
"Jangan mimpi!" teriak Qinli sambil mendorong tubuh Chu Zitan dengan kekuatannya.
Akibatnya tubuh Chu Zitan membentur bongkahan batu dengan sangat keras.
Chu Zitan memegang batu untuk menopang tubuhnya sambil menatap iba ke arah kakak iparnya.
"Kakak ipar, apa kau begitu membenci aku?"
"Zitan, kau harus kuat, jangan biarkan Hong Ming mengendalikan pikiranmu."
"Benar, Hong Ming telah merasukiku, kau sangat senang, bukan?"
"Bukankah sekarang kau punya alasan untuk membunuhku?"
Hong Ming yang merasuki tubuh Chu Zitan tertawa menyeringai, ia sangat suka dengan keadaan ini. Melihat Qinli yang kebingungan semakin membuatnya leluasa menguasai tubuh Chu Zitan.
Lain halnya dengan Qingyin yang masih bersikap lembut kepada adiknya. Ia mendekati Chu Zitan dan berbicara lembut kepadanya.
"Tidak, adikku! Bagaimana mungkin kami menyakitimu?"
Bukannya tersentuh akan ucapan Qingyin, Chu Zitan malah semakin marah terhadapnya.
"Omong kosong! Kalau seorang penghalang sepertiku ini tidak ada, kalian pasti bisa bahagia bersama!"
Chu Zitan mengepalkan tangannya.
"Karena kalian ingin bersama selamanya ...."
Chu Zitan bersiap menyerang Qinli. Lalu dengan sekejap ia pun menyerang Qinli sambil berkata, "Maka aku akan mengabulkan permintaan kalian!"
Qingyin yang terkejut seketika berteriak, "Adik berhenti!"
Tanpa Chu Zitan duga, tangan kiri Qinli sudah mencengkeram erat lehernya saat ini.
Kedua mata Chu Zitan melotot seketika, "Aku sarankan lebih baik jangan bertindak gegabah!"
"Jika tidak, adik iparmu ini akan mati!" ucap Chu Zitan sambil menyeringai.
Begitu pula dengan yang dilakukan Qinli. Sambil bersikap tenang ia membalas ucapan Hong Ming yang masih menguasai tubuh Chu Zitan.
"Siapa bilang aku akan menyakitinya?"
Seketika pikiran Hong Ming menerka-nerka apa yang akan dilakukan olehnya setelah ini.
"Jangan-jangan bocah ini punya kekuatan rahasia yang sangat kuat?"
Belum selesai keterkejutan yang didapatkan Hong Ming. Dari arah belakang Nona Mo Yao melakukan serangan padanya. Pisau belati miliknya seketika sudah mendekati tubuh Chu Zitan dari arah belakang.
Chu Zitan menoleh, dengan memusatkan kekuatan mengendalikan pikiran milik Hong Ming ia menghentikan laju pisau belati milik Nona Mo Yao.
__ADS_1
"Berhenti!"
Seketika itu pula Hong Ming juga menghancurkannya. Tidak lupa ia menggertak Nona Mo Yao.
"Gadis kecil, kau masih terlalu lemah untuk menjadi tandinganku!"
Di saat Hong Ming lengah, tanpa ia sadari Qinli sudah mendekatinya dan bersiap mengatasi Hong Ming dari arah belakang. Saat ini Qinli sudah mengarahkan kedua tangannya ke kepala Chu Zitan.
"Begitu, ya? Tapi dia sudah banyak mengulur waktu untukku," ucap Qinli.
Tentu saja Hong Ming terkejut dan memberontak, tetapi Qinli sudah menancapkan jarum peraknya ke kedua kening Chu Zitan.
"Apa yang kau lakukan? Jangan lupa, kalau aku mati, adik iparmu juga akan mati!" teriak Hong Ming yang masih merasuki tubuh Chu Zitan.
Beberapa saat kemudian tubuh Chu Zitan sudah tidak dapat bergerak. Namun, Hong Ming tetap tidak suka akan hal yang dilakukan kepadanya.
Qinli menatap tajam ke arah tubuh Chu Zitan yang sudah tidak berdaya.
"Tenang saja! Aku tidak akan melukai adik iparku. Kalau mengenai dirimu ...."
Qinli menatap dalam-dalam alam kesadaran Chu Zitan. Ia mengunakan mata batinnya untuk melihat situasi di dalam sana. Ternyata Qinli melihat jika di dalam sana, roh Chu Zitan dipasung oleh Hong Ming. Sementara itu Hong Ming leluasa menguasai tubuh Chu Zitan.
