
Happy reading all😎
Jangan lupa VOTE dan rate bintang lima buat Qinli ya🙏
.
.
Pagi itu ia sudah bersiap untuk pergi mengantarkan Zitan ke bandara. Bersamaan dengan dirinya yang akan berangkat untuk tugas militernya yang kapan hari diberikan oleh Kader He.
Pagi itu pula Qingyin terlihat membantu Qinli untuk bersiap-siap. Ia membantu merapikan pakaian Qinli.
"Aku akan menyusulmu setelah selesai mengurus soal ayah dan ibu, nanti tolong antar adik ke bandara, ya," pinta Qingyin.
"Iya, tenang saja."
"Apakah masih ada barang yang ketinggalan?" tanya Qingyin.
"Tidak, semuanya sudah aku bawa."
Padahal di atas tempat tidur masih ada kitab tatanan surga dan jam tangan dari Zitan yang tertinggal di sana, tapi Qinli tak menyadarinya.
Saat menuruni tangga, mereka dikejutkan dengan Zitan yang sudah menangku dagunya sambil memandang sepasang suami istri itu dengan tatapan aneh.
"Kakak, kakak ipar, akhirnya kalian keluar juga, aku pikir kalian akan membuatku menunggu sampai besok!" ucap Zitan.
"Adik kecil, kau ini berkata apa!" hardik Qingyin.
Sementara Qinli membiarkannya dengan tatapan yang aneh.
"Anak ini benar-benar berani berkata apa pun ...." batin Qinli.
Qingyin lalu berpesan pada adiknya sesuatu.
"Jangan lupa untuk mengabariku sesampainya di Amerika, jaga dirimu baik-baik, kalau butuh apa-apa segera beri tahu kakak," ucapnya sambil mengenggam erat tangan adiknya.
"Hehe, tenang saja, aku akan memperlakukan diriku dengan baik," ucapnya sambil tersenyum.
Kakak beradik itu saling berpelukan satu sama lain. Meski terlihat tegar tapi yang namanya saudara pasti akan terasa kehilangan jika salah satunya pergi.
"Kak, aku pasti akan sangat merindukan mu," ucap Zitan sembari terisak.
Sementara Qingyin mengelus lembut punggung adiknya.
"Sudah waktunya, kita harus berangkat ...." ucap Qinli.
"Aku tahu, tidak usah memburu-buruiku," ucap Zitan tak terima karena Qinli merusak momentumnya.
Melihat Qinli hendak memegang koper bermotif bunga miliknya, Zitan menggertak Qinli.
"Kalau tidak suka, jangan menyentuhnya!" gertak Zitan.
Dengan penuh amarah Zitan menarik kopernya pergi meninggalkan Qinli dan Qingyin.
__ADS_1
"Perasaan tadi dia baik-baik saja, kenapa lagi sekarang?" batin Qinli sambil memandangnya pergi.
Hal yang sama juga diperlihatkan Qingyin yang kebingungan dengan tingkah Zitan hingga menimbulkan sebuah pertanyaan besar di kepala Qingyin.
Pesawat yang ditumpangi Zitan akhirnya lepas landas meninggalkan Jiangcheng menuju Amerika. Sementara saat ini Qinli harus menemui Jiangjun sebelum ia berangkat.
Kini ia sudah berdiri di depan villa milik Jiangjun.
"A-apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Qinli melihat kepulan asap tebal keluar dari dalam villa.
"Apa mungkin ulah anggota Qingtang? Tidak, jika orang-orang dari Qingtang menyerang Keluarga Jiang, Keluarga Jiang seharusnya tidak akan diberi kesempatan oleh mereka untuk melawan ...."
Belum lagi Qinli bergerak, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara dentuman. Hingga membuat Qinli meninggalkan kopernya lalu berlari masuk ke dalam rumah.
"Kau ternyata ...." ucap Qinli sambil menahan satu serangan dari Jiangjun.
"Aku pikir aku bisa mengalahkanmu."
"Tidak disangka," ucap Jiangjun sambil mengusap kepalanya sambil tersenyum ke arah Qinli.
"Barang-barang di sekitar yang rusak ini adalah ulahmu?"
Tanpa rasa bersalah Jiangjun tersenyum ke arah Qinli.
"Iya, sesaat aku kehilangan kendali, aku juga tidak menyangka bisa seperti ini."
Karena khawatir Qinli memeriksa tangan Jiangjun dan mulai menggunakan tenaga dalamnya.
"Oke," ucap Jiangjun patuh.
