
Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Qinli, tetapi tidak untuk Zitan. Bagai burung yang baru saja terlepas dari sangkarnya, membuat Zitan menghabiskan waktunya untuk pergi berbelanja sesuka hati.
Dengan perasaan bahagia Zitan memborong baju-baju dan perlengkapannya di mall. Hingga yang membawa paper bagnya adalah Qinli. Dikedua tangannya terlihat penuh dengan paper bag milik Zitan.
"Kakak ipar, cepatlah."
"Iya, aku datang," ucap Qinli yang kewalahan dengan paper bag milik Zitan.
Hingga kedua mata Zitan terpaku oleh sebuah toko jam tangan "Cartiar", lalu ia pun masuk ke dalam sana.
"Selamat datang!" ucap salah satu pegawai toko yang menyambutnya ramah.
"Nona, Anda benar-benar punya selera bagus, model jam tangan ini adalah yang paling laris, apakah Anda ingin beli untuk hadiah?" tanya pelayan itu.
"Iya," jawab singkat Zitan.
"Anda ingin memilih warna apa?"
"Tolong perlihatkan padaku yang ini!" ucapnya sambil menunjuk pada salah satu model.
"Anda benar-benar punya selera yang bagus, model ini punya dua belas berlian ditambah cermin permata langka, dan memiliki tujuh fungsi pengaturan waktu, murni buatan tangan, harga jam tangan ini hanya lima ratus delapan puluh enam juta rupiah. Selain itu ukurannya sangat cocok untuk pacar Anda," ucap pelayan itu ramah.
Zitan merona karena malu, "Anda salah paham, di-dia adalah kakak iparku."
"Ah, maaf, maaf."
"Tidak apa-apa, tolong bungkuskan ini untukku, " ucapnya sambil menyerahkan black card padanya.
"Baik! Aku akan mengurusnya untuk Anda dan menjadikan Anda sebagai pelanggan VIP toko kami."
Lalu pegawai itu segera memproses pembelian jam tangan pilihan Zitan. Kini Zitan tinggal memasukan nomor pin pada mesin EDC tersebut.
"Silakan masukan PIN," ucap pegawai ramah.
BIP ... BIP ....
"SALDO TIDAK CUKUP"
Membuat ketiga orang itu terkejut.
"Maaf, sepertinya kartu ini sudah kupakai melebihi
batas limit," ucapnya tidak enak hati pada pelayan toko itu.
Tiba-tiba pelayan toko yang tadinya ramah itu menjadi marah pada Zitan.
"Kau ini masih mahasiswa, 'kan? Jika kau begitu santai, maka pulang dan belajarlah dengan baik, aku di sini juga sangat sibuk, kalau kau tidak ada uang, jangan kemari dan mempermainkanku!" hardik pelayan itu.
Karena suaranya cukup keras membuat rekan kerjanya sampai menoleh ke arahnya. Hal itu juga membuat Zitan ketakutan dan menunduk.
__ADS_1
"A-aku hari ini tidak ...."
PLAK ...
Tiba-tiba, Qinli mengeluarkan dua emas batangan yang diambil dari cincin itu dan menaruhnya di atas etalase.
"Siapa bilang kami tidak punya uang?" gertak Qinli.
"Cincin ini mudah dibawa juga ke mana-mana," batin Qinli.
Lalu rekan kerjanya meminta maaf pada Qinli dan Zitan.
"Ini semua salah paham, rekanku baru bekerja, tidak terlalu paham dengan bisnis di sini, kami mohon maaf sebesar-besarnya."
"Demi permintaan maaf kami, kami akan memberikan Anda diskon untuk jam tangan ini," ucap rekan kerja pelayan tadi sambil menyerahkan kembali black card milik Zitan.
"Baik, kalau begitu merepotkanmu," ucap Zitan saat menerima kartunya kembali.
Sementara itu pelayan yang menghardik Zitan tadi membuang muka.
Tetapi kejadian tak terduga terjadi di sana. Pelayan yang meminta maaf tadi tiba-tiba menyerang Qinli dan Zitan. Di saat Zitan menoleh, pelayan itu bersiap menghunusnya dengan sebuah belati.
