MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 154


__ADS_3

Qinli terkejut karena ia tiba-tiba masuk ke dalam prasasti batu.


"Aku ... berada di dalam prasasti batu?" ucap Qinli terkejut.


Tiba-tiba saja terdengar suara kera kecil.


"Cit ... cit ... cit!"


Kera kecil itu rupanya membawakan sebuah bunga. Sementara lelaki yang ia datangi pingsan, tetapi kera kecil tersebut tidak tinggal diam. Ia tetap mencoba mencoba membangunkannya tetapi kesatria tersebut tidak juga bangun. Bahkan bunga yang ia bawa ia sentuhkan pada hidung kesatria tersebut.


"Cit ... cit ... cit!"


Di saat yang sama, datanglah beberapa laki-laki yang membawa pedang dan tiba-tiba menghunuskan pedang tersebut ke dada kera kecil tersebut.


"Cit!"


Kera kecil tersebut langsung muntah darah. Lalu beberapa lelaki di belakangnya membicarakan tentang kesatria tersebut.


"Si tua bangka itu sudah mati tapi masih saja meminta monyet ini untuk menjaga hutan obat."


"Namun, tidak ada yang bisa menghentikanku. Hutan obat ini akan menjadi milik kita!"


Lelaki itu menembus tubuh Qinli. Di saat yang sama Qinli baru menyadari jika saat ini ia berada di dalam ingatan kera raksasa api tersebut.


"Ternyata di sini adalah ingatan kera raksasa api!" gumam Qinli.


"Kita beruntung!" ucap mereka bersama.


Terlihat ketiganya sangat bahagia apalagi mereka bisa membawa beberapa tanaman obat keluar dari sana.


"Cit!"


Tiba-tiba saja kera kecil tersebut terbangun dan berubah menjadi kera raksasa api. Ia marah karena dengan sengaja orang-orang tersebut mengambil beberapa tanaman obat dengan sengaja.


...GROAR!...


Tentu saja ketiga orang itu terkejut dan ketakutan. Sesaat kemudian Qinli membuka mata dan kembali pada masa saat ini.


"Ternyata kau hanya ingin melindungi tanaman obat yang ada di sini."


Qinli kembali menyentuhkan telapak tangannya ke arah kera raksasa api tersebut.


"Tenang saja, kami tidak akan merusak tempat ini," ucap Qinli dengan lembut.


Mata kera raksasa api itu terbuka. Di dalam penglihatannya ia melihat kesatria yang dulu bersamanya sedang merangkul pundak Qinli dan tersenyum ke arahnya.


"Ughhh ...."


Kera raksasa api tersebut terharu. Lalu sesaat kemudian ia tersenyum dan dari dalam tubunya muncul eliksir api. Sementara tubuh kera tersebut lenyap.

__ADS_1


"Cit ... cit ... cit!"


"Ini eliksir api!" ucap Qinli terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Tanpa menunggu lama, eliksir api tersebut diterima dengan kedua tangannya. Sesaat kemudian Qingyin datang ke arah Qinli.


"Kenapa dia bersedia memberikan eliksirnya kepadamu?" tanya Qingyin heran.


"Aku juga tidak tahu. Namun, aku baru saja merasakan seperti punya hubungan dekat dengan kera raksasa api ini ...."


Nona Mo Yao juga telah berdiri di samping Qinli.


"Hei, jangan bercanda. Kera raksasa api adalah monster level dewa yang sudah hidup selama lebih dari ribuan tahun. Kau ini baru umur berapa?"


"Aku lihat tadi kau menggunakan trik mengelus kepalanya, bisa jadi dia adalah kera betina!" ujar Nona Mo Yao sambil menunjuk ke arah Qinli.


"Tutup mulutmu!" ucap Qinli tidak suka.


Qingyin terlihat bersedih, lalu ia teringat akan keadaan adiknya Chu Zitan.


