
Nona Han terus menjelaskan semua hal yang berkaitan di Alam Rahasia kepada Qinli. Begitu pula dengan Tuan mudahan Feng yang ikut membantu Nona Han dalam menjelaskan semua peraturan yang berlaku di Alam Rahasia.
"Setelah mendapatkan plakat, kau harus pikirkan cara untuk mendapatkan plakat yang lebih banyak lagi untuk menaikkan level, hanya dengan menaikkan plakat baru bisa memenuhi syarat untuk masuk ke lantai yang sama dengan level plakatmu."
Tuan Muda Han Feng mendekati Qinli dan Nona Han.
"Benar! Dan Tungku Bintang Tujuh itu katanya berada di tingkat sembilan ke atas!" ucap Tuan Muda Han Feng dengan tersenyum penuh arti.
Respon yang sama diberikan oleh Qinli ketika mendapatkan penjelasan dari Tuan Muda Han Feng dan Nona Han.
"Kenapa begitu, aku tidak akan sungkan lagi!" ucap Qinli.
"Ada yang datang kepada kita, sudah saatnya memanfaatkan kesempatan ini," ucap Qinli di dalam hati.
Nona Han dan Tuan Muda Han Feng tercengang akan sebuah cahaya yang berhasil mendekati mereka dalam sekejap waktu. Kilatan cahaya itu berwarna biru muda.
BOOM
"Arghhhh!"
Seketika Tuan Muda Han Feng menoleh ke belakang ia baru menyadari ada seseorang yang masih memperhatikan keberadaan mereka bertiga.
"Aku terlalu ceroboh aku tidak menyadari kalau ada yang memperhatikan kita secara diam-diam," ucap Tuan Muda Han Feng di dalam hati.
Sebaliknya Nona Han bahkan tidak memperhatikan hal yang mengancam mereka. Ketika ia melihat ada tiga plakat yang sedang berdiri di hadapannya, matanya berbinar.
"Panen besar, ada tiga plakat."
Qinli tersenyum, "Aku akan mengambil satu, sisanya untuk kalian."
"Oke."
"Selanjutnya mari kita berpencar mencari target masing-masing."
"Baik."
Tiba-tiba saja dari arah samping terlihat dua kumpulan prajurit sedang saling menghadang. Terlihat keduanya memperebutkan sesuatu.
"Tuan Muda Wu kekuatan kita setara, untuk apa membuang-buang tenaga kita dengan bertarung? Lebih baik kita memanfaatkan waktu untuk lebih banyak Prajurit Tulang Roh."
"Phui! Prajurit Tulang Roh di sekitar sini sudah diburu oleh keluarga kalian! Aku harus mencari kemana lagi? Cepat serahkan plakatmu padaku!"
"Dasar tidak tahu diri! Kalau begitu, hanya bisa merenggut nyawamu dan plakatmu itu!"
Saat keduanya sedang mengeluarkan Armor masing-masing, Qinli yang sedari tadi memperhatikan mereka lalu mendekatinya.
"Keduanya, tunggu!"
Mendengar ada yang memanggil mereka, serentak keduanya menoleh bersamaan.
"Bolehkah meminjamkan plakat kalian untukku?" tanya Qinli.
Keduanya serempak menjawab, "Ambil saja kalau tidak takut mati!"
"Ternyata Prajurit Tulang Roh ini bisa bicara!" ucap salah satunya dengan wajah pias.
Sepertinya mereka mengira Qinli adalah salah satu Prajurit Tulang Roh karena wajahnya yang berwarna hijau.
__ADS_1
Prajurit yang berambut putih dan berjubah itu berteriak, "Si Monster berwajah hijau itu adalah prajurit yang diundang oleh Keluarga Han, bod-oh!"
Teringat bagaimana wajahnya bisa berubah menjadi hijau seketika ia teringat Ling'Er.
"Dasar Ling'Er!" ucap Qinli sambil mengusap wajahnya.
Lagi-lagi mereka menganggap Qinli sedang melamun. Oleh karena itu keduanya langsung menyerang Qinli.
"Masih bisa bengong! Dasar tidak tahu diri!"
...BANG ... BANG .......
Dua kali mereka menyerang Qinli, akhirnya Qinli terjatuh hingga membelah batu.
"Aku pikir bocah ini sangat hebat, tapi ternyata biasa saja ....."
"Ha ha ha ...." kedua tentara itu tertawa bersamaan.
Namun, sesaat setelahnya mereka terkejut karena Qinli berada tepat di belakang mereka.