"Untung saja dia baru mencapai level awal, kalay sampai dia menyelesaikan latihan ...." batin Qinli.
"Bagaimana? Qin, apakah aku sudah sangat hebat?" tanya Jiangjun bersemangat.
"Iya, sepertinya kekuatanmu sudah hampir sama dengan kekuatan kakak perempuannya Tuan Muda Xu, lebih kurang berada di level tiga."
"Tidak disangka cepat sekali, aku sudah masuk level tiga! Pantas saja pemimpin keluarga mewariskan posisinya kepadaku," ucap Jiangjun sombong.
"Pemimpin keluarga mewariskan posisinya padamu?" tanya Qinli panik.
"Begini ceritanya ...."
Dalam rapat Keluarga Besar Jiang. Saat itu seluruh keluarga hadir, kakek memutuskan sesuatu, hingga membuat pro dan kontra di sana.
"Aku tidak setuju, Jiangjun baru saja kembali dan tidak memahami situasi Keluarga Besar Jiang, terlebih lagi dia tidak cukup memenuhi syarat."
"Pemilihan pemimpin keluarga adalah masalah yang sangat penting, bagaimana Anda bisa membuat keputusan sesuka hati Anda?"
Hampir semua menentang keputusan kakek untuk mengangkat Jiangjun.
"Hng, internal Keluarga Jiang sudah hampir hancur sekarang."
__ADS_1
"Jiangjun bisa menjadi seorang prajurit yang di waktu yang begitu singkat dan telah membuktikan kekuatannya."
"Dia juga mengelola perusahaannya dengan sangat baik."
"Lebih penting lagi ada Qinli yang mendukungnya, sekarang semua orang di Shangjing ingin menarik Qinli ke dalam lingkaran mereka."
"Masalah ini ditetapkan seperti ini, jika ada yang tidak setuju, maka tinggalkan Keluarga Jiang," ucap kakek final sambil meninggalkan ruang rapat.
"Bagus! Akhirnya hari yang kutunggu pun tiba!" ucap Ayah Jiangjun bangga.
"Begitulah ceritanya, posisiku sebagai pemimpin keluarga juga sebagian besar karena dirimu," ucap Jiangjun sambil menuangkan teh untuk Qinli.
"Jadi secangkir teh ini, untuk terima kasih padamu."
Kini Jiangjun memberikan secangkir teh untuk Qinli.
"Pertama kali aku ke Kota Jiang, kaulah orang pertama yang menganggapku sebagai teman, kau juga telah banyak membantuku."
"Qin, tidak usah sungkan-sungkan, tapi apa pun statusku, aku akan tetap selalu mengingat kebaikanmu."
"Oh, ya aku sudah mendengar masalah antara kau dan Qingtang, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Liang Qing sudah membantuku menyelidiki masalah ini dengan jelas."
"Setelah aku menyelesaian misi itu, aku akan pergi mencari anggota Qingtang."
Setelah berbicara cukup lama dengan Jiangjun, kini Qinli mulai menjalankan tugasnya dengan menemui Ketua Wang. Lalu mereka mulai menuju sebuah tempat atau lebih tepat di sebut Camp.
Qinli mengikuti Ketua Wang untuk menemui orang yang dimaksud.
"Komandan Qin, dia adalah Dr. Yu, seorang Alkemis. Misi kali ini adalah mengawalnya sampai ke pangkalan Alkemia di Amerika," terang Ketua Wang pada Qinli.
"Sa-sangat mirip," ucap Dr. Yu ketika melihat Qinli sangat mirip dengan ayahnya.
Orang tua dengan kepala botak dan rambut panjang di kedua sisinya itu melihat Qinli dengan cermat.
"Rasanya, tiba-tiba kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu," ucapnya sembari bangkit dari tempat duduknya.
Lalu Ketua Wang menjelaskan sesuatu agar Qinli tidak bingung pada Dr. Yu.
"Dr. Yu pernah bertemu dengan orang tuamu."
Tiba-tiba Qinli bertanya sesuatu informasi mengenai kedua orangtunya tapi hal itu malah membuat Dr. Yu menghindar.
"Dokter, apa yang terjadi dengan orang tuaku waktu itu ...." tanya Qinli penuh harap.
Seolah ingin menghindari pertanyaan Qinli, Dokter Yu lebih memilih berlari pergi untuk meninggalkan mereka bersama luka masa lalunya.
"Akh, sudah mau terlambat, aku akan pergi kemasi barang-barangku lalu berangkat," ucapnya sambil terus meninggalkan Qinli dan Ketua Wang.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...