MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 183


__ADS_3

Setelah beberapa saat, akhirnya Qinli dan Nona Ling'Er sampai di kota Feilong.


"Ini Kota Feilong?" ucap Qinli setelah sampai di kota tersebut.


Saat memandangi seluruh kota dari atas langit, ia seolah sedang melihat salah satu bagian dari kota tersebut yang dilalap Si Jago Merah. Asap tebal keluar dari sana.


"Apa yang terjadi?" ujar Qinli panik.


Karena penasaran, Qinli berniat untuk pergi ke sana dan memastikan apa yang sedang terjadi. Ternyata bukanlah sebuah kebakaran yang terjadi di sana, melainkan sebuah pertarungan manusia dengan binatang-binatang spiritual yang sangat banyak di langit.


Binatang-binatang spiritual tersebut berukuran raksasa dan saling berhubungan sedang melawan beberapa prajurit di sana. Sorot mata mereka berwarna merah menyala serta mengeluarkan taringnya masing-masing. Melihat binatang-binatang spiritual itu seolah marah, sehingga Qinli menyuruh Nona Ling'Er untuk bersembunyi.


"Ling'Er, kau bersembunyi dulu, di sini terlalu berbahaya," ucap Qinli sambil matanya terus memperhatikan pergerakan binatang-binatang hspiritual itu.


Nona Ling'Er yang paham akan situasi genting itu mengangguk setuju.


"Mengerti ... guru harus berhati-hati!" pesannya pada Qinli.


Mata Qinli memicing membayangkan bagaimana ia harus bertindak saat itu.


"Binatang-binatang spiritual di sini kebanyakan setara dengan kekuatan prajurit Alam Dewa dan mereka berjumlah ratusan."


Beberapa prajurit yang berusaha melawan binatang-binatang spiritual spritual itu dengan cara memanah sepertinya sudah kelelahan.


"Sial! Datang dari mana binatang-binatang spiritual ini?"


"A-aku sudah tidak bisa bertahan lagi ...." keluhnya dari atas benteng pertahanan.


Sama halnya dengan para masyarakat Kota Feilong yang ketakutan, saat binatang-binatang spiritual itu semakin mendekatinya.


"Siapa pun tolong aku!" teriaknya.


Beberapa saat kemudian tubuh binatang-binatang spiritual itu sedang dililit oleh energi spiritual yang berwarna hijau. Sementara itu di bagian bawahnya ada sebuah bunga teratai dengan warna yang sama.


Kekuatan energi spiritual itu mampu membuat binatang-binatang yang terikat dan tidak bisa bergerak. Para prajurit yang berada di sana terkejut sekaligus merasa senang.


"Bala bantuan sudah datang!"


"Siapa yang bisa menahan begitu banyak binatang-binatang spiritual ini dengan waktu bersamaan?"


Sementara yang lainnya juga ikut berteriak, "Semuanya harus bertahan!"


"KETIGA, KEKUATAN TERATAI!" Teriak Qinli dari udara.


Ada beberapa prajurit yang melihat siapa yang mengikat binatang-binatang spiritual itu.

__ADS_1


"Lihat! Ada seseorang di udara!" teriaknya.


Binatang-binatang spiritual itu benar-benar-benar terkunci dengan kekuatan tenaga dalam dari Qinli. Saat ini memang Qinli sedang berusaha untuk menyerang binatang-binatang spiritual itu.


Hingga puncaknya beberapa waktu kemudian terjadi sebuah ledakan yang hebat di sana.


...BOOM!...


"Serangan yang begitu kuat! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa melihat!" teriak orang-orang dari atas benteng.


Ternyata ada banyak orang yang berada di benteng tersebut. Sebagian penduduk laki-laki bersembunyi di sana. Ketika udara kembali normal, binatang-binatang spiritual itu lenyap seketika.


"I-ini ..." ucap mereka terkejut dengan apa yang terjadi barusan.


Binatang-binatang itu benar-benar lenyap dalam satu kali serangan. Begitu pula dengan prajurit yang berada di bawah benteng tetapi tidak bisa melihat siapa yang menghabisi binatang-binatang spiritual itu.


"Siapa orang tadi? Metode yang begitu luar biasa ... Jangan-jangan seseorang dari tujuh keluarga besar?"


Setelah berhasil menyelesaikan masalah binatang spiritual, Qinli kembali ke tempat Nona Ling'Er di pusat Kota Feilong.


