah. Karena panik, Qinli segera membawanya ke hotel.
Tetua Xia dibaringkan di ranjang lalu Qinli memeriksa denyut nadinya.
"Aneh, jelas-jelas aku sudah menggunakan jarum perak untuk menghilangkan racunnya, bagaimana bisa ...." ucap Qinli kebingungan.
__ADS_1