"A ... Ada apa ini!"ucap mereka dengan aura ketakutan.
Kedua tangan Qinli mencengkeram erat leher kedua prajurit itu.
"Aku masih belum mengeluarkan jurusku!" ucap Qinli.
Saat keduanya menoleh, betapa terkejutnya mereka melihat Armor milik Qinli.
"Dia berada di level paling tinggi pemecah langit!"
Qinli tersenyum, "Karena kalian berdua tidak mau memberikan plakat ...."
"Akan kamu berikan! Kami tidak bilang tidak memberikannya padamu!" ucap keduanya ketakutan.
Dalam sekejap Armor milik Qinli mengeluarkan bara api yang membelah batu yang mereka pijak menjadi dua bagian. Wajah seluruh prajurit di sana menjadi pias.
"Cepat! Berikan semua plakat kalian pada tuan ini!" teriak kedua pemimpin prajurit tadi.
Semua prajurit yang berada di sana menyerahkan plakat mereka pada Qinli.
"Semua plakatnya ada di sini, kalau tidak ada hal lain lagi, kami pergi dulu ...."
"Tunggu!" cegah Qinli.
"Ini bagaimana menggunakannya?" tanya Qinli kebingungan.
Prajurit yang berada tepat di depan Qinli tersenyum sambil ketakutan.
"Cahayanya akan muncul ketika kau menghancurkan plakat kami, kemudian tinggal arahkan cahayanya ke arah plakatmu sendiri."
"Begitu ya, baiklah. Kalau begitu kalian boleh pergi!"
"Jangan-jangan dia tidak punya plakat sendiri!" gumam salah satu prajurit itu.
"Sepertinya aku harus memburu satu Prajurit Tulang Roh!" ucap Qinli bersemangat.
Kepala prajurit tadi sangat kesal hingga memukul salah satu tebing batu di dekatnya.
__ADS_1
"Sial!"
Ia pun menoleh seketika kepada prajuritnya, "Cepat pergi dan sebarkan berita kalau bantuan asing yang direkrut oleh Keluarga Han itu hanya berada di level Puncak Alam Langit."
"Dia sudah memburu banyak Prajurit Tulang Roh dan sudah mau memasuki tingkat dua. Dia kabur begitu bertemu denganku!" ucap kepala prajurit itu sambil mengepalkan salah satu tangannya.
"Tuan muda, kau ingin ...."
"Aku tidak bisa menderita kerugian sendirian!" ucapnya sambil menyeringai.
.
.
Qinli merasa aneh dengan plakat yang dipegangnya.
"Apa bahan dari plakat ini? Kenapa tidak bisa dimasukkan ke dalam cincin penyimpanan?"
Saat masih asyik berjalan, Qinli dikejutkan dengan suara berdentum dengan keras. Seolah di depannya sedang ada pertarungan.
Salah satu prajurit itu bersembunyi di balik batu. Nafasnya masih terdengar tidak beraturan sama sekali.
"Sial sekali, padahal hampir selesai menaikkan levelku, tapi tidak disangka bisa bertemu dengan mahluk aneh yang datang mengangguku!" ucapnya kesal.
Prajurit Tulang Roh itu mengetahui keberadaan prajurit yang sedang bersembunyi darinya itu. Saat telah menyadarinya ia buru-buru melarikan diri.
"Gawat!"
Prajurit yang ketakutan itu berlari ke arah Qinli sambil memeringatkannya agar pergi.
"Hei, kau cepat lari!" teriaknya.
Sebaliknya Qinli justru bahagia karena berhasil menemukan satu Prajurit Tulang Roh.
"Prajurit Tulang Roh, akhirnya aku bisa menemukan satu ekor ...."
Sementara itu prajurit yang hendak bersembunyi itu menoleh ke arah Qinli.
"Orang ini membatu saking kagetnya, ya?"
"Namun, dia bisa membantuku menghadang makhluk besar itu."
...GROAR!...
Seketika Qinli melesat menghindari pukulan dari Prajurit Tulang Roh dan mengarahkan tendangan ke arahnya.
Sementara itu prajurit yang melarikan diri merasa aneh dengan mereka.
"Ada yang aneh, kenapa hening sekali?"
"Jangan-jangan dia bisa menghadang makhluk itu?"
Seketika pikiran buruk berputar di kepala prajurit itu.
"Monster berwajah hijau itu punya banyak plakat. Kalau dia dan makhluk besar itu saling
menghabisi ...."
__ADS_1