"Kelihatannya dampak dari gelombang binatang spiritual tidak besar, tidak tahu apakah mereka bertiga ada di Kota Feilong ini atau tidak ...." gumam Qinli.


Qinli masih memperhatikan ke sekelilingnya. Hingga sebuah suara yang sangat ia kenali mengusik pendengarannya.


"Keterlaluan!" teriaknya.


Di sana, Tetua Ketujuh sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang.


"Kami sudah mengutus dua prajurit Alam Langit, apa lagi yang kalian inginkan?" teriak Tetua Ketujuh.


Sedangkan di sisi lain, seorang lelaki tua yang merupakan Tetua Kedua dari Keluarga Wu sedang berbicara dengan Nona Mo Yao.


"Bukankah Sekte Bumi masih punya murid? Untuk apa bersembunyi di dalam rumah? Apa kalian tidak tahu di luar sana bermunculan banyak binatang spiritual?"


Nona Mo Yao tidak terima dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Tetua Kedua Keluarga Wu barusan.


"Murid kami yang paling hebat hanya berada di Alam Setengah Dewa! Kalau mengutus mereka melawan ratusan binatang spiritual level Alam Dewa, bukankah itu sama saja seperti bunuh diri!" ucapnya tidak terima.


Namun, Tetua Kedua Keluarga Wu masih saja tidak terima dan bersikeras menyalahkan Sekte Bumi.


"Kami semua sudah mengirimkan seluruh prajurit kami ke sana, hanya kalian Sekte Bumi yang cuma mengutus dua orang, apa kalian tidak malu?"


"Kau ...." ucap Nona Mo Yao tidak terima, namun tangan Tetua Ketujuh menghalanginya untuk berbicara banyak.


"Lalu, apa mau Tetua Wu?"

__ADS_1


"Kekuatan para prajutit kami jauh lebih lemah dari ratusan binatang spiritual level Alam Dewa itu, mereka perlu segera meningkatkan kultivasi mereka!"


"Dengar-dengar Tetua Xia punya banyak pil level tinggi!" ucapnya menyeringai.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Nona Mo Yao sudah mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya.


"Aku tahu dari awal kau pasti punya maksud tersembunyi! Ternyata kau menginginkan pil kami!" ucap Nona Mo Yao seolah marah.


Dengan wajah tanpa rasa bersalah, Tetua Kedua Keluarga Wu masih saja berkilah.


"Aku melakukannya demi Keamanan Kota Feilong! Apa kau ingin melawanku?"


Dari arah belakang Qinli sudah mendengar semuanya. Ia juga melihat bahwa ketiga lelaki itu sudah mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya untuk menyerang Nona Mo Yao dan Tetua Xia.


"Demi, keamanan Kota Feilong, kau menindas dan menekan dua wanita untuk dijadikan sebagai perisai!" gertak Qinli.


"Siapa itu?" ucap Tetua Kedua Keluarga Wu dengan ketakutan.


Kemudian beberapa saat Qinli benar-benar muncul di tengah-tengah mereka.


"Qinli ....!' teriak Nona Mo Yao dan Tetua Xia dengan mata berbinar.


Tetua Kedua Keluarga Wu masih saja menggertak. Bahkan kini ia menggertak Qinli yang baru saja datang.


"Ini adalah urusan kami dengan Sekte Bumi, orang luar tidak boleh ikut campur!"


Dengan santainya Qinli menanggapi kemarahan Tetua Kedua Keluarga Wu.


"Kau yang mencari masalah di Sekte Bumi, masih saja sombong dan menyebut kami orang luar?"


Sesaat kemudian, Tetua Xia mendekati Qinli dan memperkenalkan ia pada Tetua Kedua Keluarga Wu.


"Ini adalah Qinli, Tetua Sekte Bumi yang pernah aku ceritakan pada kalian!"


"Oh, Tetua? Ternyata kau adalah Tetua Sekte Bumi, menurutmu, apa yang harus kita lakukan mengenai kemunculan gelombang binatang spiritual?" tanya Tetua Kedua Keluarga Wu pada Qinli.


"Apanya gelombang binatang spiritual?" ucap Qinli santai.


Namun, di dalam hati Tetua Kedua ia mengatakan hal lain.


"Beraninya beberapa orang ini membuka sekte di sini? Sungguh konyol!" gumamnya benar-benar?meremehkan Qinli dan yang lainnya.


"Di mana gelombang binatang spiritualnya?"


"Sepertinya kau ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2