MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 82


__ADS_3

"Katanya sih mengundang, sebenarnya mereka ingin menguasai kami! Keluarga Wei sangat ambisius dan kali ini mereka akan mengambil tindakan!" ujar Jiangjun mencoba menerangkan.


"Bos, menurutmu, apakah kami harus pergi?" tanya Tuan Muda Xu mulai khawatir.


Dengan wajah sangat menyebalkan Qinli mengatakan sesuatu hal pada mereka. Kali ini memang posisi badan Qinli membelakangi mereka, agar mereka tak dapat melihat ekspresi sesungguhnya dari Qinli.


"Tentu saja harus pergi! Kita tidak bisa bersembunyi terus darinya!"


"Selain itu, mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan orang tuaku!" batin Qinli.


"Bos dan kepala Keluarga Wei berada di level master!" seru Jiangjun.


"Bagaimana jika mereka benar-benar berkelahi!" ucap Tuan Muda Xu sambil menoleh ke arah Jiangjun.


"Pertarungan Master sungguh menakutkan!"


Dengan wajah serius, Qinli mengatakan sesuatu.


"Masalah ini kita tetapkan begitu saja! Aku masih ada urusan lain, jadi tidak bisa menemani kalian."


"Kalau begitu, kami pamit, Bos!" ucap Tuan Muda Xu dan Jiangjun secara bersamaan.


"Sampai jumpa, Sobat!"


Qinli melambaikan tangan ke arah mereka. Lalu Qinli menutup pintu dengan sangat keras. Sesudah itu ia pun tersenyum mesum.


"Akhirnya mereka pergi juga!"


Di dalam kamar Qinli dan Qingyin. Saat ini Qinli sedang membaca buku bela diri di atas ranjang. Ia pun tak memakai atasan dan hanya mengenakan celana panjangnya saja. Hingga barisan roti sobek yang begitu menggoda terlihat sudah.


Wajah Qinli memang serius ketika membaca, tetapi ternyata panggilan mesra dari Qingyin berhasil mengalihkan perhatiannya.


"Suamiku, lihat, apakah baju tidurku ini bagus ...." ucap Qingyin mendayu-dayu.


Salah satu tangannya menyentuh wajah Qinli agar wajah Qinli melihat ke arahnya. Tentu saja rayuan maut dari istrinya membuat konsentrasi Qinli ambyar. Apalagi posisi Qingyin sangat menggoda. Lingerie yang dipakai Qingyin begitu transparan, hingga membuat setiap lekukan di tubuhnya terekspos sempurna.


Wajah Qinli memerah ketika memuji baju yang dipakai Qingyin.


"Ba ... bagus!" puji Qinli.


"Dasar!" batin Qingyin.


"Istriku! Aku datang!"


Qinli sudah bersiap untuk bertarung dengan istrinya di atas ranjang. Ia pun berhambur untuk memeluk Qingyin.


"Hosh ..." decitan suara halus dari Qingyin menggema di kamar itu.


Lain halnya dengan seorang dewi yang menghuni tubuh Qingyin. Ia terlihat gerah di dalam sana, akibat perbuatan sepasang suami istri itu.


"Menyebalkan!" rutuk sang dewi di dalam sana.


Semakin lama semakin membuatnya kegerahan, belum lagi peluh yang mengucur membasahi seluruh tubuh Dewi.


"Bocah tengik! Aku tidak akan ...."

__ADS_1


"Akh ..."


Tiba-tiba saja tubuh dewi itu terkulai akibat merasakan sensasi ni*** akibat pergulatan suami istri itu. Wajah dewi bahkan sudah memerah menahan sesuatu.


"Aku tidak akan melepasmu!" ucapnya sambil mengarahkan serangan ke arah Qinli yang membuat Qinli masuk kembali ke alam dewi itu.


SWISH ... BAM ....


Qinli jatuh terjerembab di sana, membuat Qinli kebingungan saat ini.


"Kenapa di moment yang sangat penting, aku malah berada di sini? Ini namanya mengacaukan situasi!" rutuk Qinli pada nasibnya.


Ia pun menoleh dan mendapati kemarahan sang dewi.


"Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Qinli kebingungan.