"Kakak ipar, uang ini kau pinjamkan pada ...."
"Awas!" teriak Qinli dari arah belakang.
SWOOSH ...
"Awalnya aku berencana untuk menyandera adik iparmu, tapi tak disangka kau selangkah lebih cepat!" ucapnya sambil menyeringai.
Bahkan pelayan toko yang menghardik Zitan tadi sampai ketakutan sendiri saat melihat temannya berubah menjadi bengis.
"Meskipun kali ini aku gagal, tapi apakah kau bisa menjaga semua orang-orang yang ada di sekitarmu?"
"Apa yang sedang terjadi?" batin Qinli.
"Kau anggota Qingtang?" tanya Qinli kemudian.
"Benar!" ucapnya sambil mengarahkan pisau itu tepat ke arah Qinli.
"Meskipun aku gagal membunuhnya, tapi ini hanyalah sebuah permulaan," ucapnya sambil seolah menelan sesuatu sama persis saat Xiao Shen kapan hari.
GLUK
Lalu tubuh wanita itu berubah, urat-urat nadinya begitu keliatan. Aura merah yang sama dengan punya Xiao Shen kapan hari kini melingkupi wanita itu.
"Tunggulah pembalasan Qingtang yang tidak ada habisnya!"
"Hahahaha ...."
__ADS_1
"Pemimpin muda, aku akan pergi menemani Anda!" ucapnya dengan bahagia.
Pelayan di sebelahnya ikut membatu karena saking takutnya melihat temannya berubah menyeramkan. Bahkan saat wanita anggota Qingtang tadi ambruk, ia pun ikut terjatuh ke lantai secara bersama.
BUGH
Keduanya jatuh secara bersama-sama. Seketika toko itu dipenuhi oleh orang-orang yang kepo.
"Tolong minggir!"
"Sebenarnya apa organisasi Qingtang ini? cara-cara mereka begitu kejam!" batin Qinli sambil mengamati wanita itu.
"Siapa yang barusan melapor polisi?" tanya polisi yang tiba-tiba datang ke lokasi.
Reflek tangan Zitan terangkat satu.
"Aku! Pak polisi, aku yang melapor!" seru Zitan.
Polisi itu sudah bersiap memborgol Qinli, hingga membuat Zitan terkejut.
"Di siang bolong begini, beraninya memukul ...." ucapan polisi itu terjeda karena melihat sesuatu.
Berhubung polisi itu melihat tato wanita yang terkapar itu bertuliskan Qingtang, ia mengurungkan niatnya sekaligus panik.
Awalnya karena posisi Qinli sedang berjongkok, mengakibatkan polisi salah sangka tapi setelah melihat tanda itu, polisi itu berubah.
"Pem ... Pem-bunuh Qingtang!" ucapnya terkejut.
"Anak muda kau benar-benar beruntung, kalau bukan karena dia tiba-tiba seperti itu, takutnya yang terbaring di sana adalah dirimu!" ucap polisi itu.
"Benar, hampir saja," ucap Qinli sambil menoleh.
"Karena kalian baik-baik saja, maka silakan ikut bersama kami untuk membuat catatan."
Beberapa saat kemudian mereka benar-benar ikut ke Kantor Polisi Jiangcheng. Hingga hampir malam mereka baru bisa keluar dari sana.
Di tengah perjalanan saat mereka jalan kaki. Qinli berjalan di depan Zitan, sedangkan Zitan menunduk karena rasa bersalahnya pada Qinli.
Qinli memegang tengkuknya sambil memikirkan sesuatu, "Tidak tahu apakah dia akan setuju atau tidak kalau aku melakukan ini ...."
Sedangkan Zitan juga larut dalam pikirannya sendiri, "Bagaimana aku memulai pembicaraan dengannya?"
Beberapa saat kemudian Qinli pun berhenti. Qinli menoleh, "Ada yang mau kubicarakan padamu!"
Zitan pun kaget akan ucapan Qinli barusan.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...