
"Demi menyelamatkan Zitan, aku harus menahan kepahitan ini," ucap Qinli berpura-pura.
"Dasar!" ucap Qingyin sambil menyentil hidung suaminya.
Seminggu kemudian, Daratan Cermin.
Qinli sudah kembali mengunjungi daratan cermin, saat ini ia menunggangi naga emas miliknya untuk mencari barang berharga level sepuluh. Cuaca yang sangat cerah memudahkan ia melihat apa saja yang berada di bawah sana.
"Barang berharga level sepuluh ... mau dicari dimana?"
Sejenak Qinli melihat ke arah bawah.
"Hm, itu ...."
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mereka, benar-benar sebuah kebetulan ...."
Terlihat di di bawah sana ada dua orang prajurit yang saling bercakap-cakap membicarakan tentang barang berharga yang baru saja mereka dapatkan.
"Ha ha ... kau beruntung sekali, baru tiba di daratan cermin, kau sudah menemukan barang berharga yang lumayan bagus."
"Tidak, kok.”
"Pohon ini aku yang tanam!" seru salah seorang yang sedang menggendong sebuah karung.
"Jalan ini aku yang buka."
"Kalau mau melewatinya ...."
"Kalian harus bayar!" seru trio tikus.
Sontak saja kedua prajurit tadi ketakutan hingga menurunkan barang bawaan mereka.
"Pe-petarung alam hidup dan mati!" ucap mereka terkejut.
"Hari ini suasana hati kami lumayan baik dan kami tidak ingin menyakiti kalian. Cepat serahkan cincin dan barang berharga yang kalian miliki."
"Cincin ada di sini dan silakan ambil!" ucap Qinli dan salah seorang prajurit tadi.
Tanpa melihat salah seorang anggota trio kodok mengatakan, "Letakkan cincinnya di bawah dan pergilah!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Qinli menyapa trio kodok. "Hei, kalian bertiga apakabar?"
"Pria ini ... sedikit ... familiar," ucap mereka bertiga.
Sejenak mereka mengetahui jika itu adalah Qinli.
"Idiot! Itu Qinli!"
Saat ketiganya melihat naga bersisik emas, tentu saja mereka terkejut buka main.
"Te-tetua Qin!" ucap mereka serempak.
Seketika ketiganya berlutut meminta ampun pada Qinli.
"Tetua Qin, ini tidak ada hubungannya dengan kami."
"Kami terpaksa melakukannya."
"Mohon, ampuni kami!'
"Ada apa dengan mereka?" gumam Qinli sambil memandangi ketiga anggota trio kodok.
"Setelah bersembunyi selama berhari-hari dan baru saja keluar untuk merampok sudah mengalami mimpi buruk."
Kedua prajurit yang tadinya dirampok menerka-nerka siapa yang berdiri di hapdannya ini.
"Dia bilang tetua Qin? Jangan-jangan dia adalah Qinli dari Sekte Bumi?"
Seketika mereka berdua langsung berlutut pada Qinli. "Hormat, Master Qin."
Sontak saja Qinli menoleh ke arahnya, "Meski tidak tahu apa dengan mereka bertiga, tapi niat baik ini akan aku terima."
Di sisi gunung ada beberapa prajurit yang terlihat bertarung. Salah satu dari mereka melayang di angkasa.
"Berisik sekali! Matilah!"
Tentu saja para prajurit yang berada di bawah sangat ketakutan karena ucapan seorang ksatria yang berada di atas sana.
"Tidak! Ampuni kami!"
__ADS_1
"Tanganku hilang kendali!"
Dari sisi lain senilai bisa melihat jika kesehatan tersebut mengendalikan para prajurit yang berada di bawah dengan benang sutra miliknya.
"Mengendalikan tubuh mereka dengan benang sutra ...." gumam Qinli sambil membaca situasi.
Tidak tega dengan hal tersebut Qinli ikut campur ia mendekati para prajurit tersebut dan menggunakan kekuatannya untuk menyelamatkan mereka dari kekuatan benang sutra. Hanya dalam sekejap benang sutra mereka meledak hingga menimbulkan suara bergemuruh di langit.
"Siapa orang itu? Apakah dia yang telah menyelamatkan kita?"
Kesatria tersebut terkejut. "Pria ini ...."
Dalam sejenak kemudian ia justru tertawa terbahak-bahak. "Aku pikir pria hebat, ternyata cuma alam hidup dan mati."
"Gawat, aku pikir yang datang adalah penyelamat kita. Ternyata cuma alam hidup dan mati. Kali ini, bahkan nyawanya ikut terancam."
"Karena kau tidak tahu diri dan sudah memprovokasiku ...."
"Kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu," ucapnya sambil mengarahkan tangan kanannya yang berisi benang sutra ke arah Qinli.
...BAM...
Hanya dengan tangan kanan Qinli bisa menghentikan dan bahkan menggenggam serangan benang sutra tersebut.
"Dibandingkan dengan si waria itu ...." Qinli tampak menjeda kalimatnya.
"Bergumam apa kau, dasar bocah!"
"Beraninya kau mengataiku waria!" ucap kesatria itu dengan sangat marah.
Ksatria tersebut menggerakkan jari telunjuk sebelah kanan miliknya lalu tersenyum mengejek ke arah Qinli.
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan serangga sehebat ini."
"Masih ada orang lain di samping? Tidak ada niat jahat, seharusnya bukan musuh ...." gumam Qinli.
Melihat jika Qinli lengah maka ksatria tersebut segera mengeluarkan jurus selanjutnya.
"Matilah!"
__ADS_1