Bukannya menjawab, dewi itu bersiap untuk menyerang Qinli.


"Pergilah mati!"


...BOOM!...


Dewi benar-benar menyerang Qinli tanpa sebuah alasan yang jelas. Tentu saja Qinli berlari untuk menghindari serangan itu.


"Waduh!"


"Benar-benar wanita aneh! Bisa-bisanya menyerangku tanpa alasan!"


"Beraninya kau memarahiku! Berhenti!" teriak dewi itu begitu marah.


Qinli berhenti dan menoleh ke arah dewi itu, begitu pula dengan wajah dewi yang terkejut karena Qinli menuruti perkataannya.


Qinli berbalik sambil berkacak pinggang, menatap heran dewi itu.


"Ternyata kau bisa berbicara! Kenapa sebelumnya kau ...." ucapnya sambil menujuk ke arah dewi itu.


"Apakah bocah ini sudah menerobos level master? kalau tidak, dia tidak mungkin ...."


Qinli menjentikkan jari miliknya karena melihat dewi itu melamun.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Qinli.


Dewi itu tiba-tiba marah.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan barusan?"


Dewi itu gemetar.


"Barusan aku melakukan itu dengan Qingyin ... Apakah kau juga ..." tanya Qinli penasaran.


"Kau masih berani mengatakannya! Dasar tidak tahu malu!" ucap dewi itu.


Qinli lalu menangkupkan kedua tangannya untuk meminta maaf.


"Maaf, aku tidak bermaksud begitu."

__ADS_1


"Aku bukanlah tandingannya dan aku tidak berani bertindak sembarangan. Jika tidak, takutnya Qingyin ... aku harus memikirkan cara untuk kabur dari sini."


Qinli pun mendapatkan sebuah ide konyol. Sama seperti saat ia akan menyerang Qingyin tadi, kini ia bersiap untuk menghamburkan diri ke arah dewi itu. Tentu saja hal itu membuat dewi ketakutan.


"Ja ... jangan mendekat!" ucap dewi itu ketakutan.


Hingga ia pun jatuh terjerembab ke lantai.


"Kau benar-benar keterlaluan," rutuk dewi itu.


Dewi itu sudah mengangkat salah satu tangannya ke atas.


"Aura kaisar!" seru dewi itu sambil menyiapkan satu serangan lagi ke arah Qinli.


"Waduh!" ucap Qinli ketakutan.


...SWISH ... BOOM .......


Dewi itu kini terjatuh ke lantai, sementara Qinli sudah kembali ke kamarnya. Posisi Qinli masih sama seperti saat ia meninggalkan Qingyin tadi, posisinya masih berada di atas tubuh Qingyin.


"Akh ...."


"Kesadaranku akhirnya kembali. Hampir saja!"


"Kenapa kau melamun?" tanya Qingyin sambil menangkup wajah suaminya.


"Ti ... tidak apa-apa!" ucap Qinli.


Qinli segera mungkin merubah mimik wajahnya.


"Mungkin karena aku terlalu bersemangat!"


"Aneh! Aku merasa ada sebuah kekuatan yang memanggilku, aku merasakan kegembiraan luar biasa yang tak tertahankan!"


"Eh ..."


"Apa ini?" tanya Qinli keheranan.


...BOOM!...


Qinli ketarik kembali dan masuk ke alam dewi. Di depannya ada kitab itu yang sedang terbuka sehingga terlihat jelas isi dari kitap tersebut.


"Aura pedang kaisar surgawi."


"Bab 1. Metode pikiran tatanan surga."


Semua tulisan itu berebut masuk ke dalam otak Qinli, sehingga membuat kepala Qinli kesakitan."


"Arrgghhh ...."


Skill pertama, pilar kekuatan. Seorang laki-laki terlihat sedang melompati sebuah gunung di sana.


"Tidak disangka, begitu cepatnya sudah bisa skil pertama."


Ia pun teringat akan undangan dari Keluarga Wei.

__ADS_1


"Kelihatannya harus mempelajari


metode ini dalam beberapa hari ke depan agar aku lebih punya pegangan ketika ke rumah Keluarga Wei."


__ADS_2