
Hari yang ditunggu telah tiba. Hari ini pertandingan seni bela diri akan dimulai di sini.
Di gerbang masuk, sudah ada barisan prajurit dari Sekte Sanhetang yang berjaga di sana. Lebih tepatnya ada Tuan Yu yang mempimpin barisan itu. Melihat kedatangan Qinli dan Jiangjun membuat dirinya murka.
"Jangan kira kau hebat jadi bisa berjalan-jalan sesuka hatimu!" gertak Tuan Yu ketika melihat kedatangan Qinli.
Masih dengan luka memar dan lebam di pipi sebelah kanannya, Tuan Yu seolah tidak kapok berhadapan dengan Qinli.
"Di sini adalah kompetisi bela diri dan ada banyak petarung master setengah langkah di dalam. Jika kau ingin mati, langsung katakan saja."
"Kami datang untuk bertanding!" ucap Qinli sambil menunjukkan kertas pendaftaran untuk dirinya yang menyatakan bahwa Qinli benar-benar adalah salah satu orang yang mau bertarung di sana.
"Ikut kompetisi? Kebetulan sekali! Aku ingin lihat seberapa parah kau akan dipukuli!" batin Tuan Yu sambil menyeringai.
Tiba-tiba mimik wajah Tuan Yu sudah berubah seolah baik-baik saja dan ramah dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam area kompetisi.
"Kalau begitu, masuklah!" ucapnya sambil tersenyum palsu.
Tetapi tatapan tidak suka tetap diberikan oleh Jiangjun pada Tuan Yu. Apalagi setelah perbuatannya kapan hari terhadap Wei Nuannuan membuat Jiangjun semakin tidak suka pada Tuan Yu.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, ia melihat dua bersaudara Liu terhempas ke hadapannya. Sepertinya dua prajurit kakak beradik dari Geng Serigala Langit itu tak mampu menghadapi kekuatan dari salah satu prajurit dari Sekte Sanhetang.
Lalu dari arah kejauhan terdengar teriakan dari para penonton.
"Sekte Sanhetang memang hebat!" teriak mereka.
...SWOOSH ... BRAK ... BANG!...
Dua bersaudara Liu itu benar-benar bukan lawan yang seimbang saat bertanding dengan prajurit dari Sekte Sanhetang. Kini terbukti dengan dikalahkannya dua bersaudara Liu dalam waktu yang cepat.
Melihat kedatangan Qinli, Kak Gao langsung menarik lengan Qinli agar ikut dengannya.
"Bro, akhirnya kau datang juga!" seru Kak Gao.
__ADS_1
Tetapi teriakan dari para penonton sedikit membuat Qinli jengah. Beruntung ia sudah meningkatkan kekuatannya sebelum ini.
"Kekuatan dua bersaudara Liu ini lumayan hebat, tapi tidak disangka kalah begitu cepat!" batin Qinli.
"Lihat, Geng Serigala Langit membawa kambing hitam lagi ke sini!"
"Beraninya prajurit kecil menantang Bos Wu!"
"Bos Wu adalah satu-satunya petarung hebat di Pulau Selatan ini."
Begitulah teriakan-teriakan yang terdengar ketika Qinli datang dan memasuki arena pertandingan.
"Anak muda, karena kau punya nyali besar, aku akan terima tantanganmu," ucap Bos Wu ketika berhadapan dengan Qinli.
"Eh? Apa tidak perlu menandatangani surat pembebasan pertangung-jawaban kematian?" tanya Qinli tiba-tiba.
Perkataan ringan dari Qinli membuat Bos Wu terkejut lalu setelahnya menertawakan perkataan Qinli barusan.
"Hahaha! Sudah bertahun-tahun, baru pertama kali aku bertemu orang yang berani mengajakku menandatangani surat pembebasan pertanggung-jawaban kematian."
"Bawa suratnya kemari!"
"Bocah, jika aku tidak bisa mengendalikan diriku dan memukulmu hingga mati, jangan salahkan aku, ya," ucap Bos Wu.
"Kau juga," ucap Qinli sambil tersenyum setelah memberikan cap jempolnya pada surat pembebasan pertanggung-jawaban kematian barusan.
"Dasar bocah arogan!"
Lalu Bos Wu mulai mengeluarkan kekuatannya, tapi belum sempat ia menyerang Qinli, Qinli sudah lebih dulu menyerang Bos Wu.
Satu pukulan dari Qinli mampu membuat Bos Wu muntah darah.
...WUSH ... BANG!...
__ADS_1
"Ba ... bagaimana mungkin!" batin Bos Wu.
Belum lagi Bos Wu menyerang, Qinli sudah menyerang kembali dengan satu pukulan mematikan yang membuatnya melambung hingga ke angkasa lalu kemudian terjatuh.
Tuan Yu yang sedang memegang sebuah gelas sembari menonton pertandingan itu, terkejut karena Qinli mampu mengalahkan Bos Wu. Gelas yang ia pegang pun akhirnya pecah karena kemarahannya.
...KRAK!...
"Apa?"
Dari sisi bangku penonton terlihat seorang wanita yang juga sangat kagum akan kehebatan Qinli.
"Kekuatan anak muda ini ...."
"Nona, apakah perlu ..." ucap pelayan yang berdiri di belakangnya.
"Tidak usah dulu ..." ucap wanita itu.
Melihat Bos Wu kalah, membuat kedua temannya marah dan berniat untuk menghabisi Qinli.
"Kakak besar, tenang saja, kami pasti akan membalaskan dendam untukmu!"
"Bocah tengik, beraninya membunuh kakak besarku, pergilah ke neraka!" teriak prajurit yang satunya.
Dengan tenangnya, Qinli malah bertanya pada kedua prajurit tersebut.
"Apakah kalian juga ingin menandatangani surat pembebasan pertanggung-jawaban kematian?" tanya Qinli.
Di dalam hati Qinli ia sangat bersyukur.
"Sejak aku masuk kemari, aku sudah merasakan kalau racun serangga yang ada di tubuh Qingyin persis dengan energi tubuh mereka, tidak salah lagi pasti mereka," seru Qinli dengan bahagia.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...