
Tiga hari kemudian, di Kediaman Kuno Keluarga Qin.
"Tidak disangka wanita yang berada dalam tubuh Qingyin itu berpura-pura sembuh diobati olehku agar aku tidak khawatir ...." gumam Qinli.
"Bagaimana keadaan Qingyin sekarang?" ucap Qinli sambil melirik ke arah istrinya yang sedang terbaring lemah.
Sesaat kemudian datanglah kedua orang tua Qinli. Lalu ia mulai berbagi keluh kesahnya pada kedua orang tuanya.
"Aku sudah membaca semua buku tentang obat-obatan dan sudah mencoba segala cara, tapi masih belum ada respon sedikit pun darinya."
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Ibunya Qinli.
Wajah Qinli terlihat suram, bahkan tidak ada semangat hidup.
"Sekarang, dia seperti orang cacat ...."
"Kalau ingin menyelamatkan Qingyin, sepertinya harus dimulai dari wanita yang ada di dalam tubuhnya itu."
Sesaat kemudian Ibu Qinli mengingat sesuatu.
"Oh, iya! Dengar-dengar dari Zitan kalian bertemu dengan seseorang yang berpakaian kuno di relix kuno, apa itu benar?"
"Iya," ucap Qinli.
Lalu Ibu Qinli mulai menjelaskan sesuatu sesuai pandangannya.
"Kelihatannya selain dunia kita ini, masih ada orang lain yang hidup di alam semesta paralel."
"Pantas saja ...." ucapan Ibu Qinli terhenti.
__ADS_1
"Pantas saja apa?" tanya Ayah Qinli mulai penasaran.
"Aku tidak pernah menceritakannya padamu. Ketika aku mengandung Qinli, aku sering memimpikan ada pembunuhan berencana yang dilakukan oleh orang banyak kepada seorang lelaki kuno, dan lelaki itu mati."
"Lelaki itu mirip sekali dengan Qinli yang sekarang, jadi aku kira Qinli adalah dia saat terbangun tadi."
Qinli terkejut akan ucapan Ibunya barusan, lalu ia mulai merencanakan sesuatu kembali.
"Sepertinya aku harus pergi ke alam semesta itu lagi."
Entah dari mana kedua gadis itu (Chu Zitan dan Nona Mo Yao) muncul di hadapan Qinli. Dengan tersenyum lebar mereka mendekati mereka.
"Kakak ipar, aku juga mau ikut!" ucap Zitan.
Nona Mo Yao juga ikut-ikutan mengangkat tangan, "Aku juga."
Nona Mo Yao menatap tajam ke arah Zitan.
"Kau ini tidak berguna dan hanya akan menjadi hambatan untuk kami jika membawamu pergi!"
Zitan yang merasa terhina tentu saja tidak terima.
"Siapa yang menjadi penghambat, masih belum tentu!"
Kedua gadis itu saling memancarkan aura permusuhan satu sama lain, menatap penuh amarah hingga membuat kedua orang tua Qinli dan Qinli menjadi kebingungan akan tingkah mereka yang seperti anak kecil.
Sesaat kemudian Qinli pun angkat bicara.
"Memangnya kalian kira aku pergi bertamasya?"
__ADS_1
"Terlebih lagi, semesta itu sangat berbahaya ...." terang Qinli kemudian.
Nona Mo Yao memainkan pisau belati yang runcing miliknya sambil berkata, "Memangnya kau pikir aku suka dengan kehidupan yang damai?"
Chu Zitan tidak mau kalah di sini, ia mulai meyakinkan Qinli dengan pendapatnya.
"Sebelumnya, kakak ipar sudah banyak berkorban untukku, sekarang giliranku membantunya!" ucapnya penuh semangat.
Obrolan mereka dikejutkan dengan kedatangan tamu istimewa dari arah pintu.
"Jangan melupakanku!"
"Tetua Xia?"
Qinli menghela nafas panjangnya, "Baiklah! Tidak ada gunanya juga aku berbicara banyak kalau begini."
"Dalam beberapa hari ini, aku akan membantu kalian meningkatkan kekuatan kalian."
Sontak saja kedua gadis yang tadi bertengkar menjadi bertos ria karena mendengar ucapan Qinli barusan.
"Yeay!" ucap mereka senang.
"Kelihatannya ini saatnya aku menggunakan pil yang kuracik di relix kuno saat itu."
.
.
Nantikan lanjutannya hari ini ya.
__ADS_1