Tentu saja Hong Ming terkejut akan kemampuan Qinli yang berkembang begitu pesat. Terlebih saat mengetahui di mana ia mengendalikan Chu Zitan saat berada di alam bawah sadarnya. Qinli lalu memasukan tangannya ke sana untuk mengambil roh Hong Ming.
"Tidak mungkin! Sejak kapan kau menjadi begitu kuat?" ucap Hong Ming terkejut.
"Aaarrgghh! Jelas-jelas ... aku adalah petarung terkuat di dunia ini!" teriak Hong Ming sambil meronta.
Qinli mencengkeram kuat tubuh Hong Ming dan mendekatkannya ke arah wajahnya.
"Kenapa kalau kau adalah petarung terkuat? Kau pun tidak punya keluarga atau pun teman, kau dingin dan kejam!" ucap Qinli dengan tatapan dingin.
Qinli terus melanjutkan ucapannya sambil mengeratkan pegangannya pada tubuh Hong Ming. Tentu saja ia tidak bisa bergerak karena ukuran tubuhnya hanya sebesar ulat kecil dibanding telapak tangan Qinli.
"Kau menjadikan nyawa manusia sebagai mainan. Kau tidak punya apa-apa selain kekuatan, apa bedanya dengan mayat berjalan?" ucap Qinli penuh amarah.
Namun, Hong Ming tidak serta merta menyerah. Ia tetap kukuh pada pendiriannya.
"Memiliki kekuatan berarti segalanya! Dengan adanya kekuatan, aku akan menjadi penguasa dunia!"
"Kau hanyalah bocah ingusan yang baru hidup lebih dari dua puluh tahun, kau tidak mengerti apa-apa!" gertak Hong Ming.
Dengan santai Qinli menanggapi ucapan Hong Ming.
"Lalu apa kau bahagia? Apa kau senang? Apa kau puas dengan semua kekuatan yang kau miliki?"
Panik, seketika wajah Hong Ming menjadi pias, tetapi ia berusaha untuk menutupinya.
"Itu bukan urusanmu!"
__ADS_1
"Sampai sekarang masih belum mengerti apa yang paling penting di dalam kehidupan ini. Kau benar-benar sudah menyia-nyiakan hidupmu selama bertahun-tahun ini!" gertak Qinli sambil mer-emas roh Hong Ming yang berada dalam genggamannya.
"Aargghhh!" teriaknya.
Seketika roh Hong Ming hancur, sementara itu roh Chu Zitan terlepas dari tiang pasung dan terjatuh. Qinli menghampirinya dan menopang tubuh Chu Zitan.
Dengan posisi masih menopang tubuh Chu Zitan Qinli mengungkapkan keinginannya.
"Aku mengejar kekuatan yang lebih besar karena ingin mencari orang tuaku dan melindungi kalian."
Qinli menatap sendu ke arah Chu Zitan. Sepertinya kesadarannya hampir kembali. Buktinya ia bisa menjawab ungkapan hati Qinli barusan.
"Tapi aku malah mencelakaimu seperti ini."
Qinli meletakkan kedua ujung jarinya di kening Chu Zitan. Berusaha mengembalikan dan membersihkan pengaruh Hong Ming terhadapnya.
"Bangunlah!" ucap Qinli pada Chu Zitan.
Sesaat kemudian, Chu Zitan membuka matanya.
"Zitan," ucap Qingyin bahagia dan terharu.
"Kakak."
Lalu keduanya berpelukan satu sama lain, mengungkapkan kerinduan di antara keduanya.
"Syukurlah, akhirnya kau kembali!"
Sudut mata Qingyin berembun, sementara Chu Zitan masih setengah sadar tetapi ia paham jika dirinya sudah banyak menyusahkan kedua kakaknya.
"Sepertinya aku telah melakukan banyak hal buruk padamu dan kakak ipar ...." ucap Chu Zitan.
Chu Zitan memandang ke arah Qinli. Terlihat sudut mata Qinli menggelap. Mungkin karena ia terlalu banyak mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya.
"Kakak ipar, aku ...." ucap Chu Zitan.
Dengan wajah sendu Qinli menjawab Chu Zitan, "Tidak apa-apa ...."
Sesaat kemudian tubuh Qinli kehilangan keseimbangannya dan pingsan. Tentu saja hal itu membuat Qingyin dan Chu Zitan panik.
"Suamiku!"
"Kakak ipar!"
.
.
Apa yang akan dialami Qinli selanjutnya? Apakah kekuatannya akan segera pulih? Tunggu up hari Minggu ya.
__ADS_1