"Oh iya, bagaimana keadaan adik?" tanya Qingyin.


Qinli melihat kekhawatiran istrinya.


"Aku baru saja mengeluarkannya dari cincin, aku akan memberinya pil dingsen."


Saat ketiganya sedang asyik berdiskusi, roh Hong Ming masih mengamatinya dan merasa tidak suka.


"Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku untuk mendapatkan tubuh Qinli!"


Saat Qinli hendak memasukkan pil dingshen ke mulut Chu Zitan, roh Hong Ming mencoba memasukinya. Kebetulan Nona Mo Yao melihatnya.


"Eh, ada seekor ulat masuk ke dalam tubuhmu!" teriaknya.


Dengan cepat Nona Mo Yao menangkap roh Hong Ming yang berwujud seekor ulat kecil.


"Lepaskan aku gadis kecil!" bentak roh Hong Ming.


"Waduh!" ucapnya jijik karena melihat ulat tersebut menggeliat di tangannya.


"Ulat ini bisa berbicara, menjijikkan sekali!" ucapnya sambil membuang roh Hong Ming tersebut.


Tidak di sangka ia membuangnya ke arah tubuh Chu Zitan.


"Tidak!" teriak roh Hong Ming tidak terima saat ia harus masuk ke dalam tubuh Chu Zitan.


Tiba-tiba Qinli menepuk bahu Nona Mo Yao.


"Apa yang kau buang? Kenapa tiba-tiba menghilang?"

__ADS_1


"Aku buang ulat aneh yang bisa berbicara! Menjijikkan sekali!" ucapnya sambil mengibaskan tangannya.


Tiba-tiba mata Chu Zitan membuka mata. Sorot matanya tajam, seolah ingin menghabisi semua orang. Namun, Qingyin mengira itu adiknya yang sudah siuman padahal bukan.


"Zitan, akhirnya kau sadar juga!"


Qinli yang merasa tidak beres segera menghalangi istri dan Nona Mo Yao agar tidak mendekati tubuh Chu Zitan yang sedang kerasukan roh Hong Ming.


Hong Ming yang mendapatkan tubuh baru merasa sangat bahagia. Ia bahkan mer-em-as kedua bukit kembar milik Chu Zitan.


"Sudah bertahun-tahun aku hidup, baru kali ini aku menjadi wanita."


"Tubuhnya lumayan bagus juga!"


"Hong Ming!" teriak Qinli.


Tentu saja Qingyin tidak suka akan hal itu.


"Dasar baji-ngan! Segera keluar dari tubuh adikku!" teriaknya.


"Keluar? Bersusah payah aku kembali hidup dan kau memintaku untuk pergi? Jangan harap!"


"Meski tidak mendapatkan tubuh Qinli, tapi tubuh ini lumayan berguna."


Lain lagi dengan ekspresi Nona Mo Yao.


"Dasar tua bangka mesum! Bisa-bisanya kau merasuki tubuh seorang gadis! Sungguh tidak tahu malu!"


"Barusan aku memegang tubuhmu, tanganku jadi kotor!" ucapnya sambil bergidik.


"Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!"


Seketika Hong Ming menjadi marah dan mencoba menyerang Nona Mo Yao dengan kekuatannya.


"Beraninya kau berkata seperti itu padaku!" teriak Hong Ming.


"Sepertinya kau sudah bosan hidup!"


Untung saja Qinli menghalau serangan Hong Ming tersebut.


"Kuperingatkan kau untuk terakhir kalinya, keluarlah dari tubuh Zitan!" teriak Qinli.


Dengan menyeringai Hong Ming menjawab ucapan Qinli.


"Baik! Sebagai gantinya, berikan tubuhmu padaku!"


...🌹Bersambung🌹...


.

__ADS_1


.


Maafkan keterlambatan update othor ya, karena kesibukan di dunia nyata jadi telat update 🙏


__ADS_2